benjamin

PEKAN SUCI (U)
St. Benyamin

Bacaan I: Yes. 49:1-6

Mazmur: 71:1-2.3-4a.5-6b.15.17; R:15

Bacaan Injil: Yoh. 13:21-33.36-38

Di dalam perjamuaan Paskah dengan murid-murid-Nya, Yesus sangat ter­haru, lalu bersaksi: ”Aku berkata k­epa­damu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.” Murid-murid itu memandang seorang kepada yang lain, mereka ragu-ragu siapa yang dimaksudkan-Nya. Seorang di antara murid Yesus, yaitu murid yang dikasihi-Nya, bersandar dekat kepada-Nya, di sebelah kanan-Nya. Kepada murid itu Simon Petrus memberi isyarat dan berkata: ”Tanyalah siapa yang dimaksudkan-Nya!” Murid yang duduk dekat Yesus itu berpaling dan berkata kepada-Nya: ”Tuhan, siapakah itu?” Jawab Yesus: ”Dialah itu, yang kepadanya Aku akan memberikan roti, sesudah Aku mencelupkannya.” Sesudah berkata demikian Ia mengambil roti, mencelupkannya dan memberikannya kepada Yudas, anak Simon Iskariot. Dan sesudah Yudas menerima roti itu, ia kerasukan Iblis. Maka Yesus berkata kepadanya: ”Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera.” Tetapi tidak ada seorang pun dari antara mereka yang duduk makan itu mengerti, apa maksud Yesus mengatakan itu kepada Yudas. Karena Yudas memegang kas ada yang menyangka, bahwa Yesus menyuruh dia membeli apa-apa yang perlu untuk perayaan itu, atau memberi apa-apa kepada orang miskin. Yudas menerima roti itu lalu segera pergi. Pada waktu itu hari sudah malam. Sesudah Yudas pergi, berkatalah Yesus: ”Sekarang Anak Manusia dipermuliakan dan Allah dipermuliakan di dalam Dia. Jikalau Allah dipermuliakan di dalam Dia, Allah akan mempermuliakan Dia juga di dalam diri-Nya, dan akan mempermuliakan Dia dengan segera. Hai anak-anak-Ku, hanya seketika saja lagi Aku ada bersama kamu. Kamu akan mencari Aku, dan seperti yang telah Kukatakan kepada orang-orang Yahudi: Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang, demikian pula Aku mengatakannya sekarang juga kepada kamu.”

(Bacaan selengkapnya lihat Alkitab …)

Renungan

Panggilan untuk melayani sebenarnya terjadi sejak kita berada dalam kandungan. Itulah yang diyakini oleh Nabi Yesaya. Panggilan khusus memang tidak diberikan kepada semua orang, tetapi semua orang diharapkan oleh Allah menjadi orang yang berguna dan ”memberkati” dengan hidupnya. Betapa indahnya jika kita meyakini bahwa Allah memanggil kita untuk menjadi berkat bagi banyak orang! Betapa menggembirakannya jika Tuhan berkenan memakai kita sebagai berkat dalam keluarga, lingkungan, wilayah, atau paroki! Bukankah hidup yang hanya satu kali ini sangat beruntung jika kita tidak menjadi beban, melainkan berkat bagi orang banyak?

Yesus tahu bahwa Ia akan dikhianati dan menderita dan mati. Akan tetapi, orang yang melakukannya akan celaka. Kebalikan dari panggilan setiap orang, jika kita mengingkari panggilan kita kepada kebaikan, kita akan melakukan kejahatan demi kepentingan diri sendiri. Bisa juga kita mengabaikan kepentingan orang lain karena kita khawatir akan keselamatan kita saja. Semoga kita tidak melakukan hal yang buruk karena kekhawatiran itu dan tetap setia pada kebenaran.

Allah Yang Mahakasih, semoga Engkau memberkati aku dengan kejujuran, keadilan, perhatian pada yang menderita, supaya aku boleh merasakan penyelamatan-Mu. Amin.

 

Tinggalkan Pesan