St Richard

PEKAN BIASA IV (H)

Santo Rikardus; Santa Koleta; Santo Gioivanni Triora; Beato Anselmus Polanco; Beata Rosalie Rendu

Bacaan I: Ibr. 13:15-17.20-21

Mazmur: 23:1-3ª.3b-4.5.6; R:1

Bacaan Injil: Markus 6:30-34

Pada waktu itu Yesus mengutus murid-murid-Nya mewartakan Injil. Sesudah menunaikan tugas itu, mereka kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan. Lalu Ia berkata kepada mereka: “Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!” Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makan pun mereka tidak sempat. Maka berangkatlah mereka untuk mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. Tetapi pada waktu mereka bertolak banyak orang melihat mereka dan mengetahui tujuan mereka. Dengan mengambil jalan darat segeralah datang orang dari semua kota ke tempat itu sehingga mendahului mereka. Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.

Renungan

Di tengah kesibukannya sebagai PNS, Pak Ronny setiap hari mengunjungi kapel adorasi abadi di kotanya. Ia selalu duduk hening untuk bersyukur di depan Sakramen Mahakudus selama sejam. Ia yakin hanya oleh berkat Tuhan, ia dapat menjalankan tugasnya dengan baik sebagai PNS. Mengikuti bimbingan Tuhan adalah cara terbaik untuk menjaga integritasnya, sebagai bapak keluarga dan maupun sebagai kepala kantor.

Di tengah kesibukan-Nya untuk melayani, Yesus selalu ingin mencari tempat yang hening. Waktu hening itu, selain dipakai-Nya untuk berdialog dengan Allah Bapa-Nya, Yesus juga ingin beristirahat. Yesus sebagai manusia sadar bahwa buah-buah belas kasih sejati dalam pelayanan-Nya, hanya lahir dari dialog yang intens dengan Allah dalam keheningan. Tanpa doa dan keheningan, hidup ini hanya melahirkan “semangat belas kasih yang semu”, guna memetik pujian bagi diri sendiri.

Penulis Ibrani bersaksi bahwa “perbuatan baik, hanya lahir dari kesetiaan untuk mempersembahkan kurban syukur dan pujian kepada Allah” (bdk. Ibr. 13:15-16). Sebab tujuan dari segala perbuatan baik kita terhadap sesama di dunia ini hanyalah untuk memuliakan nama Allah.

Tuhan, penuhilah hatiku dengan semangat belas kasih agar aku sanggup memuliakan nama-Mu. Amin.

 

Tinggalkan Pesan