Robini2

Permenungan tentang Thomas Aquinas

Oleh Pastor Johanes Robini Marianto OP

“The saint is a medicine because he is an antidote. Indeed is the why the Saint is often a martyr; he is mistaken for a poison because he is an antitode….

“A saint is not what people want but rather what people need…”
(G.K. Chesterton, Saint Thomas Aquinas and Saint Francis of Asisi, San Franscisco: Ignatius Press, 1986, hal. 22)

Kedua kalimat dari Chesterton pengarang besar Inggris abad XX membuka pembicaraan kita mengenai Thomas Aquinas. Kedua kalimat yang dikutip ini juga membuat kita mencoba mengerti Thomas Aquinas dengan melihat latar belakang sejarah abad itu. Dikatakan oleh Chesterton bahwa pembaharuan yang dihasilkan dari kedua Ordo Mendikan (Fransiskan dan Dominikan) adalah sebuah reformasi. Ordo Mendikan adalah ordo religius yang bergantung penuh pada bantuan, sumbangan atau pemberian dari pihak-pihak lain dalam menjalankan kelangsungan kehidupannya.

Kedua gerakan Ordo Mendikan adalah sebuah perkembangan tradisi Kristen sendiri: “menarik keluar” semua kemungkinan-kemungkinan yang ada di dalam potensi kekristenan dalam perkembangan yang penuh. Tendensi humanisme dan natural (kodratiah) merupakan perkembangan dari dogma di atas segala dogma yaitu inkarnasi (menurut Chesterton). Maka kedua gerakan Ordo Mendikan adalah mengingatkan kembali arti inkarnasi di dalam hidup kekristenan. Di dalam kasus St Thomas Aquinas adalah usaha mendamaikan iman dan akal budi.

Dengan gamblang Chesterton mengatakan: “Thomas Aquinas adalah pribadi yang mendamaikan akal budi dengan iman dan mengembangkan lebih lanjut dengan mengatakan ilmu pengetahuan alam yang berdasarkan fakta-fakta empiris adalah sangat penting. Di situ indera manusia adalah jendela jiwa (baca: akal budi) yang mempunyai hak dari yang ilahi untuk menenggelamkan diri pada fakta-fakta dan di lain pihak adalah urusan dan hak iman untuk menyibukkan diri dengan pemikiran atau filsafat yang paling kafir sekalipun (baca: anti Tuhan).” (G.K. Chesterton, Ibid, hal. 30-31).

Di dalam pengalaman dua Ordo Mendikan ini kelihatan bahwa untuk menjadi humanis (baca: pencinta kemanusiaan) seseorang tidak perlu menolak Allah dan sebaliknya mencoba untuk memperlihatkan kemanusiaan Allah adalah bukanlah sebuah berhala. Persoalannya iman Kristen dengan jelas memperlihatkan bahwa Allah menjadi manusia adalah iman yang baik memperjuangkan kemanusiaan maupun memperlihatkan arti kemanusiaan sebenarnya. Akibatnya di sini kelihatan bahwa mengakui kemanusiaan dan dunia ini adalah sebuah bagian dari iman dan memperjuangkan kemanusiaan (bahkan dunia nyata ciptaan) adalah bagian dari Teologi.

Kita akan mengerti ketika Thomas mengembalikan sebuah bagian kepercayaan Kristen yang sering dilupakan karena terlalu menekankan sisi spiritual (jiwa) di dalam penyelamatan yaitu Penciptaan.

Hal yang diperlihatkan di sini adalah manusia akan menjadi lebih beriman (baca: ortodoksi/iman yang benar) apabila mereka berani menghargai alam dan kekuatan intelek dan sebaliknya mereka akan menjadi kurang beriman dengan tidak menghargai alam dan kekuatan akal budi. Dengan begitu kelihatan bahwa kedua Ordo Mendikan sebenarnya menghargai ciptaan nyata (tubuh dan roh), terutama kebertubuhan (physical world/matter), karena iman akan kebangkitan (badan). Percaya sebagai seorang Kristen berarti percaya bahwa keilahian telah masuk ke dalam dunia nyata bahkan tubuh (baca: inkarnasi) dan dunia inderawi (baca: empiris yang nantinya berguna untuk Ilmu Pengetahuan Empiris, baik Ilmu Sosial maupun Ilmu Alam). Anak Tukang Kayu Yosef adalah bukti bahwa kenyataan ciptaan yang dianggap rendah sebelumnya (baca: tubuh) oleh Filsafat Platonis (yang mengagungkan jiwa dan dunia rohani saja) justru adalah perantara antara surga dan dunia.

