Tunawisma di Kapel Sistina2

(Mengharukan. Judul tulisan ini adalah kalimat yang diucapkan seorang asal Polandia, Kristoph, 51, yang merupakan salah seorang dari 150 tunawisma yang tanggal 26 Maret 2015 mengunjungi Museum Vatikan dan tanpa diduga disalami oleh Paus Fransiskus. Paul C Pati dari PEN@ Katolik menerjemahkan berita yang dilaporkan sehari sesudahnya oleh wartawan Zenit.org, Salvatore Cernuzio, dari Kota Vatikan)

Kristoph, seorang “warga” tunawisma di serambi Via della Conciliazione, di mana Kantor Pers Tahta Suci terletak, terlihat seperti seorang anak kecil. Topi kuning, rambut pirang, mata biru dan wajah memerah, segera mengungkap bahwa dia berasal dari Polandia. Usia Kristoph kini sudah 51tahun. Namun, 20 tahun dari usianya itu dihabiskan di jalanan, seraya bekerja “sampai mereka menangkap saya.”

Sudah sekitar tujuh bulan lamanya pria paruh baya yang lembut dan hidup terpisah dengan putranya, yang berusia 23 tahun, menduduki pos kecil yang sangat dekat dengan Lapangan Santo Petrus. Kemarin (tanggal 26 Maret 2015, Red.), dia bersama teman-temannya masuk dalam kelompok 150 tunawisma yang mengunjungi Museum-Museum Vatikan. Mereka diundang oleh Kantor Almoner (Amal Kasih) Apostolik dan tanpa mereka duga sebelumnya, mereka berjabatan tangan dengan Paus Fransiskus.

“Ini pengalaman yang akan saya bawa dalam diri saya sampai hari-hari terakhir hidup saya,” katanya kepada ZENIT. Hari ini, tidak ada yang dilakukan kelompok kecilnya selain membicarakan hari luar biasa yang mereka alami kemarin. Dan mereka ceritakan semua itu kepada wartawan, melalui Kristoph. Dia terpilih sebagai juru bicara mereka, karena dia bisa berbahasa Italia, dan dia menjawab pertanyaan wawancara dengan penuh kepercayaan diri.

Dia memang menguasai Bahasa Italia dan dia ramah. Tak semua orang, yang menjalani hidup seperti dia, bisa berbahasa  dengan baik dan bisa seramah dia. Juga, karena sukacita yang dia nikmati kemarin: “Saya senang sekali tadi malam …,” lanjutnya.

Kegembiraannya sangat beralasan karena memang jarang seseorang mendapatkan kesempatan tur pribadi ke Museum-Museum Vatikan. Setiap hari berkilometer antrian turis harus dilampaui. Bahkan, masih jarang ada tur yang berakhir di Kapel Sistina dan menemukan dirinya berada di hadapan Paus yang mengatakan: “Selamat datang. Ini rumah kalian!”

Mata biru langit Kristoph mengkilat penuh sukacita ketika mengenang peristiwa yang terjadi seketika itu: “Begitu lama kami berada dalam museum-museum itu …. Museum-museum itu sangat, sangat, sangat indah! Akhirnya kami memasuki Kapel Sistina dan kami diberitahu untuk duduk. Kami pikir akan ada Misa, doa, atau apalah seperti itu … Sebaliknya, dari balik pintu, Don Corrado (Konrad Krajewski, sang almoner) muncul dan dekat dengan dia, Paus. Ya ampun!”

