Don Bosco 

PEKAN BIASA III (H)

Pw St. Yohanes Don Bosko; Sta. Marcela

Bacaan I: Ibr. 11:1-2, 8-19

Mazmur: 1:69-70, 71-72. 73-75; R:68

Bacaan Injil: Mrk. 4:35-41

Pada suatu hari, ketika hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka, “Marilah kita bertolak ke seberang.” Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia. Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan  air. Pada waktu itu, Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya, “Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?” Ia pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu, “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. Lalu ia berkata kepada mereka, “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain, “Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?”

Renungan

Benarlah kata Kidung Agung: “Cinta itu begitu kuat … sungai-sungai tidak dapat menghanyutkannya” (8:7). Santo Don Bosco yang hari ini kita peringati mencintai orang muda begitu kuat sampai dia bisa mengumpulkan 1000 orang muda untuk disekolahkan. Waktu kecil dia dilarang bersekolah karena alasan ekonomi. Ia harus bekerja di ladang membantu orangtuanya yang petani. Syukurlah suatu ketika dia bertemu seorang Imam tua yang mengambilnya dari keluarga dan mendidiknya. Peristiwa ini membuka pintu baginya untuk mengenyam pendidikan lebih lanjut dan menjadi berkat bagi banyak orang muda lainnya, karena setelah dia menjadi Imam hatinya dikuasai oleh cinta terhadap orang muda. Dia membuka sekolah dan panti asuhan untuk mengumpulkan orang muda dan mendidiknya.

Orang bilang, “Love is power!” – cinta itu sebuah kekuatan, yang luar biasa dan Allah adalah kasih. Tatkala Yesus tidur, angin taufan mengamuk, menghantam kapal di mana para rasul berada. Angin taufan itu benar-benar menakutkan. Syukurlah para murid berani membangunkan Yesus dan mendesak untuk bertindak: “Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?” Yesus menghardik taufan itu, “Diam! Tenanglah!” Alam pun taat kepada Yesus.

Di dalam cinta ada kepercayaan, kekuatan, dan jalan keluar. Seorang suami yang mencintai isteri dan anak-anaknya selalu mempunyai semangat dan sukacita untuk mencari nafkah. Orang Katolik yang mencintai Allah ringan untuk membantu sesama. Selalu rindu berdoa dan merayakan Ekaristi. Bahkan ia tidak takut untuk berkorban.

Tuhan Yesus, tariklah aku senantiasa dalam sumber kasih, yaitu Hati-Mu yang mahakudus agar aku senantiasa memiliki gairah untuk bekerja dan senantiasa bersukacita! Amin.  

Tinggalkan Pesan