IMG_7986

Kardinal Julius Darmaatmadja SJ, “tataplah perjalanan bangsa ini ke depan melalui lensa spiritual keagamaan dan sampaikan kepada kami semua bahwa di ujung lorong sana titik-titik cahaya optimisme masih belum pudar dan tidak akan pudar.”

Permohonan itu disampaikan oleh Buya Ahmad Syafii Maarif dalam refleksi bertema “Agama, Moral, dan Masa Depan Bangsa,” yang dilaksanakan di Bentara Budaya Jakarta, tanggal 10 Januari 2015, untuk memperingati HUT ke-80 Kardinal Julius Darmaatmadja SJ, 20 Desember 2014. Refleksi yang dipandu oleh Rikard Bangun dari Kompas itu menghadirkan juga narasumber Pendeta Andreas Yewangoe dan Bhikkhu Sri Pannyavaro Mahathera.

Acara yang juga berisi peluncuran buku terbitan Penerbit Obor itu dihibur oleh saksofonis Didiek SSS yang berkolaborasi dengan putrinya Callista Lourdes dan penyair Joko Pinurbo. Selain 13 uskup dan uskup emeritus, acara yang juga diwarnai dengan pemotongan tumpeng dan makan siang bersama itu dihadiri juga beberapa tokoh antara lain Pastor Magnis Suseno, Ketua MUI Din Syamsuddin, CEO Komas Jakob Utama, dan mantan menteri JB Sumarlin.

Buku “Sang Abdi” yang diluncurkan berisi tiga buku terpisah, pertama “Terlahir untuk Mengabdi” yang memuat figur Kardinal Darmaatmadja sejak lahir hingga masa purnakarya; kedua “Di Mata para Sahabat” tentang figur kardinal dari sudut pandang para sahabat yang mengenalnya; dan ketiga “Alam Pikiran dan Kharisma” yang menggali alam pemikiran dan kharisma kardinal itu.

Menurut Buya Syafii, para narasumber dan peserta refleksi itu sedang memberikan kesaksian dengan penuh rasa syukur atas sahabat kita Kardinal Julius Darmaatmadja SJ yang sedang meniti batang usia 80 tahun. “Bangsa ini masih sangat memerlukan pencerahan spiritual dari Kardinal untuk masa-masa yang akan datang di lingkungan kultur politik yang labil dan tunamoral,” kata mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Presiden World Conference on Religion for Peace (WCRP) dan pendiri Maarif Institute.

Buya minta agar perilaku partai politik yang suka bergelut sesama mereka dianggap sebagai rengek anak kecil yang menjengkelkan, tetapi pada saatnya akan berlalu. “Demokrasi Indonesia hanya mungkin menjadi sehat dan kuat, manakala para pendukungnya adalah manusia dewasa, beradab, punya visi jauh ke depan, toleran, terbuka dan bertanggungjawab,” lanjutnya.

Pendeta Andreas Yewangoe membenarkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang beragama. Tapi, dia bertanya, “Benarkah orang Indonesia itu beragama atau hanya sekadar mempunyai agama. Mempunyai agama berbeda dengan beragama. Mempunyai agama hanya sekedar kulit, misalnya agama yang dicantumkan di KTP, atau bisa dimanipulasi secara politik.” Menurut pendeta itu, tidak boleh ada jurang antara keberagamaan seseorang itu dengan sikap.

Bangsa Indonesia, tegas Pendeta Andreas, harus kembali kepada beragama yang benar. “Substansi agama harus sungguh-sungguh diwujudkan dalam masyarakat. Simbol-simbol agama tetap perlu, tetapi simbol tidak ada arti dalam dirinya sendiri,” kata pendeta itu seraya meminta agar bangsa Indonesia tidak mementingkan simbol saja tetapi substansinya, dan beragam tidak secara dangkal, tetapi secara mendalam demi kepentingan semua orang karena Allah itu baik bagi semua orang.

Menurut Bhikkhu Sri Pannyavaro Mahathera, teologi agama-agama berbeda. “Tapi saya yakin semua agama memberikan pendidikan dengan nilai-nilai kemanusiaan universal, moral etik, untuk mendidik bangsa supaya berprilaku baik. Dengan dasar itulah kami bertekad membangun moral bangsa ini demi hari depan lebih baik. Namun harus dingat, moral bangsa sesungguhnya adalah moral masing-masing individu. Tidak mudah membangun moral etik yang tangguh, tidak mudah mengubah habitus atau kebiasaan buruk yang sudah sangat lama.”

Satu-satunya cara untuk membangun dan mengubah bangsa adalah pendidikan, yang dasarnya adalah mendidik diri sendiri, tegas bhikkhu. Kardinal Darmaatmadja, Pendeta Yewangoe dan Buya Syafii, tegasnya, adalah guru-guru yang memberi keteladanan. “Semoga kardinal senantiasa diberkati kesehatan dan panjang usia, sehingga bisa memberikan pencerahan dan keteladanan kepada kita semua.”

Ketua KWI Mgr Ignatius Suharyo menyebut para narasumber itu sebagai personifikasi dari perjuangan agama dan moral yang sungguh-sungguh diyakini, “sehingga cita-cita moral, keagamaan, dan masa depan Indonesia bukan sekedar ditulis, dikarang dan diharapkan, tetapi dipersonifikasikan dalam pribadi-pribadi ini. Maka kesimpulan pribadi saya, kalau demikian kita punya harapan.”

“ … di ujung lorong sana, titik-titik cahaya optimisme masih belum pudar dan tidak akan pudar.” Mengutip perkataan Buya Syafii itu, Mgr Suharyo mengatakan dia bahwa orang yang diberi karunia belajar lebih banyak untuk melayani umat dengan cara apapun, dalam bidang keagamaan, dalam bidang akademis, atau apapun, “rupa-rupanya memang mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk menjadi terang-terang atau cahaya kecil di lorong sana, bahasanya adalah harapan.”

Di tengah-tengah keadaan seperti apapun yang sering kali disebut dengan istilah tuna moral dan sebagainya, lanjut Uskup Agung Jakarta itu, “kita yakin bahwa di ujung sana ada harapan, di sini juga ada harapan itu, karena sudah dipersonifikasikan, cita-cita diartikulasikan, dan semoga kita menjadi terang-terang kecil yang membawa harapan.” (paul c pati)

IMG_7920 IMG_8007

 

Tinggalkan Pesan