Santo Marinus

PEKAN PRAPASKAH II (U)
Santo Marinus; Santo Nikolo d` Albergati; Santa Kungunde

Bacaan I: Yes. 1:10.16-20
Mazmur: 50:8-9.16bc.17.21.23; R:23b
Bacaan Injil: Mat. 23:1-12

Sekali peristiwa berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: ”Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi.
Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.

Renungan

Menurut Nabi Yesaya, orang jahat tidak suka memperhatikan pengajaran Allah sehingga hidupnya kacau. Manusia yang baik adalah manusia yang tahu mengubah hidupnya menjadi semakin baik. Kebaikan manusia adalah jika ia membersihkan dirinya dari perbuatan jahat. Apakah kita masih terbiasa melakukan hal yang merugikan orang lain?

Apakah kita sudah berusaha menjadi baik dan belajar mempraktikkan hal-hal baik, meskipun kita cenderung menyukai yang jahat dan menyenangkan kita?

Allah selalu mengampuni kita, agar dengan belas kasihan-Nya, hidup kita menjadi semakin baik dan memberkati orang-orang di sekitar kita. Pengampunan dari Allah mempunyai tujuan yang lebih tinggi daripada balas dendam dan hukuman. Betapa pentingnya kita meniru apa yang telah dilakukan Allah atas hidup kita. Allah mempunyai kuasa untuk menghukum dan mengasihani, tetapi Dia lebih suka mengasihani. Orang yang suka menghukum tidak mengenal hukum kasih dari Allah, karena lebih mementingkan harga dirinya sendiri.

Marilah membangun sikap rendah hati dan siap melayani, agar Kerajaan Allah terwujud di dunia tempat kita hidup dan bergaul dengan banyak orang ini.

Ya Allah, ajarlah aku bersikap rendah hati, mengakui kelemahan dan kekuranganku yang selalu Engkau pahami. Semoga aku meniru teladan-Mu dan mengusahakan hidup yang baik dan berkenan di hatimu. Amin.

Tinggalkan Pesan