Foto Paul Haring dari CNS 17 Juni 2013

Perhatian bagi orang yang sakit adalah “bagian integral dari misi Gereja.” Ini adalah kata-kata yang dikatakan Paus Fransiskus dalam sambutan Angelus di hari Minggu, 8 Januari 2015, dari jendela Istana Apostolik, demikian laporan Junno Arocho Esteves dari Zenit.org dari Roma.

Berbicara tentang Injil hari itu mengenai penyembuhan ibu mertua Simon Petrus, Paus merefleksikan perhatian Yesus kepada orang yang terluka baik dalam tubuh maupun dalam roh. Perhatian ini, kata Bapa Suci, adalah ajakan bagi semua umat Kristen untuk “merefleksikan makna dan nilai sakit.”

Tanggal 11 Februari 2015, adalah Hari Orang Sakit se-Dunia. Paus menggunakan kesempatan itu untuk memberkati inisiatif itu serta meminta umat untuk berdoa bagi ketua Dewan Kepausan untuk Pelayanan Pastoral bagi Pekerja Kesehatan, yang sakit parah dan dirawat di rumah sakit di Polandia.

“Marilah berdoa untuk dia, untuk kesehatannya, karena dialah yang mempersiapkan Hari se-Dunia ini. Ia pun menyertai kita dengan penderitaannya hari ini. Marilah berdoa untuk Uskup Agung Zimowski.”

Paus berusia 78 tahun itu melanjutkan sambutannya dengan mengatakan bahwa karya keselamatan Kristus tidak berakhir bersama dengan kehidupan duniawi-Nya, tapi terus melalui Gereja. “Ketika mengirim murid-muridnya dalam misi, Yesus memberikan mandat ganda kepada mereka: wartakanlah Injil keselamatan dan sembuhkanlah orang sakit,” kata Paus. “Taat pada ajaran ini, Gereja selalu menganggap perhatian bagi orang sakit sebagai bagian integral dari misinya.”

“’Orang miskin dan menderita akan selalu ada bersama kalian.’” Yesus memperingatkan hal itu dan Gereja terus menemukan mereka di jalan. Gereja pun memandang orang sakit sebagai jalan istimewa untuk berjumpa dengan Kristus, untuk menyambut dan melayani Dia. Memperhatikan orang sakit, menyambut dia dan melayani dia adalah melayani Kristus. Yang sakit adalah daging Kristus!”

Penderitaan menimbulkan pertanyaan eksistensial tentang makna hidup dan mati. Pertanyaan itu, lanjut Paus, harus dijawab dengan tindakan pastoral Gereja “dalam terang iman” dan melalui misteri Salib.

“Masing-masing kita dipanggil untuk membawa terang Injil dan kekuatan rahmat kepada yang menderita dan kepada yang membantu mereka, anggota keluarga, dokter, perawat, sehingga pelayanan kepada orang sakit dapat dipenuhi lagi dengan kemanusiaan, dengan dedikasi yang murah hati, dan dengan kasih injili, dengan kelembutan,” tegas Paus.

Sebelum doa Angelus, Paus meminta umat beriman untuk berdoa kepada Santa Perawan Maria agar mereka yang sakit dapat mengalami “kuasa kasih Allah dan nikmat kelembutan kebapakannya-Nya.

Di akhir 2014, Paus mengeluarkan pesan Hari Orang Sakit se-Dunia yang dirayakan 11 Februari 2015. Temanya diambil dari Kitab Ayub 29:15: “Aku menjadi mata bagi orang buta dan kaki bagi orang lumpuh.”

Dalam perayaan ke-23 Hari Orang Sakit se-Dunia yang dimulai Santo Yohanes Paulus II, Paus mengajak semua orang sakit, profesional dan sukarelawan bidang kesehatan untuk merenungkan ayat Kitab Ayub itu dari perspektif “sapientia cordis” (kebijaksanaan hati).

“Ketika sakit, kesepian dan ketidakmampuan membuat kita sulit menjangkau orang lain, pengalaman penderitaan dapat menjadi sarana istimewa untuk mengalirkan rahmat dan menjadi sumber untuk memperoleh dan tumbuh dalam cordis sapientia. Kita menjadi paham bagaimana Ayub, di akhir pengalamannya, bisa mengatakan kepada Allah, “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau’” (Ayub 42:5), tulis pesan itu.

“Kalau orang yang tercelup dalam misteri penderitaan dan rasa sakit menerima ini dalam iman, mereka sendiri bisa menjadi saksi hidup tentang kemampuan iman dalam menerima penderitaan, bahkan tanpa bisa memahami maknanya yang penuh,” tulis Paus.”(pcp berdasarkan Zenit.org dan Radio Vatikan)

Paus Fransiskus memberkati seorang anak yang sakit saat mengunjungi RS Anak Bambino Gesu di Roma  21 Des 2013 Foto Alessandro Bianchi dari CNS Reuters Pope-Francis-World-day-of-Sick

 

Tinggalkan Pesan