Membuat Lubang Resapan Biopori

Alam merupakan saudara yang perlu kita rawat dan kasihi, dan tindakan pelestarian lingkungan hidup merupakan bentuk nyata dari ungkapan iman kita kepada Tuhan. Mencintai alam berarti harus mau dan berani menjaga kelestariannya, karena itu semua merupakan tanggung jawab kita bersama sebagai umat beriman.

Uskup Bogor, Mgr Paskalis Bruno Syukur berbicara dalam acara sosialisasi dan pelatihan pembuatan Lubang Resapan Biopori (LRB), yang dilakukan oleh Paroki Katedral Santa Perawan Maria (Beatae Mariae Virginis, BMV) Bogor di bawah koordinasi Pastor Mikael Endro Susanto Pr dan Badan Sosial Lintas Agama (BASOLIA) Kota Bogor, di Katedral BMV Bogor, tanggal 12 Maret 2015.

Kegiatan itu dihadiri juga oleh Ketua BASOLIA KH Zaenal Abidin, peneliti di IPB sekaligus pelopor LRB Profesor Kamir R Brata, CEO Radar Bogor Hazairin Sitepu, Kepala Paroki BMV Katedral Bogor Pastor Dominikus Saviyo Tukiyo Pr, para tokoh agama, penggerak Biopori Bogor, dan juga siswa-siswi serta pengajar Sekolah Budi Mulia dan Seminari Menengah Stella Maris Bogor.

Menurut Mgr Bruno Syukur, seperti dilaporkan dalam web Keuskupan Bogor keuskupanbogor.org, Gereja Katolik mendukung gerakan pembuatan LRB sebagai gerakan bersama. “Oleh karena itu, semoga semua umat Keuskupan Bogor pun dapat menjalankan praktik biopori di lingkungannya masing-masing,” kata uskup.

Setelah sambutan-sambutan dan pengarahan uskup itu, peserta mempraktikkan pembuatan LRB di taman samping gereja BMV Katedral.

Biopori adalah lubang-lubang kecil di tanah yang terbentuk secara alami dari aktivitas berbagai organisme di dalam tanah seperti cacing, semut, akar tanaman, dan lain-lain. Lubang-lubang itu sangat bermanfaat untuk meningkatkan daya resap air oleh tanah.

Semakin tinggi daya resap air, semakin kecil pula peluang terjadinya aliran air di permukaan tanah, dan itu berarti mengurangi peluang terjadinya banjir. Tak hanya mencegah banjir, biopori juga bermanfaat untuk menambah kesuburan tanah dan menghasilkan pupuk kompos yang dapat digunakan untuk budidaya tanaman.

Biopori ini mudah diperbanyak secara artifisial dan mudah diterapkan di berbagai lokasi, yakni dengan membuat lubang silindris secara vertikal ke dalam tanah dan mengisinya dengan bahan-bahan organik, misalnya sampah-sampah rumah tangga. Kompos yang terbentuk dari timbunan bahan-bahan organik tersebut akan meningkatkan aktivitas organisme di dalam tanah, sehingga memperbanyak biopori alami.

Metode resapan air inilah yang diberi nama LRB. Metode LRB ini populer sebagai bagian dari program kerja yang disponsori oleh berbagai instansi pemerintah, swasta, sekolah, maupun lembaga swadaya di Indonesia, termasuk di kota Bogor.***

 

Tinggalkan Pesan