Interreligious Dialogue4

Paus Fransiskus menggarisbawahi pentingnya dialog antaragama dan ekumene di sebuah bangsa seperti Sri Lanka yang sedang menjalani proses rekonsiliasi, setelah perang saudara yang panjang selama 26 tahun.

Berbicara pada hari pertama perjalanan apostolik ke Sri Lanka, tanggal 13 Januari 2015, Paus Fransiskus memberi sambutan dalam pertemuan antaragama dan ekumene serta menegaskan kembali rasa hormat yang mendalam dan tulus dari Gereja terhadap agama lain.

Kepada para pemimpin spiritual yang hadir pada pertemuan itu, Paus berharap, “Semoga semangat kerja sama di antara para pemimpin dari berbagai umat beragama menemukan ungkapan dalam komitmen untuk menjadikan rekonsiliasi di kalangan semua orang Sri Lanka sebagai pusat setiap usaha untuk memperbaharui masyarakat dan lembaga-lembaganya.”

Demi perdamaian, kata Paus, “keyakinan-keyakinan agama tidak boleh diizinkan untuk disalahgunakan sebagai penyebab kekerasan dan peperangan. Kita harus jelas dan tegas menantang masyarakat kita untuk menjalani dengan sepenuhnya prinsip-prinsip perdamaian dan hidup bersama yang ditemukan di masing-masing agama, dan untuk mencela tindak-tindak kekerasan.”

Dalam pertemuan di Bandaranaike Memorial Hall itu, Paus disambut oleh para tokoh agama dari empat agama besar di Sri Lanka yakni Buddha, Hindu, Islam dan Kristen. Paus disambut dengan upacara ritual dan lagu-lagu agama Buddha. Pemimpin agama Hindu lalu mengenakan kain warna oranye kepada Paus.

Masyarakat Sri Lanka terbagi atas 70 persen Buddha, 12,6 persen Hindu, 9,7 persen Islam, dan 7,4 persen Kristen (sebagian besar adalah Katolik). Sri Lanka dilanda perang berdarah selama lebih dari seperempat abad. Pertempuran itu adalah antara pemerintahan pusat dengan pejuang Tamil yang menempati bagian utara pulau itu. Konflik lebih dimotivasi oleh politik daripada agama. Namun ketika perang sipil itu berakhir, intoleransi agama meletus di antara kelompok ekstremis yang menganggap identitas Sri Lanka terkait dengan agama Buddha, yang mendiskriminasi dan dalam kasus-kasus tertentu melakukan tindakan-tindakan kekerasan terhadap agama lain seperti Muslim dan Kristen, yang mereka pandang sebagai ‘musuh’.

Paus Fransiskus sangat menyadari situasi ini. Dalam sambutannya Paus pertama-tama mengingatkan pernyataan Gereja Katolik (dalam Konsili Vatikan II) tentang kewajiban mendalam dan serius untuk menghormati dan menghargai agama-agama lain. Konsili Vatikan II menyatakan bahwa Gereja tidak menolak apapun yang baik, benar dan suci dari agama-agama itu. Paus meyakinkan kepada semua orang yang hadir bahwa semangat itulah yang dimiliki oleh umat Gereja Katolik untuk bekerja sama dengan semua pemeluk agama di Sri Lanka demi kesejahteraan dan kebaikan masyarakat Sri Lanka. (pcp berdasarkan Radio Vatikan dan Vatikan Insider)

Interreligious Dialogue2

Tinggalkan Pesan