Mgr.-John-Philip-Saklil-foto-bersama-peserta-Rapat-Pleno-Komkep-KWI-702x336

OMK yang hilang adalah mereka yang mundur dari kegiatan karena suatu alasan atau sebab, mereka yang tidak kelihatan atau tidak disadari keberadaannya, mereka yang sudah melakukan hal-hal besar dan berprestasi namun tidak dikenang, dan mereka yang lenyap begitu saja.

Penegasan itu disampaikan oleh Sekretaris Eksekutif dari Komisi Kepemudaan (Komkep) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Pastor Antonius Haryanto Pr dalam paparannya tentang “Siapakah OMK yang hilang?” di depan peserta Rapat Pleno Komisi Kepemudaan KWI yang berlangsung di Rumah Doa Guadalupe, Duren Sawit, Jakarta Timur, 3-6 Maret 2015.

Menanggapi penegasan itu, Stefanus Rizal seorang motivator yang juga menjadi pembicara dalam rapat itu menegaskan bahwa pendamping OMK hendaknya prihatin dan bertanggungjawab untuk mencari dan menemukan OMK yang hilang. Mirifica News milik KWI melaporkan peristiwa itu tanggal 9 Maret 2015.

“Kehadiran pendamping menjadi penting terutama bagi OMK yang mengalami luka batin sehingga mereka menjadi mundur, tidak kelihatan, tidak dikenang, dan lenyap. Yang mereka butuhkan bukan nasihat, melainkan orang lain yang hadir,” jelas Rizal.

Rizal menjelaskan, belum tentu orang muda itu mengerti bahwa kehidupannya yang sulit itu adalah proses untuk membentuk dan menempa dirinya. “Tidak hanya itu, mereka bahkan ditinggal dan yang lebih parah, diabaikan. Akibatnya, banyak OMK menghilang dan beralih ke organisasi lain. Padahal, organisasi Katolik adalah modal yang cukup untuk dunia kerja,” tegasnya.

Maka, Ketua Komkep KWI Mgr John Philip Saklil melihat pentingnya para pendamping untuk selalu menjadi teman sepeziarahan OMK. “Proses penyelamatan orang muda hanya bisa terjadi apabila kita menjadi sahabat mereka,” pesan Mgr Saklil kepada 51 pendamping OMK dari 35 keuskupan yang hadir.

Seraya berharap agar para pendamping memposisikan diri sebagai sahabat dalam setiap pelatihan dan pendampingan, Mgr Saklil menegaskan, “OMK tidak butuh dikasihani, melainkan perlu diberi kesempatan untuk mengaktualisasikan dirinya. Kita perlu menciptakan peluang itu bagi mereka.”

Dalam laporan itu juga dijelaskan bahwa Komkep KWI sedang bekerjasama dengan Komisi PSE KWI dalam pembinaan orang muda yang berwirausaha. Tujuannya bukan sekedar untuk membangun kesadaran wirausaha pada orang muda, tetapi juga untuk menemukan kembali OMK yang selama ini disibukkan dengan bisnisnya, dan mungkin tidak tersentuh oleh para pendamping, serta Gereja.

Peserta sudah kembali ke keuskupan masing-masing dan akan berupaya menjawab harapan Mgr Saklil untuk mengajak dan mendengar dari orang muda, menjadi fasilitator, dan membiarkan orang muda bersaksi, karena menurut Uskup Timika itu, “buruk baiknya mereka, itulah wajah Gereja dan ketidakmampuan mereka mengaktualisasikan diri adalah ketidakmampuan Gereja.” (pcp berdasarkan laporan Ami yang diturunkan dalam Mirifica News)

 

Tinggalkan Pesan