Justru dengan berani secara terbuka mewartakan kepada khalayak ramai iman Kristen yang sering dilupakan di jaman itu mereka menjadi “musuh” kebanyakan orang di jamannya yang idenya berseberangan dengan mereka. Kedua Ordo Mendikan menciptakan sebuah revolusi yang sangat menjangkau banyak orang (massa kebanyakan) tetapi ditentang bahkan dimusuhi oleh kebanyakan pihak juga. Bahasa Chesterton adalah demikian “In short, St. Dominic and St. Francis created a revolution, quite as popular and unpopular as the French Revolution.” (G.K. Chesterton, Ibid, hal. 43). Apa yang kurang populer di jaman Thomas Aquinas? Filsafat Aristoteles!

Common sense

Apakah yang menjadi masalah ketika Filsafat Aristoteles diperkenalkan kepada khalayak publik di jaman Thomas Aquinas? Hampir berabad-abad kekristenan selalu berpikir bahwa Platonisme (intinya: mengagungkan sisi rohani belaka manusia) adalah satu-satunya cara di dalam menjelaskan Kekristenan. Sampai hari ini kalau seseorang ditanya “Apa yang terjadi pada manusia setelah dia meninggal pasti jawabannya adalah jiwanya yang kekal tanpa ingat arti kebangkitan badan.”

Chesterton sekali lagi mengatakan dengan tepat demikian: “St Thomas, every bit as much as St. Francis, felt subconciously that the hold of people was sliping on the solid Catholic Doctrine and discipline, worn smooth by more than a thousand years of routine; and that faith needed to be shown under new light and dealt with another angle. But he had no motive except the desire to make it popular for the salvation of the people. It was true, broadly speaking, that for sometimes past it had been too Platonist to be popular. It needed something like the shrewd and homely touch of Aristotle to turn again into a religion of common sense.” (G.K. Chesterton, Ibid, hal. 77).

Lalu apa yang menjadi masalah dengan Platonisme?

Chesterton mengatakan sekali lagi bahwa Platonisme membuat abstraksi sampai sedetil-detilnya dan melupakan kenyataan yang senyata-nyatanya dan melupakan yang dasariah yaitu inkarnasi (baca: kebertubuhan). Platonisme percaya bahwa Putera adalah logos (baca: abstraksi) tetapi melupakan Putera adalah Sang Sabda (baca: logos) yang menjadi daging. Kekristenan selama berabad-abad mengingkari kebertubuhan dan jatuh pada aksetisme yang tidak seimbang. Yang lebih jauh lagi, menurut Chesterton, adalah kekristenan terlalu konsentrasi pada Allah yang menebus (bahkan hanya jiwa manusia saja) dan melupakan Allah yang menebus juga adalah Allah yang menciptakan (kenyataan material duniawi) (Allah Pencipta).

Dunia dan isinya yang nyata adalah ciptaan Tuhan dan semua baik adanya. Maka kembali kepada Aristoteles sebenarnya adalah kehebatan Thomas untuk melihat bahwa itu bisa membantu mengembalikan apa yang terlupakan yaitu iman akan inkarnasi, penciptaan dan bahkan kebangkitan (badan). Dunia bukanlah ilusi; tubuh dan realitas materi bukanlah sia-sia dan manusia bukanlah “jiwa yang terpenjara di dalam tubuh.” Manusia adalah kenyataan beserta ciptaan lainnya. Inilah common sense!

Kemunculan Aristoteles membuat Thomas harus bisa di satu pihak menyakinkan khalayak publik akan nilai Filsafat Aritoteles; bahkan disebut Chesterton usaha “membaptis Aristoteles” (G.K. Chesterton, Ibid, hal. 81) dan di lain pihak Thomas harus menolak logika “dualisme kebenaran” akibat terlalu mengagungkan Aristoteles yang simbolkan oleh Siger dari Brabant (sekarang daerah Belgia).

Siger dari Brabant mengatakan di dunia ini ada dua kebenaran yang bisa saja bertentangan yaitu kebenaran iman dan kebenaran ilmu pengetahuan. Baginya kedua kebenaran bisa saling konflik: apa yang benar di ilmu pengetahuan bisa saja lain denga kebenaran iman. Di balik itu semua ada dua asumsi: (a) ada dua jenis kebenaran dan (b) pemisahan iman dan akal budi. Thomas percaya bukan pada dua (jenis) kebenaran tetapi pada dua cara untuk melihat kebenaran yang satu dan sama dan keduanya tidak akan saling bertentangan. Kenapa? Karena kebenaran hanya satu dan semuanya kembali kepada Allah (baca: iman). Demikian pula akal budi bisa sampai pada kebenaran yang tertinggi, tentu diterangi wahyu, yaitu iman.

