20150215_092844 (1)

“Saya menjadi bagian dari saudara-saudara yang sedang sakit,” kata Uskup Agung Semarang Mgr Johannes Pujasumarta yang mengaku sedang menjalani pengobatan penyakitnya. Keadaan itu, kata Mgr Pujasumarta, membuat dirinya menegaskan iman seperti dalam syahadat para rasul, “Aku percaya kepada Allah pencipta langit dan bumi, baik yang kelihatan maupun yang tak kelihatan.”

”Ada bagian-bagian tubuh yang tidak kelihatan, tetapi bekerja,” kata uskup agung seraya mencontohkan otak yang tidak kelihatan tetapi bekerja, dan virus-virus serta bermacam-macam sel, bahkan sel kanker yang terus bekerja bahkan bisa merusak dan menggerogoti organ­-organ tubuh.

Mgr Pujasumarta mengajak umat supaya menghayati sakitnya sebagai bagian penderitaan Kristus. “Pada hari orang sakit sedunia ini marilah kita menghayati betul-betul kesakitan kita, kita jadikan sakit itu sebagai bagian kesakitan dan penderitaan Kristus. Dengan begitu, sakit kita bisa kita rasakan menjadi lebih ringan.”

Prelatus itu berbicara dengan orang-orang sakit dan pekerja medis di Rumah Sakit Santa Elisabeth Semarang dalam perayaan Ekaristi, 15 Februari 2015, untuk memperingati Hari Orang Sakit se-Dunia.

Sebagai orang yang sakit, di saat-saat tertentu Mgr Pujasumarta mengaku merasa sedih dan bertanya kenapa sampai seperti itu. Tapi kesedihan itu sirna saat disadari bahwa Kristus juga pernah mengalami penderitaan lebih hebat. “Tidak hanya tangan yang dipaku membuat Dia menderita, tetapi seluruh tubuh didera oleh luka-luka begitu hebat dan sakit kita itu bisa kita gabungkan dengan penderitaan Kristus.”

Penderitaan Kristus tidak sia-sia tetapi menjadi bermakna bagi keselamatan seluruh dunia. “Saya ingin kita juga mempunyai sikap seperti Kristus. Kita menderita, kita satukan penderitaan dengan Kristus dan dengan demikian penderitaan kita, ketika digabungkan dengan penderitaan Kristus menjadi sesuatu yang tidak sia-sia bagi keselamatan diri kita maupun keselamatan orang lain.”

Kalau digabungkan dengan Kristus yang juga menderita, menurut uskup agung, maka penderitaan itu menjadi penderitaan bermakna. “Menurut iman kita, peristiwa-peristiwa berat bisa kita rayakan,” kata Mgr Pujasumarta mengenang kematian Kristus yang dirayakan setiap kali dalam Ekaristi.

“Perayaan Ekaristi hari ini kita secara khusus merayakan Hari Orang Sakit se-Dunia. Betapa banyak orang sakit sedunia. Kita mohon supaya penderitaan banyak orang sakit sedunia mendapatkan makna keselamatan karena digabungkan dalam penderitaan Kristus,” kata uskup agung.

Biasanya orang sakit memiliki pengalaman. Uskup agung itu juga punya pengalaman. “Yang saya alami adalah pengalaman ketidakberdayaan dalam diri. Dalam ketidakberdayaan itulah hati seseorang bisa tergerak dan terbuka, bahwa di seputar kita ada orang lain.”

Dalam kehidupan sehari-hari, jelas Mgr Pujasumarta, mungkin seseorang berpikir dirinya bisa mandiri, semua bisa dilakukan dengan kekuatan sendiri. Tapi pada waktu tak berdaya, “seseorang sadar dirinya tidak bisa berbuat apa-apa, sehingga ia mulai sadar butuh seseorang, dokter atau perawat.”

Dalam peristiwa itu, harap Mgr Pujasumarta, seseorang menjadi semakin beriman kepada Tuhan “yang berarti menjadikan Allah sebagai dasar dan andalan kehidupan kita. Tanpa Allah kita akhirnya bisa mengatakan, kita tidak bisa berbuat apa-apa.”

Dalam Ekaristi itu, Mgr Pujasumarta serta Pastor Bernardus Haryasmara MSF dan Pastor Bernardinus Agung Prihantana MSF mengurapi para pasien dengan minyak suci.

Humas RS Santa Elisabeth Semarang Probowatie Tjondronegoro mengatakan, pasien tidak hanya membutuhkan obat dalam penyembuhan sakitnya tetapi juga kepercayaan terhadap Tuhan. “Maka, perayaan Ekaristi dalam rangka hari orang sakit sedunia diadakan,” tegasnya. (Lukas Awi Tristanto)

20150215_094420

1 komentar

Tinggalkan Pesan