20150412_091919

Gereja mengajak umat Katolik menyadari betapapun jeleknya dan banyaknya kesalahan yang dibuat, mereka tetap milik Tuhan. Mereka pun diajak menyadari bahwa mereka bisa hidup dari sumber yang satu dan sama yaitu Tuhan sendiri. Meski berasal dari orang tua berbeda, karena sama-sama memperoleh hidup dari Tuhan, maka mereka bersaudara. “Artinya memperoleh kehidupan dari pusat yang sama yaitu dari Tuhan sendiri.”

Menanam pohon untuk memperoleh kehidupan dari Tuhan, misalnya, bukan juga hanya milik manusia, karena makhluk-makhluk di sekitar manusia, binatang-binatang, tumbuh-tumbuhan, dan seluruh alam ciptaan juga memperoleh kehidupan dari pusat yang sama. “Maka mereka juga saudara.”

Kepala Paroki Santa Teresia Bongsari Semarang Pastor Romualdus Maryono SJ berbicara dalam homili di gereja itu, 12 April 2015. “Bumi, matahari, langit, angin dan tumbuh-tumbuhan adalah saudara, karena memperoleh kehidupan dari sumber yang sama,” tegas imam itu mengutip semangat Santo Fransiskus Asisi.

Dalam Misa Minggu Kerahiman Ilahi itu, Pastor Maryono mengatakan bahwa Tuhan selalu mengajak manusia untuk menyadari bahwa mereka memperoleh asal hidup yang sama, dan Tuhan tidak akan membiarkan manusia terlepas dari rengkuhan-Nya, kecuali memang manusia menolaknya.

Thomas semula tidak percaya. Petrus juga semula menyangkal-Nya. “Tetapi mereka tetap direngkuh dan tetap hidup dari sumber yang sama yaitu dari Tuhan sendiri. Namun, Yudas sudah tidak tertolong karena memilih sendiri untuk keluar dari rengkuhan Tuhan, keluar dari lingkup Tuhan, jelas imam itu.

Manusia, Pastor Maryono mengingatkan, sebenarnya bisa hidup karena saudara-saudara, “baik manusia-manusia yang ada di sekitar kita, sesama kita, maupun alam ciptaan.” Dengan demikian, imam itu berharap tidak ada lagi orang merasa bisa hidup sendiri lalu mengasingkan diri dari teman-temannya seperti di lingkungan. “Percayalah kalau tidak ada saudara-saudari yang ada di sekitar kita, maka kita tidak hidup!”

Alam ciptaan, binatang-binatang dan tumbuh-tumbuhan sering dilupakan padahal manusia hidup dari mereka. “Cobalah lihat apa yang kita makan, apa yang kita minum, dan apa yang kita hirup. Ini adalah hasil dari saudara-saudara kita, tumbuh-tumbuhan itu,” kata Pastor Maryono.

Imam itu juga mengingatkan, kalau alam semesta dicintai, maka mereka juga akan mencintai kita. “Kalau alam semesta dirusak maka mereka tidak mampu memberi kehidupan kepada kita,” tegas imam itu seraya menambahkan bahwa alamlah yang selama ini memberi kehidupan kita, maka kalau alam mulai dirusak akhirnya alam tidak bisa memberi kehidupan kepada kita dan kita semuanya mati.

Dalam Minggu Kerahiman Ilahi itu, umat paroki itu membersihkan sungai banjir kanal barat yang tak jauh dari gereja, menebarkan benih ikan, melakukan bazar dan melaksanakan lomba untuk anak-anak seraya menggalang dana untuk pendidikan. “Kegiatan itu menjadi sarana supaya umat bisa saling bertemu sebagai saudara-saudari dan menjadi simbol bahwa dari tahun ke tahun umat Paroki Bongsari merawat alam,” kata Pastor Maryono.

Merawat alam, misalnya membuang sampah pada tempatnya dan melakukan penanaman pohon, lanjut imam itu, dimaksudkan supaya umat merasakan bahwa Allah sungguh maharahim. “Allah memiliki kita dan kita juga memiliki Allah. Orang-orang di sekitar kita adalah saudara-saudara kita dan kita adalah saudara mereka, juga alam semesta ini. Maka, saudara-saudari, marilah memohon agar rasa cinta ini tumbuh, baik kepada Tuhan, kepada sesama, dan juga kepada alam ciptaan.” (Lukas Awi Tristanto)

IMG_0007

Tinggalkan Pesan