Pastor Prem Kumar SJ dibebaskan

Imam Yesuit yang ditahan delapan bulan dibebaskan

KABUL, Afganistan – Pastor Alexis Prem Kumar, imam Yesuit dari India yang disandera di Afghanistan, dikeluarkan setelah delapan bulan ditahan. Jesuit Refugee Service (JRS) “sangat berterima kasih kepada pemerintah India” untuk perannya dalam proses pembebasan itu. “Delapan bulan ini bagi kita, kolega dan teman-teman, teristimewa keluarga Pastor Prem, merupakan periode panjang ketidakpastian dan pencobaan mengerikan. Kami menyadari upaya-upaya yang dilakukan untuk pembebasan imam itu di berbagai tingkat dan sangat berterima kasih kepada orang-orang yang berdoa, terutama anak-anak di sekolah tempat ia diculik,” kata Direktur JRS, Pastor Peter Balleis. Imam itu lelah secara psikologis tapi sehat secara keseluruhan. Pastor Kumar disandera tanggal 2 Juni 2014 di Afghanistan barat oleh sekelompok orang tak dikenal, saat mengunjungi sekolah yang dijalankan JRS untuk orang Afghanistan di pemukiman sekitar 34 Kilometer dari Herat. Ketika pulang ke Herat, imam berusia 47 tahun itu dihentikan dan dipaksa masuk sebuah kendaraan oleh sekelompok orang bersenjata. (Agenzia Fides)

Santo Gregorius dari Narek jadi Pujangga Gereja

KOTA VATIKAN – Paus Fransiskus telah menyatakan bahwa penyair dan rahib dari Armenia, Santo Gregorius dari Narek sebagai Pujangga Gereja Universal.  Ketika bertemu dengan Kardinal Angelo Amato, Prefek Kongregasi Penggelaran Kudus tanggal 23 Februari 2013 sebelum berangkat ke Aricca untuk retret Prapaskah, Paus mengkonfirmasi usul yang disampaikan oleh Sidang Umum Kongregasi itu untuk menganugerahkan gelar Pujangga Gereja Universal pada orang kudus abad ke-10 itu. Santo Gregorius dari Narek dihormati banyak orang sebagai salah seorang figur terbesar dari kaum religius Armenia di abad pertengahan. Santo Gregorius, yang lahir di Kota Narek sekitar tahun 950, berasal dari jajaran cendekiawan dan orang Gereja. Santo Gregorius dididik dalam bimbingan ayahnya, Uskup Khosrov, penulis komentar terdahulu tentang Liturgi Ilahi, dan dalam bimbingan Anania Vartabed, ibu abdis dari Biara Narek. Dia dan kedua saudaranya memasuki kehidupan monastik pada usia dini, dan Santo Gregorius segera mulai berkarya dalam musik, astronomi, geometri, matematika, sastra, dan teologi. (Radio Vatikan)

Paus dan Kuria Romawi lakukan Retret Rohani

ARICCIA, Italia –  Paus Fransiskus dan anggota-anggota Kuria Romawi memulai retret rohani tahunan mereka pada hari Minggu pertama Prapaskah tanggal 22 Februari 2015. Retret itu berlangsung di kota Ariccia, di tengah Casa Divin Maestro, sekitar 20 km sebelah selatan dari Roma. Paus tinggal di sana, bersama dengan anggota lain dari Kuria Romawi, hingga tanggal 27 Februari 2015. Selama retret itu, Paus Fransiskus tidak akan melakukan pertemuan atau audiensi umum, termasuk tidak ada audiensi umum hari Rabu. Imam yang memimpin latihan rohani itu adalah biarawan Karmelit, Pastor Bruno Secondin. Refleksi-refleksi akan berfokus pada akar-akar iman Kristiani dan kekuatan batin untuk menjalaninya secara konsisten. Mereka juga akan berusaha untuk mendalami perjumpaan dengan Allah dan penyebaran Injil. (Radio Vatikan)

Demokrasi Argentina sakit, perlu warga berkualitas baik

SAN FRANCISCO – Uskup San Francisco Mgr Sergio Osvaldo Buenanueva, dalam sebuah pernyataan yang dikirim ke Fides mengatakan bahwa “demokrasi Argentina sedang sakit, perlu terapi dan beberapa solusi yang efektif.” Mgr Buenanueva membuat pernyataan itu tanggal 13 Februari 2015 berkaitan dengan pemilihan presiden mendatang di negara itu, yang akan diselenggarakan tanggal 25 Oktober 2015. “Negara ini membutuhkan kualitas masyarakat dan warga negara yang baik,” lanjut uskup itu. Mengacu pada kematian tragis jaksa Alberto Nisman, uskup itu menggambarkannya sebagai fakta yang mengguncang kesadaran penduduk menyebabkan tabrakan keras dengan kenyataan. “Argentina perlu warga berkualitas baik, tugas politik mensyaratkan pilihan yang jelas untuk kebenaran dan kebaikan bersama, dan ini hanya mungkin dengan energi spiritual dan moral, dan kami orang Argentina memiliki energi ini, coba lihat sejarahnya,” kata Mgr Buenanueva. (CE, Agenzia Fides)

