2015-01-14 21.18.29

Sri Sultan Hamengku Buwono X menilai, Tema Natal 2014 yang ditetapkan oleh Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) yakni “Berjumpa dengan Allah dalam Keluarga” mencerminkan betapa bernilainya hidup dalam keluarga, karena di situlah Tuhan yang dicari dan dipuji hadir.

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta mengatakan hal itu dalam Perayaan Natal Bersama 2014 Umat Kristiani DIY di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, tanggal 12 Januari 2015, yang dihadiri sekitar 4000 orang dari propinsi itu.

Dalam perayaan Natal ekumene itu, Sri Sultan juga menegaskan bahwa keluarga sangat mungkin menjadi suci, di mana kesalahan diampuni dan luka-luka disembuhkan. “Natal meneruskan suka cita keluarga menjadi rumah setiap orang yang sehati, sejiwa, berjalan menuju Allah, agar mereka pun mengalami kesejahteraan lahir batin.”

Sri Sultan mengungkapkan bahwa Natal mengundang keluarga agar menjadi oase menyejukkan saat Sang Juru Selamat hadir. Di situlah orang bisa bertemu Tuhan yang bersabda, ”Datanglah kepada-Ku, kamu yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu!” katanya.

Di dalam keluarga, lanjutnya, yang letih disegarkan, yang lemah dikuatkan, yang sedih mendapat penghiburan, dan yang putus asa diberi harapan, yang mengalami kesulitan diberi kekuatan, agar Sang Penebus hadir di keluarga mereka. “Di situlah keluarga menjadi rahmat dan berkah bagi setiap orang, bahkan kabar suka cita bagi dunia,” imbuhnya.

Sri Sultan percaya, keluarga adalah tempat penyemaian toleransi. Menurutnya, toleransi merupakan konsep mulia yang menjadi bagian organik dari ajaran agama-agama termasuk Islam. Ia mengatakan bahwa toleransi dalam Islam adalah konsep modern yang mengobarkan sikap saling menghormati dan bekerja sama di antara kelompok-kelompok masyarakat yang berbeda baik secara etnis, bahasa, budaya, politik maupun agama.

“Dalam konteks toleransi, Islam memiliki konsep yang jelas, tidak ada paksaan dalam agama,” katanya. Dan toleransi beragama, lanjut Sri Sultan, menyangkut eksistensi keyakinan manusia terhadap Allah.

“Secara konkret, toleransi diharuskan oleh Islam. Bukankah Islam berdefinisi bermakna damai, selamat dan menyerahkan diri, yang dirumuskan menjadi agama rahmatan il alamin, agama yang mengagumi seluruh alam semesta. Islam menyadari keragaman agama adalah kehendak Allah yang tak mungkin diseragamkan,” katanya.

“Mengapa saya secara khusus bicara soal toleransi?” tanya Sri Sultan. Dia pun sendiri menjawab, “Karena dewasa ini semakin terasakan sikap intoleransi yang tak menghargai perbedaan.” Dalam intoleransi, kedua pihak merasa sama-sama benar dalam membela agama masing-masing meskipun harus mati, yang mereka sebut mati sahid.

“Mereka lupa bahwa kesahidan itu hadiah langit dan bukan sejenis gelar akademik yang bisa dicari. Mati syahid atau tidak bukan urusan manusia. Mati syahid tak bisa direncanakan manusia. Tetapi hidup syahid hukumnya wajib yang harus diperjuangkan dengan gigih. Kita membutuhkan orang yang berani hidup syahid, yang mengasihi sesama, saling menolong, dan melindungi,” katanya.

Ketua panita Chang Wendryanto mengatakan Yogyakarta adalah rumah bersama. Di sana banyak agama dan suku. Dia berharap perayaan Natal bisa menjadi awal kebersamaan. “Besok tidak ada lagi orang yang mengeluh karena tidak bisa beribadah. Namun, mulai hari ini semua umat beragama boleh beribadah dengan aman dan nyaman,” katanya.

Chang berharap pada gubernur supaya di kantor instansi disediakan tempat ibadah bagi kaum Kristiani. “Berikanlah tempat untuk kami beribadah meskipun kecil, karena kami ada,” katanya. Keistimewaan Yogyakarta  adalah juga menjunjung nilai-nilai pluralisme yang ada. “Tidak ada perbedaan lagi, kita semua sama,” tegasnya.

Renungan Natal diisi Sendratari yang menceritakan perseteruan antara kelompok umat manusia. Namun begitu Yesus lahir dan menjadi pendamai bagi pihak-pihak yang berseteru.(Lukas Awi Tristanto)

20150112_161311

Tinggalkan Pesan