DSCN0741

Sekitar 200 orang pria, sebagian membawa isteri dan anak-anak, datang berkumpul di aula Sekolah Paramitha, di Jakarta Timur, pada hari Minggu 22 Maret 2015. Mereka datang untuk suatu acara berjudul “Temu Kangen Lintas Angkatan.”

Di hadapan mereka, Uskup Bandung Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC mengatakan bahwa kebahagiaan jasmani dan rohani yang dialami manusia sangat tergantung dari pengalaman iman yang dialami oleh orang itu sendiri. “Ada banyak peristiwa hidup yang kembali menyatukan sejumlah orang karena pernah memiliki pengalaman kebersamaan dalam suatu komunitas.”

Memang, mereka pernah memiliki pengalaman yang sama dalam suatu komunitas yakni Seminari Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah. Mereka adalah alumni seminari itu sejak 1960 hingga 2014.

Kebersamaan mereka dilihat oleh Mgr Subianto sebagai semangat Gereja Perdana yang selalu harus diutamakan dalam menghadapi tantangan Gereja zaman ini, khususnya oleh Paguyuban Gembala Utama (PGU), perkumpulan eksim (mantan seminaris dan imam) yang peduli dengan pengembangan pendidikan seminari, khususnya Seminari Menengah Mertoyudan.

Tujuan wadah itu untuk menghimpun kaum awam yang eksim itu, agar mereka bisa melakukan suatu demi kebaikan bersama anggota-anggota lainnya. “Dari kebersamaan itu kita bisa saling memberikan perhatian kepada orang lain,” tegas Uskup Bandung itu.

Kegiatan temu kangen itu diawali dengan Ekaristi Kudus yang dipimpin Mgr Subianto OSC yang didampingi Sekretaris Keuskupan Bandung Pastor Ignatius Eddy Putranto OSC dan Ekonom Keuskupan Bandung Pastor Antonius Sulastijana Pr dan Pastor Damianus Lolo CSsR dari Paroki Leo Agung, Jatibening, Jakarta.

Turut hadir anggota PGU distrik Bekasi yang diketuai Bernardus Dwita Pradana, Ketua PGU distrik Jawa Timur, Frederikus Dwiantoro, dan utusan PGU distrik Bandung, Yogya dan Semarang, serta mantan anggota DPR RI Paulus Krissantono serta Wartawan Kompas, Trias Kuncoro.

Krissantono dari Paroki Galaksi Kranji mengatakan, situasi negara saat ini membutuhkan keterlibatan  orang-orang Katolik. Menurutnya, membangun fisik gereja itu soal nomor dua, tapi “yang paling pertama adalah membangun iman umat yang terlibat dalam masyarakat luas.”

Ia mengeritik pastor-pastor yang tidak mengetahui nama ketua RT atau RW di mana ia berada. Ia juga berharap OMK tidak hanya main gitar di gereja, tapi keluar dan main futsal bersama dengan orang muda di lingkungan sekitar. “Tujuannya agar mata OMK terbuka dan hidupnya tidak ekslusif tapi inklusif,” katanya.

Menurut Krissantono, PGU adalah sesuatu yang baik dan sangat kaya karena terdiri dari orang-orang yang bekerja di segala bidang dan profesi antara lain yakni guru, dosen, ekonom, dan wartawan. “Semua potensi ini disatukan bersama kemudian melakukan suatu yang positif untuk kebaikan bersama,” katanya.

Frederikus Dwiantoro, Ketua PGU Distrik Jatim, dalam sharingnya mengatakan paguyuban yang dipimpinnya di Jatim dikenal aktif seperti ziarah, Misa bersama, pertemuan berkala dan kegiatan yang menumbuhkan persaudaraan yang lebih akrab.

Trias Kuncoro mengisahkan tentang kondisi politik kepemimpinan nasional mulai dari Suharto, Gus Dur, Megawati, SBY sampai dengan Joko Widodo seraya menegaskan bahwa umat Katolik perlu terlibat dalam politik. (Konradus R Mangu)

DSCN0643

 

Tinggalkan Pesan