SMA Katolik Frateran Maumere

Frater M Fransiskus Hardjosetiko BHK, dosen di STFT Widya Sasana dan STP-IPI Malang mengatakan, spiritualitas hati adalah hati Yesus. “Dengan semangat hati kita ingin meneladani Yesus yang dengan sepenuh hati dan dengan seluruh hidup-Nya membantu orang lain agar selamat. Semangat hati adalah semangat kasih yang mempertaruhkan seluruh hidup-Nya bagi keselamatan manusia. Semangat hati inilah yang ingin diwujudnyatakan dalam karya pendidikan di mana kita diutus.”

Frater Frans berbicara di hadapan para guru dan karyawan-karyawati  SMA Katolik Frateran Maumere, Flores, NTT, dalam satu sesi Semi Retret Spiritualitas Hati di Rumah Retret Santo Fransiskus Kolisia, 16-18 Januari 2015. Kolisia adalah desa di Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka, NTT.

“Anda semua merupakan perpanjangan tangan para frater. Tanpa Anda kami tidak bisa berbuat apa-apa. Anda adalah rekan sejawat karena itulah ketika para frater diajak mendalami spiritualitas hati maka Anda juga diminta menjadi perpanjangan spiritualitas hati,” kata pembina para frater novis BHK di Malang itu.

Master Misiologi dari Katholieke Universiteit Nijmegen Belanda itu menjelaskan, spiritualitas adalah semangat, cara hidup yang mempengaruhi seluruh hidup seseorang. “Spiritualitas hati merupakan spiritualitas yang menekankan hati, cinta, kedalaman dan keutuhan,” katanya.

Kalau para guru dan karyawan melihat sekolah sebagai ladang pekerjaan untuk mendapatkan uang melulu, kata frater itu, mereka menjauh dari spiritualitas hati. “Maka, buanglah pemikiran sesat itu. Didiklah anak dengan hati. Anak butuh pendampingan. Guru harus menjadi figur. Yang mereka tidak peroleh di rumah harus mereka dapatkan di sekolah,” tegas Frater Frans.

Menyinggung relevansi spiritualitas hati terhadap Kurikulum 2013, Frater Frans mengatakan bahwa dalam konteks pendidikan semangat hati berarti meneladani Yesus sebagai guru sejati yang dengan seluruh hati dan hidupnya membantu para murid dan orang lain agar menjadi pribadi keseluruhan yang berkembang maju, menjadi pribadi yang utuh, serta mempunyai hati bagi orang lain.”

Kurikulum 2013, katanya, menuntut perubahan pada pendidik, siswa serta lingkungan sekolah. “Pendidik dituntut untuk selalu mengembangkan diri semakin profesional dan membantu anak didik. Perubahan itu menuntut penghayatan spiritualitas hati yang mendalam,” kata Frater Frans.

Setelah mendalami spiritualitas hati selama tiga kali retret, salah seorang guru, Yosef Don Bosco, mengungkapkan bahwa dengan spiritualitas hati dia mulai mengurangi kekerasan fisik terhadap anak didik. Menurut guru lainnya, Wilfridus Metom, kekerasan fisik terhadap anak tidak ada gunanya dan tidak akan mendatangkan efek jera. “Ini akan berujung dendam peserta didik setelah menamatkan sekolahnya. Untuk itu spiritualitas hati adalah jawabannya karena menggunakan pendekatan hati berarti melihat anak dengan kelebihan dan kekurangan.”

Kepala Sekolah, Frater Polikarpus BHK, menilai Retret Spiritualitas Hati adalah mengisi kekurangan guru dengan amunisi rohani “agar mereka melihat anak didik sebagai gambaran Allah.” (Yuven Fernandez)

fr. frans3

Foto: gedung sekolah SMA Katolik Frateran Maumere dan Frater Frans (bawah)

 

Tinggalkan Pesan