IMG_6800

Dalam hitungan menit, Tahun 2014 akan berakhir. Kita semakin tua, namun Kepala Paroki Maria Kusuma Karmel Meruya, Jakarta Barat, Pastor Martinus Gunawan Wibisono OCarm mengatakan bahwa semakin bertambah umur berarti semakin bertambah pengalaman yang selalu menghadirkan Tuhan. “Maka, semakin tua, semakin banyak pengalaman dan berkat kita.” Kalau ternyata yang dirasakan semakin banyak batuk, kata imam itu, “Batuklah dalam nama Tuhan, sehingga batuk menjadi berkat, dan tercipta ketenangan, kenyamanan dan perdamaian hati dan jiwa, yang sungguh-sungguh merupakan rahmat dan berkat yang harus disyukuri.”

Pastor Gunawan berbicara membuka rekoleksi bagi lebih dari 100 warga lansia di parokinya beberapa waktu lalu. Rekoleksi bertema “Semakin Tua Semakin Terberkati” itu menampilkan Kepala Paroki Redemptor Mundi Surabaya Pastor Andrei Kurniawan OP, dan mantan provinsial Suster-Suster Santo Dominikus di Indonesia, Suster M Lusia Kusrini OP, dari Yogyakarta.

Rekoleksi dalam bentuk dialog yang dilengkapi meditasi dan hiburan lagu-lagu rohani oleh Mirelle-Anthony dari Surabaya itu rasanya tidak hanya untuk kaum lansia tetapi untuk semua orang. Paul C Pati dari PEN@ Katolik meringkasnya:

Pastor Andrei Kurniawan OP (P): Di sini, kita saling belajar untuk melihat rahmat Tuhan. Semakin umur bertambah, seharusnya semakin bisa menghitung rahmat Tuhan. Meskipun sehat atau sakit, utung atau malang, kaya atau miskin, gendut atau kurus, batuk-batuk atau sehat, kita harus tetap hadirkan Tuhan. Kalau Tuhan hadir rasanya damai selalu.

Suster M Lusia Kusrini OP (S): Semakin tua semakin terberkati sungguh cerminan dan harapan semua. Dulu saya di Provinsialat Suster-Suster OP di Pejaten. Sekarang di desa, tapi di sana sungguh menyenangkan karena dekat bandara, bisa sering melihat pesawat terbang sambil merenung kapan saya bisa terbang ke surga, apakah dengan pesawat atau rahmat yang akan kita kumpulkan bersama agar bahagia di hari tua. Keluarga saya Muslim dengan tujuh anak, saya di tengah, perempuan sendiri. Meski iman berbeda, kami merasakan rahmat Tuhan, kami bisa menikmati kebahagiaan.

P: Kehidupan mulai dari lahir. Suster umur berapa sekarang? Suster masih ingat lahir di mana?

S. Saya 60 tahun. Saya ingat betul. Saya lahir di amben. Waktu itu belum ada springbed. Ini cerita ibu saya, yang bersama keluarga sungguh menantikan anak perempuan. Saya lahir dengan bantuan Mbak Dukun yang hebat sekali, bukan di rumah sakit yang aduhai seperti Pastor Andrei. Keluarga saya bernama Kus. Supaya nanti mempunyai nilai atau menjadi berharga, saya dinamakan Kusrini karena rini berarti ada uang. Setelah lulus SMP saya tertarik pada seseorang beragama Katolik. Adik ibu saya jadi Katolik. Setiap hari Minggu dia pulang nyanyi-nyanyi. Saya bilang kok hebat benar, setiap Minggu joget dan nyanyi-nyanyi. Saya mulai tertarik. Namun saya kaget melihat teman adik ibu saya itu. Dia lelaki tetapi memakai rok. Itu banci, kata saya. Ternyata, menurut adik ibu saya, dia itu orang hebat, sungguh lelaki, dan orang suci. Dia pastor atau gembala yang memakai jubah. Saya mulai ngintip apakah benar dia lelaki atau perempuan. Lama-lama, karena pastor itu ramah, saya menjadi Katolik.

P: Saya anak pertama. Ibu saya bilang, saya lahir di RS Sumber Waras, Jakarta. Kurang lebih umur tiga minggu saya dibawa ke gereja Paroki Kemakmuran untuk dibaptis. Pastor dari Belanda bertanya apa nama baptis saya. Karena belum disiapkan nama maka pastor itu menamakan saya Andreas.  Lalu, kenapa suster bernama Lusia?

S. Saya pakai nama Lusia karena menurut adik ibu saya, Lusia adalah orang kudus yang hebat, martir yang berani mati membela imannya. Waktu baptis, saya dinamai Tapi, ketika menjadi suster, adik ibu saya minta saya gunakan Lusia agar dia bisa dompreng ke surga. Lalu, mengapa pastor bernama Kurniawan?

