Suster Dominikan di Irak

Kehadiran terus-menerus dari kaum religius pria dan wanita pemberani di Irak merupakan tanda penting harapan di tengah penderitaan penduduk Kristiani di sana. Itulah tema utama sebuah laporan yang dirilis oleh dua pemimpin Dominikan (OP) yang baru-baru ini mengunjungi Baghdad dan Erbil, kota di bagian utara Irak yang menjadi ibukota wilayah Kurdistan.

Kunjungan di pertengahan Januari itu terjadi atas undangan para bruder dan suster Dominikan di Irak yang sering merasa dilupakan saat mereka berjuang membantu orang-orang Kristiani yang terancam oleh kekerasan sehari-hari dari kaum militan bernama ISIS.

Lebih dari seratus ribu orang, terutama orang-orang Kristiani dan Yazidi, melarikan diri ke Erbil dan wilayah sekitarnya saat kaum militan itu merebut kota Mosul di bulan Juni lalu, seraya mengancam dan membunuh orang-orang yang tidak mau masuk Islam, demikian laporan Radio Vatikan tanggal 20 Februari 2015.

Mantan Master Ordo Dominikan Pastor Timothy Radcliffe mengatakan kepada Philippa Hitchen dari media itu mengapa Barat harus bertanggung jawab dan melakukan apa saja yang bisa dilakukan guna membantu mengakhiri konflik yang kini sedang menghancurkan wilayah itu.

Pastor Timothy mengatakan bahwa cara intervensi Barat di negara itu “telah ikut membakar konflik di kawasan itu ….” Selain itu adalah penderitaan dan meningkatnya ketidaksetaraan.

Saat ini, kata imam itu, tidak mungkin membayangkan dialog apa pun dengan ISIS. Namun, lanjut imam itu, banyak umat Muslim yang mereka ditemui di Baghdad rindu akan dialog dan perjanjian konstruktif dengan Barat.

Imam itu menjelaskan bahwa Ordo Pewarta itu telah mendirikan Akademi Ilmu Pengetahuan Kemanusiaan Baghdad guna menyediakan sekedar tempat dialog dan debat. Dari 5.000 mahasiswa yang terdaftar di akademi itu, 80 persen beragama Islam.

Pastor Timothy memperingatkan adanya “bahaya nyata bahwa salah satu dari komunitas-komunitas Kristiani tertua di dunia akan hilang.” Meskipun sangat bisa dimengerti mengapa orang melarikan diri, namun imam itu juga mengatakan bahwa dia bertemu “banyak orang berani, orang terdidik yang mengatakan kami harus tetap tinggal.”

Ditanya tentang kekerasan yang dialami para bruder dan suster Dominikan di Irak, mantan pemimpin Ordo itu mengatakan bahwa Baghdad adalah tempat yang begitu sulit dan melelahkan sehingga kaum religius berupaya dan secara berkala harus keluar untuk istirahat dan pembaharuan. Daya tahan dan kehadiran mereka secara terus-menerus di sana, tegas imam itu, adalah “simbol harapan Kristiani.”

Di kamp-kamp di sekitar Erbil, kata Pastor Timothy, situasinya jauh kurang berbahaya dan ordo itu bisa mempertimbangkan pengiriman kelompok-kelompok muda ke daerah itu untuk waktu singkat guna “bertemu, bekerja, bermain, belajar dari dan mengajar kaum muda lainnya di kamp-kamp.” (pcp berdasarkan Radio Vatikan)

Father Timothy OP

Tinggalkan Pesan