Mengatakan akal budi manusia tidak bisa mengerti/memahami wahyu adalah sebuah kebiri yang paling parah dan inilah yang dikatakan Johanes Paulus II sebagai “False modesty” di dalam Ensikliknya Fides et Ratio. Untuk itulah Thomas Aquinas mencoba untuk menghancurkan logika yang salah dari Siger dari Brabant.

Berbarengan dengan apa yang dikatakan di atas hal lain yang menarik untuk direnungkan adalah apa yang disebut Manikeisme. Manikeisme percaya bahwa yang jahat itu selalu hadir pada kodrat atau kodrat itu jahat. Akibatnya kejahatan selalu harus ada dalam dunia tercipta. Logikanya adalah: kejahatan dan kebaikkan sama haknya untuk berada di muka bumi. Bahkan ada yang lebih jauh lagi mengatakan setan itu sama derajatnya dengan kebaikkan dan punya hak atas ciptaan. Di sinilah Thomas tidak menerima argumen tersebut dengan kembali pada iman bahwa “Segala sesuatu yang diciptakan adalah baik adanya.”

Pernyataan Thomas ini adalah pujian bagi Tuhan Pencipta. Kalau dilihat demikian maka kisah manusia bukan pertama kejatuhan. Kejatuhan adalah kondisi konkret di dalam sebuah tata ciptaan di mana semua diciptakan baik adanya. Di dunia ini yang ada hanyalah motivasi jahat terhadap yang baik. Tidak ada hal yang jahat melainkan menggunakan secara jahat dengan motivasi yang jahat. Iman akan kejatuhan bukanlah kata akhir. Maka apa yang diperjuangkan Thomas Aquinas adalah “YES to life!”

Chesterton mencoba akhirnya merangkul tiga pencapaian Thomas dalam hal ini. Pertama, percaya bahwa iman yang benar (ortodoksi) menyelesaikan banyak hal bahkan semua hal: ortodoksi menghancurkan kesesatan dan kesalahpahaman. Kedua, apa yang disebut common sense (kenyataan pengalaman sehari hari) itu nyata dan punya arti bagi pencaharian lebih lanjut. Ketiga, dunia kenyataan (tubuh, fisik dan materi) punya arti karena bagian dari Penciptaan. “Melihat untuk percaya” bukan keinginan yang konyol melainkan menjadi dasar akan keyakinan yang lebih dalam minimal sebagai hasrat!

Arti filsafat Thomas Aquinas

Thomas, menurut Chesterton, mengatakan bahwa untuk mengerti manusia kita harus bicara tentang Allah. Dengan kata lain Antropologi sejati harus mempunyai kaitan dengan Teologi. Thomas Aquinas membawa kita sangat realistis bahwa indera (senses) adalah jendela pengetahuan. Banyak pihak yang menamakan diri empiris dan materialis selalu mengatakan semua hal diketahui sejauh ditangkap oleh indera manusia. Di dalam hal ini Thomas setuju bahwa permulaan pengetahuan adalah indera (conversio ad phantasma). Banyak pihak yang menamakan dirinya empiris mengatakan ada realitas (kenyataan) yang tidak dapat diketahui (baca: Allah, makna hidup) maka mereka tidak perlu kita persoalakan bahkan tidak ada. Padahal, menurut Thomas, yang tidak bisa kita kenal dari indera bukan tidak bisa kita ketahui. Yang Tidak Kenal (baca: Allah dan hal rohani) adalah arti utama dan terdalam, bahkan Chesterton mengatakan “apa yang dikatakan tidak bisa diketahui (melalui persepsi indera) sebenarnya yang seharusnya diketahui manusia! Manusia perlu tahu apakah dia itu sempurna atau tidak, bertanggung jawab atau tidak, kekal atau tidak, ditentukan sejak awal hancur atau kebebasan dimiliki manusia; bukan demi mengerti Tuhan tetapi demi mengerti manusia.” Dengan kata lain: kita ingin mengenal Tuhan karena ingin mengenal manusia. Ini sama saja dengan ungkapan Agustinus yang mengatakan “Noverem Me; Noverem Te et vice versa” (artinya: mengenal aku akhirnya menemukan Dikau ya Tuhan dan sebaliknya).

Yang tidak kalah menarik adalah pernyataan Chesterton bahwa ada pengingkaran akan kebebasan manusia. Manusia itu bebas atau tidak? Jawaban manusia modern, yang merupakan Filsafat Abad XIX, adalah manusia harus merasa diri bebas tanpa perlu tahu dia sungguh bebas atau tidak. Ini sama saja mengatakan kita pura-pura bebas meski kita tidak bebas. Maka dari itu bukannya ini adalah sebuah pengingkaran akan kenyataan manusia yang terdalam? Itulah sebabnya tema ini membawa kepada pernyataan Chesterton lagi bahwa Thomas selalu mulai dengan kenyataan “Ada sesuatu!” (Ens in quantum ens).

