FPLA

Ketika masih kecil di Desa Sriwidodo, Kecamatan Gunung Balak, Provinsi Lampung, kadang-kadang  saya bermain dekat gereja dan berkesempatan melihat pendeta memberkati pasangan yang menikah di gereja itu. Bahkan kalau ada teman dari Kristen datang membantu mengepel masjid yang biasa digunakan saya untuk berdoa.

Suatu ketika gereja yang terbuat dari kayu itu roboh diterjang angin dan badai. Praktis gereja itu harus dibangun kembali. Sebagai tokoh masyarakat di desa tersebut orangtua saya menggerakan seluruh masyarakat membantu membangun kembali gereja itu, sehingga bisa digunakan kembali. Warga pun membantu dengan senang hati.

Anak kecil itu kini menjadi Ketua Forum Pemuda Lintas Agama (FPLA) Kabupaten Tangerang. Namanya Rois Maliki. Dia menuturkan kisah ini selesai menjadi moderator sebuah talkshow yang menghadirkan sekitar 50 pemuda Kristen, Katolik, Buddha, dan Muslim di Gereja Kristen Jawa (GKJ), Bumi Indah, Tangerang, 15 Februari 2015.

Betapa bahagianya hidup berdampingan dengan kelompok non-Muslim. Itu yang dirasakan Rois Maliki. “Ayah saya KH Buya Nor dikenal sebagai seorang penghulu kampung yang berteman dengan pastor dan pendeta di desa tersebut. Hubungan dengan tokoh agama tersebut seperti keluarga dekat,” kisahnya seraya menambahkan bahwa teman sepermainan saat itu hidup damai berdampingan.

Talkshow bertajuk “Merajut Kebersamaan” yang digagas oleh FPLA Kabupaten Tangerang itu, menghadirkan dua narasumber yakni pengasuh Pondok Pesantren Nur Antika Tigaraksa Tangerang KH Encep Soebandi dan Kepala Paroki Santo Gregorius Agung, Kutabumi, Tangerang, Pastor Andrianus Andy Gunardi Pr.

Menurut Encep Soebandi, silahturahmi senantiasa membawa berkah kebersamaan, kerukunan, kedamaian, dan kesejukan. “Ketegangan antarumat beragama bisa terjadi karena kurang perjumpaan antarumat beragama. Seperti konsep yang diajarkan Nabi Muhammad SAW dalam pesannya, jadilah manusia yang baik bagi sesama. Artinya setiap orang harus menjadi berkat bagi orang lain.”

Pastor Gunardi menekankan pentingnya terus-menerus membangun kebersamaan. “Selama ini mungkin terjadi ketegangan antarumat beragama karena kedua belah pihak selalu melihat perbedaan. Perbedaan itu sesungguhnya adalah rahmat, maka kita perlu merawat perbedaan itu sehingga menjadi suatu yang harmonis.”

Imam itu juga mengisi talkshow itu dengan cerita. “Saya menjalani masa kecil di Kranji, Jakarta Timur. Sejak SD saya bergaul dengan warga sekitar yang justru berbeda agama. Kebersamaan saya rasakan saat lomba cerdas cermat di antara RT serta di antara RW di sana. Pergaulan saya bukan hanya dengan orang Katolik melainkan dengan teman-teman Muslim. Begitu juga di tingkat SMA, saya bertemu dan bergaul dengan sesama teman yang berbeda agama.”

Ketegangan terjadi karena ada kecurigaan satu sama lain. “Kecurigaan dengan kelompok lain mesti dihindari. Ini salah satu cara mencegah ketegangan antarpemeluk agama,” Pastor Gunardi yakin. (Konradus R Mangu)

Foto menggambarkan dari kiri ke kanan: Pastor Andrianus Andi Gunardi Pr, Encep Sobandi dan Rois Maliki

Tinggalkan Pesan