Kelompok THS-THM bersama umat Se-Keuskupan Atambua arak   gambar Kerahiman Ilahi menuju Gereja Santu Aloysius Gonzaga Haekesak,  Sabtu  sore (13)

Ribuan peziarah Keuskupan Atambua dan Keuskupan Agung Kupang mengikuti penutupan Novena Kerahiman Ilahi tingkat Keuskupan Atambua yang disponsori Organisasi Bela Diri Pencak Silat Tunggal Hati Seminari-Tunggal Hati Maria (THS-THM) yang dilangsungkan di perbatasan RI-RDTL yakni Paroki Santo Aloysius Gonzaga Haekesak, 11-12 April 2015. Wartawan Felixianus Ali dari Atambua mengikuti seluruh proses acara itu dan melaporkan untuk PEN@ Katolik.

Setelah doa Angelus sambil berdiri di depan Balai Nazareth Atambua Dekan Belu Utara sekaligus Kepala Paroki Katedral Santa Maria Immaculata Atambua Pastor Stefanus Boisala Pr memberikan berkat dan melepas rombongan peziarah untuk berarak dengan kendaraan roda dua dan roda empat yang dikawal Polantas dari Polres Belu.

Ratusan kendaraan roda dua dan roda empat meninggalkan Balai Nazareth dalam suhu udara begitu panas. Selama arakan, peziarah melantunkan lagu-lagu rohani dan doa sebagai silih atas dosa-dosanya. Perjalanan menuju Kapela Monsinyur Gabriel Manek SVD Lahurus memakan waktu dua jam lebih. Pukul 14.00 wita, peziarah tiba di kapela itu.

Tepat pukul 15.00 wita, Pastor Martinus Hadiwijaya Pr membawakan doa Novena Kerahiman Ilahi hari ke-9. Sehabis berdoa bersama, dilakukan penahtaan Sakramen Mahakudus serta berkat dan doa penutup. Dia akhir doa, Kepala Paroki Santo Aloysius Gonzaga Haekesak Pastor Nikolaus Nahak Pr menjelaskan bahwa Organisasi Pencak Silat THS-THM yang bernapaskan iman kekatolikan, selalu welcome dengan dan kepada siapa saja.

“Orang-orang yang telah bergabung dalam THS-THM adalah pemikir dan pemecah masalah. THS-THM merupakan ‘rahim’ untuk melahirkan kader-kader Gereja Katolik. Militansi THS-THM sangat teruji dan membuahkan hasil. Buktinya, yang selama ini menjalankan Novena Kerahiman Ilahi di Keuskupan Atambua adalah THS-THM,” jelas imam itu.

THS-THM mengundang dan mengajak kelompok kategorial lainnya untuk bersama menjalankan karya pewartaan ini. THS-THM tak hanya belajar silat, lanjut iman itu, “tapi lebih dari itu iman lebih diutamakan. Memang, belum semua keuskupan di Indonesia menjalankan Novena Kerahiman Ilahi, dan belum semua THS-THM di keuskupan lain mau berbuat seperti THS-THM Atambua.”

Peziarah kemudian keluar dari kapela dan menuju kendaraan masing-masing guna melanjutkan ziarah menuju Paroki Santo Aloysius Gonzaga Haekesak. Perjalanan yang melewati jalanan berlubang dan guyuran hujan itu memakan waktu sekitar dua jam, sambil tetap membawa gambar Kerahiman Ilahi.

Saya membayangkan arakan sangat panjang itu, menggambarkan Nabi Musa sedang menggembalakan umat Israel keluar dari tanah Mesir menuju tanah yang dijanjikan. Ketika rombongan peziarah memasuki tikungan, terlihat seperti ular yang sedang melata. Sungguh menakjubkan!

Sekitar pukul 17.15, rombongan tiba. Dari belokan terakhir menuju gereja sudah terlihat umat bersama Dewan Pastoral Paroki (DPP) Paroki Santo Aloysius Gonzaga Haekesak tumpah ruah di jalanan menyambut peziarah. Tak kalah menariknya, barisan anak-anak Sekolah Dasar Katolik (SDK) Haekesak siap dengan tarian. Mereka menghentakkan kaki ke tanah, tangan menabuh genderang dan tubuh menari-nari menyambut peziarah. Semua mata melihat karya agung Tuhan yang sungguh mulia itu.

Kemudian terlihat tiga tetua adat berpakaian adat resmi menyambut dan menyapa peziarah yang diwakili Pastor Martinus Hadiwijaya Pr beserta rombongannya dari Jakarta dengan sapaan Hase Hawaka. Bagi masyarakat Belu dan Malaka, khususnya masyarakat Timor, sapaan adalah tradisi dan budaya wajib bila ada tamu agung mengunjungi wilayah atau daerahnya. Setelah Hase Hawaka, Pastor Hadiwijaya beserta rombongan dari Jakarta dikalungi selendang oleh pengurus DPP dan panitia.