Pernyataan positif akan kenyataan hidup ini lepas dari mengetahui esensi sesuatu. Saya tahu bunga itu ada meski pun saya belum tahu bunga itu apa! Dari afirmasi akan adanya kenyataan yang merupakan fakta kita baru bisa mengatakan di saat yang sama “yang ada tidak mungkin tidak ada” (prinsip non-kontradiksi). Itulah sebabnya dari afirmasi akan kenyataan kita bisa tahu sesuatu itu benar atau salah!

Di sinilah kita mengerti Thomas Aquinas membantu kita untuk mengerti relasi yang tepat antara akal budi kita dengan kenyataan di luar kita. Ada dunia yang obyektif di luar kita. Kenyataan itu ada tanpa tergantung kita mengetahui dan mengenalnya atau tidak. Kenyataan itu bukan karena kita bercermin pada akal budi (baca: semata-mata pikiran kita adalah kenyataan) melainkan kenyataan dan pikiran kita terlepas satu sama lain. Akal budi kita adalah pelayan (abdi) karena hanya menjawab panggilan kenyataan yang telah ada di depan mata kita; entah kita mengakui atau tidak. Akal budi dan pikiran kita haruslah bagaikan jendela atau pintu yang terbuka di mana kenyataan obyektif menampakkan diri. Akal budi kita menjadi punya arti justru karena kita menyadari bahwa kita selalu butuh terbuka akan kenyataan yang di hadapan kita secara obyektif dan bukan mengingkarinya. Kita diajar untuk terbuka dan selalu belajar (studi) dan justru di situlah akal budi yang awalnya sebagai pelayan kini menjadi “raja” yang menguasai segalanya.

Iman dan Akal Budi

Ordo Dominikan adalah ordo pertama dan bahkan satu-satunya yang melihat studi adalah bagian spiritualitas. Banyak atau hampir semua melihat studi sebagai bagian kerasulan atau persiapan kerasulan. Dominikan melihat studi sebagai jalan kesucian. Mengapa? Karena studi membantu mengangkat jiwa kita ke hal hal yang mulia; apalagi studi ilmu suci Teologi. Studi adalah lectio divina atau kontemplasi akan hal hal ilahi. Di dalam studi kita bertemu dengan kebenaran yang tidak lain adalah Tuhan sendiri.

Thomas Aquinas yakin akan kekuatan akal budi (reason) dan yakin bahwa akal budi, meski mulai dengan persepsi inderawi, melalui kejujuran intelektual akan sampai pada Tuhan: minimal pengakuan eksistensi akan Tuhan dan realitas imaterial manusia (mis. Kebebasan, makna hidup, keabadian dll). Akal budi mencapai kepenuhan potensi perkembangannya di dalam Teologi (baca: bicara tentang Tuhan). Maka Thomas yakin meski intelek memulai peziarahannya mencari kebenaran dengan persepsi inderawi, namun pada akhirnya akan sampai pada Tuhan. Tuhan adalah makna terdalam dan fondasi kebebaran tata tercipta lainnya. Tanpa Tuhan maka ciptaan dan kebenaran akan ciptaan adalah chaos. Di dalam Sang Kebenaran kebenaran-kebenaran ciptaan mendapatkan pendasarannya. Allah Pencipta adalah kebenaran utama dan sejati dan ciptaan lainnya bersifat partisipasi.

Satu hal yang diyakini Thomas juga adalah peranan iluminasi atau pencerahan Roh Kudus. Roh kebenaran akan memimpin semua orang kepada kebenaran. Maka akal budi dan wahyu bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Wahyu membawa manusia melampaui keterbatasannya. Kodrat disempurnakan dan bukan dihancurkan! Maka iman bukanlah penghancuran akal budi melainkan karunia yang mengembangkan akal budi sedalam dalamnya. Iman membuat akal budi berkembang sampai potensi yang melampaui keterbatasan kodratinya.

Itulah sebabnya Yohanes Paulus II di dalam ensiklik FIDES ET RATIO mengingatkan manusia modern, yang merupakan echo ajaran Thomas Aquinas, bahwa kerendahan hati sejati justru membawa pengakuan akan adanya Tuhan dan bukan mengingkarinya! False intellectual modesty, kata Yohanes Paulus II, justru mengingkari kenyataan ini. Maka bagi kita Dominikan berbicara tentang Tuhan adalah kerendahan hati malah! Kita mengakui bahwa kodrat tidak mungkin terbatas di dalam dirinya karena kodrat diciptakan untuk dimahkotai rahmat. Berbicara tentang Tuhan menjadi pewartaan. Untuk itulah kita dipanggil dan diberi karunia pewartaan sebagai karunia Roh Kudus (gratia praedicationis).***

 

Tinggalkan Pesan