DSCN0947

Pastor Prof Dr Paul Suparno SJ mengatakan guru-guru Katolik harus menjadi ‘garam’ dan ‘terang’ dalam dunia pendidikan saat ini. “Artinya, dalam menjalankan tugas pengabdian, guru harus sungguh-sungguh memberi perhatian dan membantu siswa berkembang secara akademik, serta membantu siswa untuk memiliki karakter yang baik dalam keluarga dan masyarakat.”

Pengajar dan mantan Rektor Universitas Katolik (Unika) Sanata Dharma Yogyakarta itu berbicara di hadapan lebih dari 200 guru Katolik dari Dekenat Tangerang yang menghadiri seminar sehari di aula Santa Maria dari Paroki Hati Santa Perawan Maria Tak Bernoda Tangerang, 26 April 2015.

Wujud garam dan terang dalam kehidupan para guru, jelas Pastor Paul, adalah membantu siswa secara akademik, menumbuhkan karakter, membantu sosialitas anak, menjadi teladan hidup bagi peserta didik. “Yang tidak kalah penting adalah menjadi model di lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat,” kata biarawan Serikat Yesus itu.

Meskipun demikian, Pastor Paul menyadari ada banyak tantangan bagi para guru Katolik. “Satu di antaranya adalah rendahnya daya juang yang dimiliki siswa-siswi, akibat perkembangan ilmu dan teknologi, budaya konsumerisme dan hedonisme.”

Sebagai dosen, imam itu juga mengamati rendahnya daya juang mahasiswa-mahasiswi. Salah satu riset yang meneliti peran mahasiswa sebagai penyambung pembangunan menunjukkan hal yang sangat memprihatinkan, jelas Guru Besar Unika Sanata Dharma itu.

Menyadari bahwa guru harus senantiasa meningkatkan daya juang siswa, imam itu menegaskan bahwa “guru bukan hanya sekedar profesi untuk mencari uang, tapi sesungguhnya suatu panggilan hidup, yang diberikan oleh Tuhan, untuk terlibat dalam pembinaan dan kemajuan generasi muda.”

Kalau profesi guru hanya dijalankan dengan orientasi mencari uang, maka “bisa berujung pada frustrasi,” lanjut Pastor Paul yang mengajak para guru untuk menghayati bahwa Yesus pun, seperti tertulis dalam Yoh 15:9-17, menjadikan murid dan semua orang menjadi sahabat-sahabat-Nya.

Ciri-ciri pekerjaan sebagai panggilan hidup, jelas imam itu, adalah mengembangkan dan menyempurnakan hidup orang lain. “Guru yang setia melakukan hal itu praktis merasa bahagia dengan tugas panggilannya.”

Kalau orangtua siswa hanya mementingkan nilai kognitif, seperti yang ditanyakan seorang peserta, Pastor Paul menegaskan bahwa guru perlu memberi pengertian bahwa aspek hidup anak yang dinilai bukan hanya nilai kognitif melainkan sosial, religius, estetika dan moral anak itu sendiri. “Pendidikan zaman ini harus membantu anak mengambil keputusan sendiri,” tegas imam itu.

Dalam wawancara dengan PEN@ Katolik, Pastor Paul mengakui iman anak-anak Katolik saat ini masih sangat memprihatinkan dan perlu terus diusahakan. “Di lembaga-lembaga sekolah tertentu, masih ada diskriminasi yang sangat kuat. Salah satu indikator adalah sejumlah murid yang berpindah keyakinan, meskipun itu hak paling asasi bagi seorang pribadi.”

Untuk mengatasi hal itu, Pastor Paul berharap agar hirarki terus menghimpun guru-guru Katolik dalam kegiatan seperti seminar hari itu. “Perjumpaan para guru Katolik yang bekerja di sekolah negeri dan swasta akan mengatasi kesulitan yang mungkin dialami sekolah-sekolah lain.”

Drs Sergius Kelang yang mengajar di sekolah non-Katolik mengatakan, para guru yang mengabdi di sekolah non-Katolik perlu disapa juga oleh Gereja. “Selama ini, ada banyak guru yang perlu dihimpun guna meningkatkan semangat siswa-siswi yang bersekolah di sekolah non-Katolik,” tegasnya. (Konradus R Mangu)

DSCN0956

 

1 komentar

  1. saya seorang guru beragama Katolik.karna semangat menjadi garam dan terang itu,saya menerima kenyataan diberhentikan dengan hormat oleh yayasan yang non katolik.jangankan gaji,sertifikasi saya juga saya tinggalkan.yang aneh adalah keseknya katolik, tapi semangat tdk seperti itu.karna saya menunjukkan kesalahan sebuah program(raport) yang digunakan salah yang mengakibatkan raport itu tidak saya bagi ke Orang tua Siswa malah diganjar SP.saya tidak terima sp itu dengan harapan yayasan itu mencari jalan terbaik untuk perbaikan justru memberhentikan dengan hormat (istilahnya saya mengundurkan diri d an diberi pesangon secukupnya).sekarang pusing cari kerja.usia sudah tua.
    Seminar-seminar seperti ini banyak menyoroti pembekalan terhadap Guru(semua datang dari guru).tapi keadaan seperti itu terkadang menimbulkan dilema bagi pribadi(guru) yang bersangkutan.Banyak segi harus dibenahi bersama.sinergi antara penyelenggara pendidikan dan guru harus bersifat menyeluruh.tidak boleh terjadi dikotomi dalam sistem pendidikan.Kita kebanyakan melihat buah dari pohon tanpa perduli perakarannya.
    Lembaga pendidikan(swasta)kebanyakan mencari siswa bukan karna pertama ingin membentuk karakter,tapi bagaimana lembaga itu mencukupi kebutuhannya.seharusnya tidak demikian karena keduanya dapat sejalan.Semua Orang yang kita jumpai adalah guru,tanpa harus menempatkan mereka pada situasi dan tempat yang salah.semua orang harus mengambil peran yang hakiki dalam mengubah keadaan yang telah rusak.kita butuh kasih untuk memberi.tidak semua pemberian karna kasih karna kasih butuh pengorbanan.maukah kita berkorban untuk berubah lebih baik?

Tinggalkan Pesan