DSCN0972[1] (1)

Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo mengajak para buruh Katolik untuk meneladani sosok Santo Yosep Pekerja yang senantiasa tekun, setia dan tidak berpikir yang aneh-aneh, ayah yang membesarkan Yesus, anaknya, dengan penuh cinta, sosok yang menjadi pelindung buruh atau pekerja di seluruh dunia.

Uskup Suharyo berbicara dalam homili Ekaristi Kudus, pada pesta Santo Yosep Pekerja, 1 Mei 2015, Hari Buruh Internasional (May Day), di gereja Paroki Hati Santa Perawan Maria Tak Bernoda (HSPMTB) Tangerang. Sekitar 1200 buruh atau pekerja pabrik dari sejumlah paroki di Tangerang menghadiri Misa yang dipimpin Uskup Agung Jakarta itu, bersama konselebran moderator buruh yang juga Kepala Paroki HSPMTB, Pastor Yohanes Wartaya Winangun SJ, dan 12 imam dari Dekenat Tangerang.

Santo Yosep Pekerja yang tulus hati, menurut Mgr Suharyo, bekerja keras dan tekun sebagai tukang kayu yang saleh. “Oleh karena kesetiaan dan ketekunan dalam pekerjaan, ia dipilih sebagai pelindung pekerja (buruh) di seluruh dunia,” kata uskup yang juga Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).

Mgr Suharyo juga menguraikan tiga makna kerja dalam kehidupan manusia. “Pertama, untuk mencari nafkah bagi kehidupan umat manusia, baik secara pribadi maupun dalam keluarga sendiri. Kedua,   aktualisasi diri untuk mewujudkan cita-cita. Makna kedua ini dinilai ‘rawan’ karena bagi kebanyakan orang ini terlalu sulit, karena harus mewujudkan cita-cita di tengah banyak rintangan. Maka boleh jadi muncul reaksi menerima dan menolak. Ketiga, untuk mewujudkan kerajaan Allah di dunia.”

Belajar dari kesetiaan Abraham yang rela mempersembahkan anak satu-satunya kepala Allah, serta ketaatan dan kesetiaan Bunda Maria dan Yosep kepada Allah, Mgr Suharyo mengajak para pekerja untuk setia dan taat meskipun bayak tantangan. “Bila kita bekerja tekun dan setia pada pekerjaan, Allah pasti memenuhi janji-Nya kepada setiap orang, yakni kebahagiaan dan kegembiraan,” kata Mgr Suharyo.

Uskup Suharyo percaya, pekerja yang tekun pasti meraih kebahagiaan seperti yang dicita-citakan. “Allah telah memulai karya yang baik maka Ia akan menyelesaikan pekerjaan itu secara baik pula,” kata uskup seraya menyitir surat Paulus.

Seusai Misa, para buruh mendengarkan masukan dari sejumlah nara sumber termasuk dari mantan buruh Antonius Irianto, Mgr Suharyo, Yohanes Wartaya, dan Ketua Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Keuskupan Agung Jakarta dan Direktur LDD Pastor Justinus Sigit Prasadja SJ.

Belajar dari pergulatan hidup dan kepahitan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), Irianto bercerita bagaimana dia berusaha keras dan membuka usaha sendiri, bahkan memiliki sejumlah karyawan di bidang  garmen. Mantan buruh garmen di Jakarta itu kemudian membuka usaha jahit bahkan sejumlah pekerjanya membuka usaha dan sangat maju di Serang, Banten.

Kegiatan May Day di Dekenat  Tangerang diisi berbagai kegiatan. Selama bulan April 2015, dilaksanakan pameran yang menampilkan hasil kegiatan bernilai ekonomis.

Pastor Yohanes Wartaya SJ menegaskan, Hari Buruh Internasional setiap tahun akan diisi dengan Ekaristi secara bergantian di paroki-paroki Dekenat Tangerang. Menurut rencana, Misa May Day tahun 2016  akan dirayakan di Paroki Santa Helena Curug, 2017 di Paroki Santo Agustinus Karawaci, dan 2018 di Paroki Gregorius Kuta Bumi. (Konradus R Mangu)

DSCN0992[1]

Tinggalkan Pesan