Religius

Peran penting yang dimainkan oleh kaum religius pria dan wanita dari Gereja-Gereja Kristen yang berbeda dalam perjalanan ekumenis menjadi pusat pembicaraan dalam pertemuan Paus Fransiskus dengan peserta konferensi tentang hidup bakti dan upaya menuju persatuan umat Kristen tanggal 24 Januari 2015.

Pertemuan tiga hari, yang berakhir tanggal 15 Januari 2015 itu, berlangsung datang konteks Pekan Doa untuk Persatuan Umat Kristen dan Tahun Hidup Bakti. Para peserta mengakhiri setiap hari pertemuan mereka dengan doa petang atau Vesper dalam tradisi Ortodoks, Anglikan dan Katolik, termasuk liturgi yang dipimpin Paus Fransiskus di Basilika Santo Paulus Luar Tembok di hari terakhir.

Philippa Hitchen dari Radio Vatikan melaporkan bahwa dalam pertemuan dengan kaum religius pria dan wanita itu, Paus Fransiskus mengenang kata-kata dokumen Konsili Vatikan II ‘Unitatis Redintegratio‘ yang menekankan bahwa ekumenisme spiritual adalah jiwa dari seluruh gerakan ekumene. “Maka, kaum hidup bakti seperti kalian memiliki panggilan khusus dalam karya peningkatan persatuan ini,” kata Paus.

Paus juga menyebutkan komunitas-komunitas ekumenis seperti Taizé dan Bose yang telah menjalankan panggilan ini dan merupakan tempat-tempat perjumpaan istimewa antara umat Kristen dari berbagai denominasi.

Paus Fransiskus berbicara tentang tiga syarat yang menjadi intisari dalam mengupayakan persatuan umat Kristen. Pertama, kata Paus, tidak ada persatuan tanpa pertobatan hati, termasuk memaafkan dan meminta maaf.

Yang kedua, kata Paus, “tidak ada persatuan tanpa doa dan oleh karena itu kaum religius pria dan wanita yang berdoa untuk persatuan sama seperti ‘biara yang tak kelihatan’ yang menyatukan umat Kristen dari berbagai denominasi dari negara-negara di seluruh dunia.”

Ketiga, lanjut Paus, tidak ada persatuan tanpa kekudusan hidup sehari-hari. “Maka, semakin kita mempraktekkan upaya untuk persatuan dalam hubungan dengan orang lain, semakin kita membut diri kita model pesan Injil.”(pcp)

 

Tinggalkan Pesan