“Kami bertepuk tangan sangat keras. Dia menyalami kami. Kami berterima kasih kepadanya. Lalu, kami berdoa ‘Bapa kami’ bersama-sama. Bahkan, Paus mengizinkan kami berfoto bersama dia. Begitu banyak foto diambil dan Don Corrado berjanji baha kami akan mendapatkan foto-foto itu. Kemudian, Paus menyalami kami satu per satu. Dia menjabat tangan semua 150 orang itu, coba bayangkan! Ya ampun …”

Kristoph juga bisa berjabatan tangan dengan Bapa Suci. “Saya bilang kepadanya: Terima kasih, Paus. Saya berdoa agar kau mengalami banyak hal yang baik, terutama kesehatan dan kekuatan. Dia tersenyum dan berkata ‘Terima kasih, terima kasih … “

“Anda terharu?” kami bertanya kepadanya. “Bagaimana tidak,” jawabnya segera, seraya berkata dengan penuh kegembiraan, “Saya juga punya air mata. Teman-teman saya di sini jadi menangis, meskipun sekarang mereka tampak kuat … Saya menangis karena saya tahu saya beruntung: tidak semua orang punya kemungkinan bertemu Paus begitu dekat, mencium tangannya, memeluknya …”

“Segera saya kirim pesan kepada anak saya, yang kini berusia 23 tahun. Dia tinggal dan bekerja di Polandia. Saya katakan kepadanya: ‘Eric, Ayah bertemu Paus! Saya menangis dalam kebahagiaan … Nanti saya kirim foto-fotonya!”

“Terlalu banyak yang akan diceritakan, dikenang …” kata Kristoph, yang mengungkapkan bahwa dia masih menyimpan undangan kemarin di sakunya karena “Saya ingin tetap menyimpannya sebagai sebuah momento (sesuatu yang sangat berharga dalam kehidupan) …” Dengan terus terang dia memohon maaf untuk tidak menunjukkan undangan itu karena “saya takut nanti rusak.”

Kenyataannya, kunjungan kemarin merupakan peristiwa mengesankan. Setiap jejak kunjungan itu berharga. Dan yang paling berharga adalah , konfirmasi yang tak ternilai  bahwa “Paus Fransiskus mengasihi kami.”

“Begitu banyak dia berikan untuk kami: kamar mandi, tukang cukur, payung, museum … Saya juga dengar bahwa dia ingin mempersiapkan ambulans kecil untuk yang membutuhkan perawatan medis. Kami benar-benar senang atas segalanya,” tegas “ juru bicara” kaum tunawisma dari Lapangan Santo Petrus itu.

Berkaitan dengan kamar mandi yang dibangun di bawah deretan pilar Bernini, yang juga atas prakarsa Kantor Almoner Apostolik, Kristoph berkomentar: “Kami beruntung memilikinya. Kami dapat mencuci setiap hari, dan dapat berkeliling dengan pantas. Kami tidak harus malu karena bau tidak enak.”

Tukang cukur juga merupakan ide yang baik. “Buktinya saya datang ke sana Senin lalu. Sekarang saya datang lagi, karena ingin rambutku kembali botak. Panas akan segera datang … Maka, saya akan berhemat karena tidak perlu beli sisir.”

Semua ini “sungguh-sungguh penting bagi kami, semua berguna. Paus memahami hal ini. Dia mengasihi kami.” Dan geng pasti akan membalas kasih sayang ini, mungkin tidak secara material, tetapi dengan doa, yang, jika dipanjatkan dengan rendah hati dan sepenuh hati , akan bernilai lebih dari seribu tanda kasih.

“Setiap pagi kami berkata dalam diri sendiri ‘berdoalah untuk Paus Fransiskus,” kata teman bicara kami. “Pukul 09:00, para suster datang kepada kami, kadang-kadang seorang imam, dan mereka mengajak kami berdoa bersama. Dan kami selalu berdoa untuk Paus, bagi kesehatannya, karena kami ingin dia hidup bertahun-tahun. Setidak-tidaknya, kami berdoa juga untuk semua imam dan untuk masyarakat … untuk orang-orang baik, mereka yang melakukan hal baik untuk kami. Ada begitu banyak …”(diterjemahkan oleh paul c pati dari PEN@ Katolik berdasarkan Zenit.org)

Tunawisma di Kapel Sistina

Tunawisma di Kapel Sistina1

Tunawisma

 

Tinggalkan Pesan