Yohanes dari Mesir

PEKAN PRAPASKAH V (U)

Santo Yohanes dari Mesir

Bacaan I: Yer. 20:10-13
Mazmur: 18:2-3a.3b-4.5-6.7; R:7
Bacaan Injil: Yoh. 10:31-42

Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. Kata Yesus kepada mereka: ”Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?” Jawab orang-orang Yahudi itu: ”Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah.” Kata Yesus kepada mereka: ”Tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat kamu: Aku telah berfirman: Kamu adalah allah? Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut allah — sedang Kitab Suci tidak dapat dibatalkan —, masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah? Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku, tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.” Sekali lagi mereka mencoba menangkap Dia, tetapi Ia luput dari tangan mereka. Kemudian Yesus pergi lagi ke seberang Yordan, ke tempat Yohanes membaptis dahulu, lalu Ia tinggal di situ. Dan banyak orang datang kepada-Nya dan berkata: ”Yohanes memang tidak membuat satu tanda pun, tetapi semua yang pernah dikatakan Yohanes tentang orang ini adalah benar.” Dan banyak orang di situ percaya kepada-Nya.

Renungan

Orang lebih senang melihat kesalahan orang lain. Budaya kebanyakan orang lebih mudah melihat kelemahan, padahal tidak banyak berguna jika kita hanya mencela atau menolak orang lain dengan melihat kejelekannya. Jika kita melihat dengan pandangan yang positif, kita justru mengembangkan orang itu, meskipun untuk itu dia harus berjuang. Orang Yahudi mencela Yesus karena mengaku sebagai Anak Allah dan bersama dengan Allah. Orang Yahudi yang tidak mengerti mencela karena tidak mengenal Allah. Pikiran negatif demi kepentingan diri sendiri menjauhkan mereka dari pertolongan Allah.

Orang benar adalah kekasih Allah, meskipun untuk itu ia harus berjuang menjadi kaum minoritas yang dibenci oleh dunia. Cara yang hari ini ditawarkan agar kita dapat lebih berpikir positif dan berani mengatakan kebenaran adalah membuat diri penuh syukur, bersukacita, dan mempercayakan hidupnya pada Tuhan. Orang yang bersukacita tidak mudah dikalahkan dengan kesulitan dan penderitaan, tetapi orang yang pahit hatinya akan mudah diombang-ambingkan persoalan duniawi. Lihatlah ada banyak berkat sudah Tuhan berikan untuk kita, bukan?

Ya Allah Yang Mahakasih, penuhilah aku dengan hati yang gembira, supaya aku memperoleh kekuatan untuk melawan persoalan dunia dengan senjata rohani dari hati yang penuh syukur dan percaya kepada-Mu. Amin.

 

Tinggalkan Pesan