St.-Scholastica-Icon-by-SrMCM-5x4

Pekan Biasa V (H)
Pw. St. Skolastika; St. Zenon

Bacaan I: Kej. 1:20-2:4a

Mazmur: 8:4-5.6-7.8-9; R: 2a

Bacaan Injil: Mrk. 7:1-13

Pada suatu kali serombongan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus. Mereka melihat, bahwa beberapa orang murid-Nya makan dengan tangan najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh. Sebab orang-orang Farisi seperti orang-orang Yahudi lainnya tidak makan kalau tidak melakukan pembasuhan tangan lebih dulu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka; dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga. Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada-Nya, ”Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?” Jawab-Nya kepada mereka, ”Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.” (Bacaan selengkapnya lihat Alkitab….)

Renungan

26 Agustus 1789, Negara Perancis mengeluarkan 15 butir Deklarasi Hak Asasi Manusia. Deklarasi HAM itu antara lain berbunyi: ”Manusia dilahirkan merdeka dan tetap merdeka” dan ”Manusia memiliki kemerdekaan agama dan kepercayaan”. Deklarasi ini kemudian diadopsi oleh PBB menjadi pedoman umum bagi semua negara di dunia. Semua bangsa harus menghormatinya, sebab semua manusia terlahir sebagai ”citra – gambar Allah” (bdk. Kej. 1:27). Di hadapan Tuhan kita memiliki hak yang sama, karena itu Hak Asasi hendaknya dihayati dan dipelihara dengan semangat cinta kasih demi menjaga harkat manusia sebagai makhluk citra Allah.

Tuhan Yesus mengecam orang Farisi dan ahli-ahli Taurat karena hanya memperhatikan keutamaan hukum untuk menggantikan integritas mereka sebagai bangsa terpilih. Para pemeluk agama hendaknya lebih memperhatikan sikap batin yang benar, jujur dan penuh kasih di hadapan Allah dan sesamanya ketimbang menghargai adat istiadat dengan aturannya yang kurang penting. Cinta kasih menjamin hubungan yang baik dengan Tuhan dan sesama. Dunia ini milik kita bersama untuk dikelola secara bersama-sama. Dalam kebersamaan kasih ini Tuhan akan selalu hadir menolong kita untuk mengerjakan mukjizat-mukjizat-Nya.

Tuhan, pimpinlah aku untuk hidup dalam kasih menurut kehendak-Mu yang kudus. Amin.

 

Tinggalkan Pesan