Semua peziarah kembali diarak berjalan kaki menuju gereja dipimpin dua orang THS memegang gambar kudus Kerahiman Ilahi sambil berjalan kaki di sisi kiri dan kanan rombongan. Pengawalan THS-THM dan polisi dan TNI masih terlihat. Jarak antara belokan dengan gereja kurang lebih 1 km. Jalanan menuju gereja yang berbatu dan tanah, yang terkadang berdebu ditiup angin sore hari. Tarian anak SDK Haekesak kembali menemani rombongan, di antaranya beberapa kelompok doa Kerahiman Ilahi dari Kabupaten Timor Tengah Utara, Timor Tengah Selatan, Malaka, Kota Kupang dan Kupang.

Sebagian umat sudah memenuhi tenda-tenda di sisi kiri dan kanan gereja. Umat tumpah ruah bahkan harus berdiri di bibir jalanan berdebu. Rombongan tiba dalam gereja dan gambar Kerahiman Ilahi ditatahkan di depan altar yang diapit lilin bernyala. Kidung-kidung rohani masih terdengar. Beberapa ibu dan orangtua tersentuh dan menangis mendengar kidung-kidung itu.

Keesokan harinya, Minggu 12 April 2015, tepat pukul 09.00 dilangsungkan Misa Penutupan Novena Kerahiman Ilahi bertepatan dengan Minggu Paskah II dengan tema “Satu Hati Seribu Wajah”. Misa itu dipimpin Pastor Hadiwijaya Pr dengan konselebran Pastor Nikolaus Nahak Pr, Pastor Salvator Towary SVD dan dua imam lain. Mereka berarak dari depan pastoran dalam arakan yang dipimpin pemegang gambar Kerahiman Ilahi dan pembawa salib serta lilin.

Dalam homili, Pastor Hadiwijaya Pr mengajak umat agar lebih mendalami semangat Santa Faustina dalam berdoa Kerahiman Ilahi pada pukul tiga sore setiap hari. Sebab, “dengan bersungguh-sungguh berdoa Kerahiman Ilahi, dosa-dosa dibebaskan oleh Tuhan, yang sudah menitipkan pesan khusus kepada Santa Faustina mengenai keselamatan berkat Kerahiman Ilahi. Paus sendiri menetapkan hari Minggu Paskah II sebagai Hari Minggu Kerahiman Ilahi.”

Bersama imam-imam lain, Pastor Hadiwijaya kemudian memberkati gambar-gambar Kerahiman Ilahi serta Kitab Suci, rosario, dan pakaian THS-THM, air, lilin dan obat-obatan berupa ramuan tradisional yang diletakkan di depan altar.

Berbagai sambutan menutup Misa. Tujuan Novena Kerahiman Ilahi, menurut Ketua Panitia Elias YT Mali adalah untuk menumbuhkan semangat berdevosi kepada Kerahiman Ilahi yang telah dibuat oleh Santa Faustina. “Karena devosi kepada Kerahiman Ilahi, Allah senantiasa mengampuni kita,” katanya. “Jangan sepelekan Kerahiman Ilahi. Banyak mukjizat terjadi lewat Kerahiman Ilahi. Lakukan pertobatan dengan sungguh-sungguh lewat doa Kerahiman Ilahi, ajaknya.

Pastor Nikolaus Nahak mengatakan, “lewat kekuatan Roh Kudus dan atas izin Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo Pr maka Pastor Hadiwijaya bersama rombongan dari Jakarta berkenan memenuhi undangan umat Paroki Haekesak yang berbatasan langsung dengan Timor Leste, untuk mengakhiri Novena Penutupan Kerahiman Ilahi yang disponsori THS-THM Atambua.” Imam itu bergembira karena Distrik THS-THM Atambua memberikan kehormatan tersendiri kepada parokinya sebagai tuan rumah penutupan novena itu.

Ketua DPP Paroki Haekesak Guido Mauk bertanya kepada Yesus yang bangkit mengapa penutupan novena itu dipercayakan kepada umat perbatasan yang kondisi gedung gerejanya belum selesai. “Banyak asa dari kami umat perbatasan. Santa Faustina awalnya menderita lewat pesan yang disampaikan Yesus terhadapnya untuk setia dan menyebarkan Devosi Kerahiman Illahi. Kami umat Paroki Haekesak pun mengalami hal yang sama. Kami berjalan dari ketidakmampuan dalam menumbuhkan iman umat Gereja lokal di bibir perbatasan,” kata Guido Mauk.***

Romo Hadiwijaya Pr bersama rombongan dari Jakarta diterima   secara adat oleh umat Paroki Santu Aloysius Gonzaga Haekesak, Sabtu sore   (11- 4- 2015) di cabang masuk gereja

umatKatolik Se-Keuskupan Atambua bersama TH-THM ikut misa   penutupan Novena Kerahiman Ilahi di Gereja Paroki Santu Aloysius Gonzaga   Haekesak, Minggu pagi (12- 4- 2015)

Tinggalkan Pesan