DSCN0471 (2)

Lebih dari 1000 pasangan suami-istri yang tergabung dalam Marriage Encounter (ME) wilayah Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) dan Keuskupan Bandung  memenuhi Gereja Paroki Santo Laurensius, Alam Sutera, Tangerang, dan seorang uskup mengajak mereka untuk berani melawan godaan setan.

Di gereja itu mereka merayakan Misa Hari Perkawinan se-Dunia (World Marriage Day) ke-34 yang dipimpin Uskup Bandung Mgr Antonius  Subianto Bunjamin OSC dengan konselebran Kepala Paroki Alam Sutera Pastor Yohanes Hadi Suryono Pr, Vikjen KAJ Pastor Samuel Pagestu Pr, Ketua Seksi Kerasulan Keluarga KAJ Pastor Erwin Santoso MSF dan lima imam lainnya.

Dalam homili Misa 22 Februari 2015 itu, Mgr Subianto mengajak keluarga agar berani melawan godaan setan. “Jikalau tidak bisa mengatasi godaan terus menerus dalam keluarga, keluarga akan kehilangan ketahanan dan kekudusan, sehingga keluarga tidak memancarkan kasih,” kata uskup.

Untuk menjaga ketahanan keluarga, Mgr Subianto membantu mereka memperkuat kehidupan keluarga dengan empat pilar penting yakni kehidupan yang penuh kedamaian, kehidupan ber-liturgi yang indah yang ditandai semangat doa, pewartaan Injil serta pelayanan kasih, serta pelayanan satu sama lain.

Keluarga adalah Gereja yang dipanggil Allah bukan saja sebagai penanam benih iman pertama bagi seluruh anggota keluarga, tetapi untuk “menjadi cahaya dunia yang berarti terang bagi bangsa-bangsa.”

Dalam acara itu terungkap bahwa  tujuan peringatan itu untuk merenungkan panggilan orangtua terlebih pasangan yang telah melewati pengalaman suka maupun duka, sekaligus meresapi rahmat Tuhan sehingga membimbing serta mengarahkan keluarga untuk setia dalam janji perkawinan.

Hari Perkawinan se-Dunia adalah perayaan tahunan yang dilaksanakan di hari Minggu kedua bulan Februari. Acara itu diawali oleh ME se-Dunia dari Amerika bersama gerakan ME Katolik, dengan tujuan agar  Hari Perkawinan se-Dunia  itu “menghargai suami dan isteri sebagai dasar keluarga, unit dasar masyarakat, serta menghormati keindahan kesetiaan, pengorbanan dan sukacita mereka dalam hidup perkawinan sehari-hari.”

Ide perayaan itu dimulai di Baton Rouge tahun 1981, saat pasangan-pasangan suami isteri mendorong walikota, gubernur dan uskup untuk mengumumkan Hari Valentin sebagai “We Believe in Mariage Day” (Hari Kami Yakin akan Perkawinan). Acara itu begitu sukses. Ide itu disampaikan kepada dan diadopsi oleh Pimpinan Nasional ME se-Dunia.

Tahun 1982, 43 gubernur secara resmi mengumumkan hari itu dan perayaan-perayaan pun tersebar ke pangkalan-pangkalan militer AS di beberapa negara-negara asing. Tahun 1983, namanya berubah menjadi “Hari Perkawinan se-Dunia”, yang dicanangkan dirayakan setiap tahun pada hari Minggu kedua di bulan Februari. Tahun 1993, Paus Yohanes Paulus II, memberikan Berkat Apostolik pada Hari Perkawinan se-Dunia. Perayaan-perayaan Hari Perkawinan se-Dunia terus tumbuh dan menyebar ke lebih banyak negara.

Moto atau tema Hari Perkawinan se-Dunia adalah “Saling Mengasihi,” perintah yang diberikan oleh Yesus dalam Yohanes 15:12, perintah sederhana tapi menantang. Mgr Subianto pun mengakui bahwa Hari Perkawinan se-Dunia adalah perwujudan kasih antara satu dengan yang lain guna menjadi keluarga yang kudus, menyerupai Keluarga Nazareth. “Untuk mewujudkan keluarga kudus atau pemurnian kehidupan keluarga diperlukan suatu proses, pergulatan yang panjang, ibarat melewati padang gurun.”

Padahal di saat ini, Mgr Subianto mengutip Paus Fransiskus, keluarga Katolik “sedang mengalami krisis budaya, yang berdampak pada melemahnya sel-sel dasar masyarakat.” Selain itu, lanjut uskup, godaan zaman sangat beragam. “Untuk itu tidak ada pilihan lain, keluarga harus menghidupkan semangat doa dalam keluarga untuk menghadapi berbagai godaan yang berpotensi menghancurkan Gereja terkecil, keluarga.” (Konradus R Mangu/pcp)

 

Tinggalkan Pesan