Mgr-Herman-Joseph-Sahadat-Pandoyoputro-OCarm_022

Sebagai pendidik dan sekolah nilai-nilai kemanusiaan dan iman, keluarga harus membangun kerjasama dengan komunitas sekolah, negara, dan Gereja. Tiga lembaga itu menurut kodratnya, juga mempunyai tugas dan tanggungjawab memberikan pendidikan kepada anak-anak. Tetapi pelaksanaan tugas dan hak ketiga lembaga itu bersifat kontributif, karena orangtualah pendidik utama dan pertama bagi anak-anak.

Uskup Malang Mgr Herman Joseph Sahadat Pandoyoputro OCarm menulis hal itu dalam Surat Gembala Prapaskah 2015 Keuskupan Malang yang bertema “Keluarga Sehat akan Mewujudkan Gereja yang Kuat” (Luk 4:18-19).

Kesadaran bahwa keluarga merupakan fondasi Gereja, jelas Mgr Pandoyoputro, mengingatkan refleksi teologis dalam pertemuan keluarga sedunia yang menegaskan bahwa membangun keluarga yang sehat harus diletakkan pada  kerangka pikir imbauan Gereja kepada keluarga-keluarga untuk kembali pada jatidiri sendiri dan tugas perutusannya.

Uskup Malang lalu mengutip imbauan Paus Yohanes Paulus II beberapa puluh tahun lalu melalui imbauan apostolik Familiaris Consortio yang mengatakan: “Keluarga, jadilah sebagaimana seharusnya!”

Menyikapi imbauan itu dan menegaskan arah gerakan APP Keuskupan Malang, Mgr Pandoyoputro mengatakan bahwa para orangtua memiliki tanggungjawab untuk membina dan menumbuhkan keluarga yang sehat. “Sehat di sini bukan sekedar tercukupi kebutuhan jasmani melainkan keluarga juga disempurnakan dengan pemahaman nilai-nilai luhur iman kristiani untuk dihayati dalam kehidupannya.”

Dijelaskan, menumbuh kembangkan kesehatan iman kristiani dalam arti sejatinya adalah bagaimana nilai-nilai, baik nilai spiritualitas (iman, harap dan kasih) maupun nilai moral sosial (keadilan, kebenaran, kedamaian), ditanamkan dan menjadi kesadaran hidup keluarga. “Kesadaran bahwa keluhuran martabat perkawinan dan jalan kesucian orangtua, ibu dan bapak tidak lain adalah keberanian membentuk jiwa anak-anaknya dalam Kristus dengan menanamkan nilai-nilai iman kristiani dengan benar dan tegas, khususnya pada situasi di mana tata nilai dan martabat keluhuran manusia sangat subjektif sekali.”

Penegasan bahwa orangtua adalah pendidik utama dan pertama bagi anak-anak dalam kehidupan iman dan moral, jelas Uskup Malang, bukanlah suatu pengajaran yang tanpa dasar. “Dasar-dasar tersebut dapat kita temukan dalam Kitab Suci dan beberapa ajaran Gereja.”

Dalam surat gembala itu, Mgr Pandoyoputro juga mengarahkan umat untuk menghidupi dengan baik dan benar lima pilar Gereja yani Persekutuan (Koinonia), Liturgi (Leiturgia), Pewartaan Injil (Kerygma), Pelayanan (Diakonia), dan Kesaksian Iman (Martyria), agar semakin membangun budaya pertobatan, dan semakin mampu menyapa kehidupan dan membawa rahmat penebusan.

Tema APP Nasional 2015 adalah “Pola Hidup Sehat dan Berkecukupan” dan penekanan gerakan APP Keuskupan Malang adalah membangun Keluarga Sehat untuk mencapai Gereja yang kuat. Hal ini berarti, jelas Mgr Pandoyoputro, melakukan kegiatan olah rohani dan jasmani yang teratur, terus menerus dan seimbang dalam mencapai pemenuhan kebutuhan hidup manusia.

Kesehatan dimengerti sebagai keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap manusia hidup produktif dan kreatif seturut hidup kristiani. Situasi dan kondisi seperti ini yang membuat manusia mempunyai daya hidup untuk memberdayakan segala sesuatu dengan maksimal, baik yang dimilikinya maupun lingkungan hidupnya demi mewujudkan kesejahteraan bersama, tulis surat itu.

Kepada umat di Keuskupan Malang, Mgr Pandoyoputro menegaskan bahwa mewujudkan kesejahteraan bersama dalam gerakan APP menjadi kuat kalau dimulai dari pondasi Gereja yang pertama dan utama yaitu Keluarga. “Gerakan bersama mewujudkan kesejahteraan tidak ada gunanya kalau sel kebersamaan yaitu keluarga dilalaikan. Keluarga sebagai kekuatan Gereja membutuhkan hal-hal atau nutrisi yang menjadikan dirinya sehat sehingga Gereja menjadi kuat.” (pcp)

Foto Mgr Herman Joseph Sahadat Pandoyoputro Ocarm diambil dari Kawali.org

Tinggalkan Pesan