uskup bruno dan rm joni

Uskup Bogor Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM meminta kepada wartawan Katolik agar dalam menjalankan tugas jurnalistik selalu berpihak pada kebenaran demi kebaikan bersama. Untuk mewartakan kebenaran, wartawan perlu memiliki relasi dengan Allah, karena hanya Allah yang bisa menuntun mereka menjadi militan dan “selalu tampil beda dalam hal kebaikan.”

Mgr Bruno Syukur berbicara dalam homili Buka Tahun Baru 2015 Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) di lantai 15 Gedung Yustinus, Universitas Katolik Atmajaya Jakarta, tanggal 27 Februari 2015. Kepala Paroki Tebet Pastor Martin Joni OFMCap menjadi konselebran Misa itu.

Yesus, jelas uskup itu, mengajarkan umat Katolik untuk selalu berbuat baik, “maka seyogyanya peran yang dilakukan wartawan Katolik saatini sejatinya mewartakan kebenaran untuk kebaikan bersama,” dan seperti ajakan Paus Fransiskus, semakin terbuka, membawa sukacita atau menjadi senasib dan sepenanggungan dengan sesama.

Bahkan uskup menyebut wartawan sebagai nabi yang sesungguhnya menjalin relasi dengan Allah dalam karyanya. “Jikalau nabi tidak mengandalkan Allah, maka bisa dipastikan dia nabi palsu.”

Selain wartawan Katolik yang datang dari berbagai daerah itu, turut hadir juga Presdir PT Bogasari Flour Mills Fransiscus Welirang, anggota Kompolnas Prof Adrianus Meliala, dan pendiri dan mantan ketua PWKI Putut Prabantoro.

Fransiscus Welirang berharap wartawan ‘jangan selalu setia’ dengan paparan data nara sumber, “tapi lebih mengutamakan kebenaran yang membawa manfaat.” Selain itu dia mengemukakan tiga keprihatinan bersama saat ini yakni konflik KPK dan Polri, kasus begal motor, dan kenaikan harga beras.

“Doa untuk KPK dan Polri” memang menjadi tema temu PWKI 2015 itu. Kedua lembaga itu, menurut Ketua PWKI Eman Dapa Loka, harus diselamatkan dengan peran wartawan Katolik.

Sementara itu, Adrianus Meliala mengatakan ada banyak fakta yang dianggap oleh masyarakat sebagai kebenaran yang harus diungkap secara jujur oleh kedua lembaga itu. “Media massa kadang menjungkirbalikkan fakta di balik kasus KPK dan Polri, padahal ketiga lembaga yakni KPK, Polri dan Kejaksaan butuh sinergi untuk memberantas korupsi.”

Ada kisah tentang seorang wartawan yang masuk surga, cerita Mgr Bruno Syukur. “Wartawan itu masuk surga, tapi anehnya tidak ada tempat khusus untuk kelompok wartawan. Kemudian ia bertemu dan bertanya kepada Santo Petrus. Petrus pun bingung karena di tempat itu tidak ada tempat yang tertulis khusus untuk wartawan. Para malaikat di sekitar itu pun bertambah bingung. Kemudian wartawan itu bersama Santo Petrus berdiskusi dengan Yohanes. Atas saran Yohanes, disepakati bahwa wartawan itu harus berada di tempat para nabi.”

Kisah itu, tegas Uskup Bogor, menunjukkan bahwa peran nabi sebagai corong penyampaian Firman Allah, yang mewartakan kebenaran, sangat cocok disejajarkan dengan peran wartawan. Maka,  berdasarkan ajaran teologi kehidupan uskup itu mengatakan bahwa profesi wartawan hendaknya mengarah kepada Allah. (Konradus R Mangu)

 

Tinggalkan Pesan