20150322_100044.mp4_000026977

“Kalau sudah mandi, keran harus ditutup. Kalau sudah selesai, jangan dibuang-buang. Yang masih membuang-buang air percuma harus bertobat.” Permohonan itu bukan ditempel di tempat mandi tetapi diucapkan saat Misa di Gua Bunda Maria Ratu Besokor, Jalan Weleri, Kendal.

Dalam kotbah Misa Minggu 22 Maret 2015 di gua itu, Kepala Paroki Santo Martinus Weleri, Kendal, Pastor Raymundus Sugihartanto Pr memang berbicara mengenai air sebagai karunia Allah yang layak untuk disyukuri. “Kita masih menggunakannya, kemarin, hari ini, sampai kapan pun,” kata imam itu.

Misa bertema “Air dan Pembangunan Berkelanjutan” yang dihadiri lebih dari 200 umat dengan pakaian Jawa itu memang dirayakan untuk memperingati Perayaan Hari Air Sedunia 2015 yang berlangsung tanggal itu. Paroki Santo Martinus memperingati momen itu dengan Misa di gua itu.

Pastor Sugihartanto yang didampingi Pastor Pembantu Simon Atas Wahyudi Pr mengingatkan umatnya agar tidak membuang-buang air dengan percuma, tetapi menjaga dan merawat air.  “Dengan menjaga dan merawat, air akan mudah dicari dan layak untuk dikonsumsi. Kalau membangun jangan sampai merusak air. Yang masih merusak air saat membangun harus bertobat,” kata imam itu.

Ketua Penghubung Karya Kerasulan Kemasyarakatan Keuskupan Agung Semarang (PK4AS) itu juga mengingatkan supaya air tidak dicemari karena air sangat dibutuhkan untuk kehidupan. “Makin air sehat maka akan makin memberikan bantuan kesegaran dan juga kesehatan. Tetapi air yang makin tercemar akan menjadikan bahaya bagi kehidupan kita,” kata imam itu seraya meminta kepada siapa pun, yang masih banyak melakukan pencemaran dengan cara apapun, untuk bertobat.

Menurut Pastor Atas, semua makhluk membutuhkan air. “Bukan hanya manusia tetapi juga hewan. Bukan hanya manusia dan hewan tetapi juga tumbuh-tumbuhan,” kata imam itu seraya mengingatkan bahwa peringatan hari air sedunia “merupakan syukur dan janji kita untuk memelihara air, memelihara lingkungan untuk kebutuhan air dan memelihara apapun dengan air.”

Koordinator Misa Hari Air Sedunia, Yulianus Tedy Sukono, menjelaskan bahwa peringatan itu sudah tiga kali diadakan di Gua Bunda Maria Ratu Besokor dengan tujuan untuk mengenalkan pada masyarakat bahwa air itu sangat penting. “Air itu sumber kehidupan, harus dijaga,” katanya.

Tedy Sukono juga berharap agar pembangunan dilakukan dengan mempertimbangkan aspek keberlanjutan dan kelestarian alam. “Bagaimana dengan pembangunan berkelanjutan sekarang ini yang seringkali tidak memperhitungkan kelestarian air? Itu yang paling penting!” katanya.

Sesudah Misa, dilakukan penanaman pohon trembesi, yang mampu menahan air dan hidup puluhan tahun, di sekitar lokasi gua, pembersihan area gua, dan visitasi ke dua sumber air yakni Tuk Sirandha dan Tuk Ngangkrik yang selama ini mengairi Gua Bunda Maria Ratu Besokor dan masyarakat sekitar. Dengan berjalan kaki, rombongan yang dipimpin Pastor Atas menyusuri bukit sejauh empat kilometer. Di sana, mereka berdoa demi kelestarian air di sumber air itu.(Lukas Awi Tristanto)

20150322_104312.mp4_000116000

Tinggalkan Pesan