krisma Tanjungkarang

Ada seseorang yang sudah ke gereja selama 30 tahun, tidak hanya di hari Minggu. Dia menulis di surat kabar bahwa selama itu mungkin ia sudah mendengar 3000 khotbah dan tak satu khotbah pun ia ingat. Ia merasa membuang-buang waktu ke gereja dan pastor juga sia-sia berkotbah. Surat pembaca itu banyak mendapat tanggapan. Hampir semua mendukungnya.

Pada hari ketujuh seseorang lain menulis, “Saya sudah menikah selama 30 tahun. Selama itu istri saya telah memasak sebanyak 10.920 kali untuk saya. Itu kalau saya hanya menghitung dia memasak 1 kali sehari. Belum kalau 2 atau 3 kali. Tak satu pun menu yang saya ingat. Tapi saya tahu, selama itu dia telah menghidupi saya. Andaikan dia tidak memasak untuk saya, saya sudah lama mati.”

Cerita itu diangkat Uskup Tanjungkarang Mgr Yohanes Harun Yuwono dalam Misa Krisma yang dihadiri 63 imam se-Keuskupan Tanjungkarang yang berkumpul di Gereja Ratu Damai, Telukbetung, tanggal 30 Maret 2015 untuk mengungkapkan dan membarui janji imamat mereka kepada Gereja di hadapan Uskup Yohanes Harun Yuwono. Banyak umat menghadiri Misa itu.

Dalam Misa itu, seperti dilaporkan Suster M Fransiska FSGM di Majalah Duta Damai dan muncul di website keuskupan, http://www.keuskupantanjungkarang.org, Mgr Harun Yuwono memberkati tiga macam minyak yakni minyak katekumen, minyak orang sakit, dan minyak krisma, yang akan digunakan dalam pelayanan sakramen-sakramen di seluruh wilayah keuskupan itu sepanjang tahun. Minyak krisma digunakan untuk sakramen penguatan, tahbisan suci, dan pemberkatan gereja.

Idealnya, menurut Mgr Harun Yuwono, para imam berkotbah seperti Yesus, yang saat berkotbah semua  mata memandang-Nya. “Umumnya kalau kami berkotbah ‘kan semua mata mejam, mengantuk. Padahal kalau kita sungguh menyimak, rasanya Yesus tidak mengkotbahkan sesuatu yang ‘baru’,” kata uskup karena Roh Tuhan ada pada-Nya.

“Maka ketika Yesus mengkotbahkan hal itu, Dia tidak mengatakan sesuatu yang baru. Roh Tuhan memang ada pada-Nya. Roh Tuhan itu juga ada pada para nabi, imam, saya, dan setiap orang. Itu bukan sesuatu yang baru. Tetapi mengapa semua mata memandang kepada-Nya?” tanya uskup.

Sebab Yesus punya kesadaran yang lebih dari yang lain, jawab uskup. “Yesus menghidupi Roh Tuhan yang ada pada-Nya dengan penuh kesadaran. Kesadaran akan yang ilahi yang ada pada diri-Nya membuatnya selalu ingin dekat dengan Allah, sangat dekat, dan karena itu apa yang Dia lakukan dan Dia katakan adalah sungguh ambil bagian pada keseluruhan keberadaan dan kehendak Allah. Karena ambil bagian dalam keberadaan Allah, kehadiran-Nya menampakkan Allah.”

Uskup mengingatkan para imam bahwa mereka semua telah diurapi oleh Roh Allah, oleh Roh Kudus dalam Sakramen Baptis dan Krisma. “Para klerus, diakon, imam dan uskup diurapi lagi dengan Roh Kudus melalui Sakramen Tahbisan. Kita semua adalah orang-orang yang terurapi. Orang yang diurapi Tuhan seharusnya dipenuhi Roh Kudus, Roh Allah sendiri, dalam pikiran, perkataan dan perbuatannya.”

Seharusnya, lanjut uskup, para imam sehati sepikir dengan Allah seperti yang dicontohkan oleh hidup Yesus. “Seharusnya kita juga menjadi pembebas-pembebas mereka yang terbelenggu, siapapun dari golongan dan bangsa apapun, dan membawa mereka kepada keselamatan.” Para imam juga diminta untuk tetap setia menghidupi imamat dan mengajar umat walau banyak kekurangan dan tantangan.

“Roh Tuhan secara khusus ada pada setiap Anda. Hidupilah dengan penuh kesadaran,” kata uskup seraya meminta para imam untuk tetap sadar diri, dan untuk menyadarkan umat agar menghidupi kesadaran yang sama.

Para imam juga diminta untuk mengambil bagian dalam hidup Allah sendiri serta sehati seperasaan dengan Allah. “Roh Tuhan ada padaku. Roh Tuhan ada pada Anda sekalian. Marilah kita tidak jemu-jemunya berbuat baik terhadap sesama kita seperti Yesus, Sang Pembebas. Betapa bahagianya saya kalau para romo sehati sepikir dengan saya,” tegas Mgr Harun Yuwono.***

 

1 komentar

Tinggalkan Pesan