Mgr.-Antonius-Bunyamin-Subianto1

Saat ini banyak orang mengalami masalah dengan berbagai kesusahan yang tak kunjung selesai. Kita menjumpai orang sulit, seakan tak akan pernah berubah. Kita bertemu orang sakit berkepanjangan, seolah tak akan sembuh. Kita melihat orang yang berkubang dalam kelemahan dan bergelimang dosa, sepertinya tak akan bertobat.

Uskup Bandung Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC menulis hal itu dalam Surat Gembala Prapaskah 2015 Keuskupan Bandung bertema “Bersama umat terlibat dalam masyarakat,” seraya menegaskan bahwa semua kesusahan, penyakit, dan dosa sesungguhnya dapat diatasi.

Persoalannya, “sejauh manakah orang yang bermasalah atau “sakit” mau sembuh dan sungguh berusaha untuk sembuh?” tanya uskup itu setelah melihat banyak orang bermasalah hanya duduk diam tanpa asa dan menanti tanpa usaha seraya berteriak: “Percuma! Saya tak mungkin sembuh!”

Awal perubahan positif adalah kemauan yang didukung oleh iman, tegas Mgr Subianto seraya menceritakan kisah Injil tentang orang kusta yang punya keinginan sembuh, yang mencari orang yang bisa menyembuhkan, dan yang percaya bahwa Yesus punya kuasa penyembuhan dan akan menerimanya. “Orang harus memiliki pikiran positif dan harapan kuat,” tegas uskup.

Juga dijelaskan bahwa orang kusta itu percaya bahwa Yesus adalah utusan Allah yang menjadikan segalanya baik dan penyakitnya sekalipun menahun dapat disembuhkan. “Ia tak mau memaksakan kehendak apalagi mendikte Yesus. Ia berserah diri pada kehendak Tuhan. Kesembuhan orang kusta itu terjadi, karena si sakit mau pulih dan Tuhan menghendakinya.”

Demikian juga, kata uskup, kepasrahan Maria yang mengatakan “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataaan-Mu itu,” doa Yesus di taman Getzemani “Janganlah seperti yang Kuhendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki,” dan doa Bapa Kami yang diajarkan Yesus sendiri, “Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di dalam Surga.”

Perubahan positif atau kepulihan dari segala ketidak-beresan adalah bagian dari usaha tobat Keuskupan Bandung yang tahun ini bertema “Menjadi Manusia Ber-APP.” Uskup mengartikannya sebagai pribadi, yang hati dan budi serta energi dan materinya tertuju pada pembangunan umat dan masyarakat.

“Ungkapan tobat ditempatkan dalam upaya mengembangkan umat dan menyejahterakan masyarakat. Kita diundang terlibat dalam kehidupan dan perjuangan masyarakat; menyejahterakan orang di sekitar. Keberhasilan pertobatan kita juga diukur dari sejauh mana Gereja makin mengumat dan memasyarakat.”

Umat makin mengumat, jelas uskup, hidupnya sehati dan sejiwa bertekun dalam hidup persaudaraan, pewartaan, perayaan (liturgi), dan pelayanan dengan semangat berkorban. “Kita makin memasyarakat kalau jadi bagian dari masyarakat dengan cara aktif terlibat dalam kegiatan dan kehidupan masyarakat.”

Semoga berkat kehadiran Gereja yang sehati-sejiwa, harap uskup, masyarakat sekitar mengalami perubahan positif: pangan, sandang, dan papannya makin baik; kehidupan mentalnya makin dewasa, sikapnya makin toleran dan solider; hidup keagamaannya makin takwa dan imannya makin teguh.

“Seluruh umat Kristiani, termasuk para pastor mereka, dipanggil untuk menunjukkan kepedulian membangun dunia yang lebih baik” (Evangelii Gaudium 183). Uskup Bandung mengutip seruan apostolik itu untuk memperlihatkan bagaimana Paus Fransiskus menekankan mutlaknya dimensi sosial dari pewartaan Injil dan dimensi komunal dari hidup spiritual.

“Iman akan Yesus Kristus, yang menjadi miskin, dan selalu dekat dengan kaum miskin dan kaum tersingkir, adalah dasar kepedulian kita pada pengembangan seutuhnya para anggota masyarakat yang paling terabaikan.” (186) Berdasarkan kutipan itu, Mgr Subianto mengatakan: “Di situlah orang yang bertobat dan percaya pada Yesus Kristus ditantang untuk secara konkret peduli dan terlibat dalam pengembangan masyarakat.” (paul c pati)

Tinggalkan Pesan