SONY DSC

Pejabat, guru, pengawas, penyuluh dan staf umum Bimbingan Masyarakat (Bimas) Katolik bekerja di tengah masyarakat untuk meraih cita-cita dan panggilan yang sama meski berbeda dalam tugas dan fungsi. Dalam panggilan tugas itu mereka selalu diliputi tawa dan tangis, pro dan kontra, dukungan dan penolakan.

Namun mereka bersyukur karena dipersatukan dalam misi besar untuk mewujudkan kualitas umat yang 100 persen Katolik dan 100 persen Indonesia, sambil terus mengajak umat dan masyarakat untuk terlibat dalam membangun bangsa Indonesia.

Direktur Jenderal (Dirjen) Bimas Katolik Kementrian Agama RI Eusabius Binsasi berbicara saat membina aparatur Bimas Katolik Kementrian Agama Propinsi Sulawesi Utara di Aula Kantor Kementrian Agama Propinsi Sulut, 20 Maret 2015. Pembicara lain adalah Kakanwil Kemenag Sulut Haji Suleman Awad.

Kegiatan yang berlangsung sehari sesudah lokakarya Revisi Kurikulum Sekolah Tinggi Pastoral (STIPAS) Tomohon itu dimaksudkan untuk meningkatkan profesionalisme dan budaya kerja bagi pegawai Bimas Katolik di lingkungan Kementrian Agama Propinsi Sulut.

Menurut Dirjen, aparatur Bimas Katolik mesti tahu isi perut Gereja Katolik serta memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang ajaran, karya, liturgi dan moralitas Gereja. “Namun sebagai bagian bangsa ini, kita mesti tahu juga aneka peraturan perundangan-undangan dalam kehidupan berbangsa tanpa melupakan Pancasila, UUD 45, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika,” kata Eusabius Binsasi seraya mengajak peserta meningkatkan profesionalisme, memiliki integritas, inovatif, tanggungjawab dan keteladanan.

Saat ini, jelas dirjen, Bimas Katolik mengelola 20 STIPAS, 17 Sekolah Menengah Agama Katolik (SMAK), yang semuanya milik keuskupan namun ijin operasional dikeluarkan oleh Dirjen Bimas Katolik. Juga dijelaskan tentang petunjuk teknis PAUD Taman Seminari guna mempersiapkan anak usia 4-6 sebelum masuk SD.

Suleman Awad mengatakan, dia belum pernah mengalami keonaran yang dibuat oleh umat Katolik di tengah kehidupan beragama. Bahkan dia kagum melihat umat Islam yang bekerja di Gereja Kerahiman Ilahi dari Paroki Roh Kudus Tomohon. Itu “merupakan wujud torang samua basudara,” katanya.

Kerukunan umat beragama, lanjutnya, mengandaikan kerelaan menerima adanya perbedaan, menghargai perbedaan, bekerjasama dalam perbedaan, dan saling mendoakan. “Menerima perbedaan sebagai kekayaan dan tetap saling menghargai dan bekerjasama untuk membangun masyarakat atas dasar nilai dan ajaran agama kita.”

Keluarga besar Kementrian Agama, tegas Suleman, perlu memastikan pemahaman nilai-nilai agama, agar umat mencintai, takut dan taat kepada Tuhan, menjalankan perintah-Nya dan menjauhkan aneka larangan. “Kita dipanggil untuk memastikan kerukunan antarumat beragama, meningkatkan kualitas pendidikan agama dan keagamaan, peningkatan kualitas ibadah haji dan peningkatan tata kelola pemerintah yang baik.”

Pembimas Katolik Kementrian Agama Propinsi Sulut Joula Makarawung menjelaskan bahwa Bimas Katolik Sulut melayani umat dan masyarakat Katolik yang tersebar di 15 kabupaten dan kota, namun baru tujuh yang memiliki struktur Bimas. Dalam relasi kemitraan dengan Gereja, lanjutnya, Bimas Katolik Sulut diutus untuk melayani 50 paroki di Keuskupan Manado.

“Kiranya dengan pencerahan yang kami terima hari ini kami mendapatkan kembali kekuatan untuk terus berjuang melanjutkan tugas perutusan itu, dan sebagai anak kami merasa diteguhkan di tengah berbagai kesulitan di medan tugas,” kata Makarawung. (Sales Tapobali)

 

1 komentar

Tinggalkan Pesan