Yesus dan Nikodemus

PEKAN PASKAH II (P)
B. Pedro Gonzalez;  B. Damian de Veuster

Bacaan I: Kis. 5:17-26

Mazmur: 34:2-3.4-5.6-7.8-9; R: 7a

Bacaan Injil: Yoh. 3:16-21

Dalam percakapan-Nya dengan Nikodemus, Yesus berkata: ”Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah me­nga­runiakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barang­siapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak; tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah.”

Renungan

Orang tua adalah sumber hidup bagi anak-anak-Nya, karena memberi perlindungan, perawatan, pendidikan dan kasih sayang. Sehingga, seorang anak dapat bertumbuh dan berkembang dengan baik. Orang tua yang bertanggung jawab atas kehidupan anak-anaknya akan mendapatkan sukacita ketika anak-anaknya besar nanti, meskipun dalam perjalanannya banyak orang tua yang menderita karena anak-anaknya. Itulah kasih orang tua.

Bacaan hari ini mengungkapkan betapa Allah sangat mencintai manusia, dan betapa besar kasih-Nya terhadap dunia, sehingga Allah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal supaya orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Allah adalah sumber dan muara bagi manusia yang sedang menjalani hidup menuju pulang ke rumah-Nya yang kudus. Seperti layaknya orang tua yang mengasihi anaknya, dan menyelamatkan anaknya untuk dapat kembali pulang bersama, maka Allah lebih dari itu bahwa Ia akan membawa manusia menuju kediaman-Nya di surga.

Pertanyaan bagi kita adalah apakah kita yang sudah percaya mau meninggalkan kepercayaan kita? Terang sudah datang mengapa kita masih ragu dan menyukai kegelapan? Sebab, Allah menyuruh Anak-Nya datang ke dunia bukan untuk menghakimi dunia melainkan untuk menyelamatkannya. Maukah kita diselamatkan oleh Terang itu?Ataukah kita tidak menyukai Terang itu?

Allah Bapa yang mahakasih, bawalah aku anak-Mu kembali ke dalam pelukan kasih-Mu, agar aku memperoleh keselamatan yang kekal. Aku percaya bahwa hanya melalui Engkau aku dapat berkumpul bersama-Mu dalam kebahagiaan surgawi. Amin.

 

Tinggalkan Pesan