Masa depan tak pasti, Nepal gagal menyepakati konstitusi

KATHMANDU – Majelis Konstituante Nepal gagal menyetujui RUU baru dan batas waktunya 22 Januari. Langkah ini membuka masa depan ketidakpastian dan ketidakstabilan serta mengakibatkan kekuatiran di kalangan kaum minoritas agama bahwa jaminan sekularisme dan kebebasan beragama mungkin akan benar-benar runtuh. Majelis berupaya memberikan UU baru yang secara legal menetapkan  “Republik Nepal,” sebagaimana diatur dalam perjanjian damai yang mengakhiri konflik satu dekade. Sebelum 2006, Nepal resmi merupakan “Kerajaan Hindu.” Para pemimpin agama-agama utama di Nepal, menyatakan keprihatinan bahwa berbagai demonstrasi dari partai oposisi akan membuat ketidakstabilan. Januari PBB mendesak partai politik Nepal untuk melipat gandakan upaya mereka untuk memastikan terbentuknya “Konstitusi inklusif” demi kepentingan negara, dan guna “melanjutkan negosiasi konstitusional dalam semangat fleksibilitas. LSM Catholic Solidarity Worldwide juga meminta “agar konstitusi baru Nepal itu inklusif dan melindungi hak-hak semua agama, terutama kelompok minoritas agama.” (PA, Agenzia Fides)

Uskup Agung Romero, contoh bagi banyak orang

KOTA VATIKAN – Paus Fransiskus resmi menyatakan bahwa Uskup Agung San Salvador Mgr Óscar Arnulfo Romero, yang dibunuh oleh pasukan kematian sayap kanan tahun 1980 saat merayakan Misa di El Salvador, adalah seorang martir karena iman. Pengakuan itu, tulis Maria Barbagallo, menimbulkan rasa syukur mendalam. “Yang dilakukan Gereja itu juga mencakup heroisme banyak kaum religius pria dan wanita yang mengalami penganiayaan dan kekerasan. Sepertinya, Tahun Hidup Bakti merupakan karunia sejati Gereja untuk kaum religius. Saya ingat jelas, saat subuh 12 Maret 1977, kami mendengar bel pintu berdering di Guatemala. Beberapa imam Yesuit, yang disebut “Para Imam Wilayah 5” (daerah miskin dan terpinggirkan), memberitahu kami tentang pembunuhan Pastor Rutilio Grande García. Saya juga benar-benar ingat peristiwa 24 Maret 1980, saat Mgr Romero tewas. Mungkin hanya kaum religius yang benar-benar memahami realitas itu, karena selain orang miskin dan tertindas, mereka adalah orang-orang pertama yang harus membayar harga dari penganiayaan yang tidak masuk akal itu. Itulah kampanye bahwa kaum religius adalah penyebab utama subversi rakyat.” (L’Osservatore Romano)

Majalah ISIS umumkan eksekusi Umat Katolik yang diculik di Libya

KAIRO – Sebanyak 21 umat Katolik Koptik yang diculik di Libya awal Januari berada di tangan para jihadis ISIS, yang dalam sebuah artikel online memberi isyarat eksekusi mereka sebagai balas dendam terhadap dugaan “kekerasan” yang diderita di masa lalu oleh wanita-wanita Muslim Mesir atas nama Gereja Katolik Koptik. Berita itu dirilis dalam artikel yang dipublikasikan di Dabiq, majalah online resmi ISIS, yang menerbitkan gambar-gambar orang-orang yang diculik mengenakan pakaian berwarna oranye dan dijaga oleh pria-pria bertopeng dan bersenjata. Pose dan situasinya menggambar bahwa para tahanan itu sudah dibunuh oleh jihadis pemotong leher. Keterangan foto menjelaskan bahwa umat Koptik sebagai “tentara salib Mesir” dan mengacu cerita  dua wanita Koptik yang, menurut propaganda jihad, dipaksa oleh Gereja Ortodoks Koptik untuk menarik kembali perpindahan mereka menjadi Islam.(GV Agenzia Fides)

Para uskup Kanada kecewa atas keputusan pengadilan

KANADA – Keputusan bulat Mahkamah Agung Kanada untuk membatalkan larangan negara di dokter-bunuh atas bunuh diri dengan bantuan dokter menunjukkan kecenderungan budaya untuk “mengatur hak-hak individu di atas pertimbangan lainnya,” kata ketua konferensi waligereja Kanada. Uskup Agung Paul-André Durocher mengatakan, para uskup Katolik Kanada “sangat kecewa” atas keputusan Mahkamah Agung, yang dikeluarkan 6 Februari 2015, karena “membuka pintu” untuk bunuh diri dengan bantuan dokter. Pengadilan mengatakan bahwa larangan itu membatasi hak konstitusional seseorang untuk hidup, kebebasan dan keamanan pribadi. Dikatakan bahwa orang dewasa yang sepenuhnya setuju, yang memiliki kondisi medis menyedihkan dan tidak dapat disembuhkan (seperti sakit, penyakit atau cacat) dan yang menyebabkan mereka “menderita parah dan tak tertahankan” memiliki hak untuk bunuh diri dengan bantuan dokter. “Kami harap pengadilan melakukan cara ini,” kata Uskup Agung Durocher, seraya menggambarkan keputusan itu sebagai jalan paling berbahaya. (Radio Vatikan)

 

Tinggalkan Pesan