P. Ayah saya bilang kurnia itu adalah rahmat yang diberikan gratis oleh Tuhan, sedangkan wan adalah akhiran untuk gender lelaki. Saya dianggap anak pertama lelaki yang merupakan rahmat Tuhan. Saya tanya lagi, memang rahmatnya apa? Ayah saya lalu menjelaskan peristiwa dia jatuh dari tangga dan tempat tidur sehingga tidak bisa jalan sempurna bahkan polio. Ketika saya lahir, beberapa teman ibu saya langsung pegang kaki saya, apakah saya bisa jalan, jangan-jangan seperti ayah yang ngak bisa jalan. Maka saya dinamai Kurniawan, karena ini rahmat dan berkat Tuhan.

S. Suster-suster OP, punya rumah sakit. Saya sudah membantu melahirkan 16 anak. Saat ditarik keluar, entah dengan caesar atau normal, tangan mereka terus mengenang Saya renungkan. Apa ya maknanya? Ternyata begitu keluar dari rahim ibu, anak ingin menggenggam dunia, ingin menguasai semua. Itulah sifat manusia. Begitu lahir manusia ingin mempunyai semuanya yang ada di dunia.

P. Tapi begitu lahir, anak hanya bisa bergerak dan menangis. Yang paling susah adalah untuk melihat dunia pertama kali. Mata masih susah, masih silau. Itulah kehidupan. Menurut Kitab Kejadian, manusia diciptakan oleh Tuhan dari tanah pada hari keenam dengan muka yang segambar dengan Allah. Manusia hidup karena dihembuskan oleh Allah. Jadi nafas dari Allah yang membuat kita hidup untuk bahagia, di sini dan di surga, secara jasmani dan rohani. Maka setelah lahir kita dibawa ke gereja untuk dibaptis menjadi anak Tuhan. Pembaptisan dengan air, lambang kehidupan yang bersih. Selanjutnya rohani dan jasmani harus diberi makan supaya sehat. Rohani pertama diberi makanan dengan pembaptisan.

S. Saya baptis sekitar umur 14 tahun setelah lulus SMP. Saat itu saya langsung menerima Sakramen Komuni dan Sakramen Penguatan.

P. Kita bangga karena Tuhan selalu hadir dalam hidup kita, menjadi sarana agar kita selamat sampai ke tujuan. Setiap hidup ada tandanya. Ada tujuh sakramen. Tujuh adalah angka sempurna untuk Tuhan. Hari ketujuh Tuhan beristirahat. Kita harus mengampuni 70 kali 7 kali, berarti tak terbatas. Tujuh sakramen adalah kesempurnaan. Saya dipermandikan dalam posisi tidur sedangkan suster dengan posisi Sesudah itu tugas orangtua. Sesudah menerima hadiah istimewa, rahmat yang melimpah, yakni iman kepada Tuhan, anak diserahkan kepada orangtua, inilah anakmu untuk dibesarkan. Sesudah dibaptis pendidikan rohani penting. Berkat dan rahmat harus diajarkan sejak kecil. Itu tugas orangtua, terus menghitung rahmat, membagi rahmat kepada anak dan keluarga, rahmat yang berlimpah, sempurna dan tak terbatas.

Kita bangga karena Gereja Katolik memiliki tujuh sakramen. Sesudah pembaptisan kita diberi Komuni pertama. Kemudian kita latihan mengaku dosa. Tiga sakramen inisiasi: baptis, ekaristi (komuni pertama), dan penguatan. Kita harus terus memberi makan kepada rohani kita dengan masuk gereja setiap hari Minggu, bukan sebulan sekali atau Natal dan Paskah saja. Kalau jasmani diberi makan tiga kali sehari, rohani hendaknya seminggu sekali dengan menerima Tubuh Kristus yang akan menguatkan hidup. Makanan rohani adalah Ekaristi. Yang boleh berkali-kali diterima adalah Ekaristi, yang harus dimakan sampai akhir hidup.

S. Andai boleh memilih, mau tetap muda atau tua? Ternyata umur selalu berjalan tak pernah berhenti. Jam bisa berhenti karena kehabisan baterai, sedangkan waktu hidup berjalan terus-menerus tiada hentinya. Kalau berhenti berarti kematian. Sekarang kita sudah oma-opa. Kenyataan ini mesti bisa diterima, kita tidak bisa tetap muda. Itulah kodrat manusia. Apapun yang terjadi dalam kehidupan harus disyukuri dengan membuat aura kita ceria. Kita harus tetap senyum, meski kenyataannya kita menjadi baby sitter di rumah.

Memang kita senang dengan cucu. Tapi seringkali kita sungguh sibuk main dengan cucu, sehingga lupa berdoa dan bersyukur, maka keceriaan wajah semakin luntur. Untuk menggairahkan lagi, kita harus gencar menerima Sakramen Ekaristi. Meski sibuk dengan cucu, alangkah indahnya bapak-ibu yang sudah berumur bangun pagi dan ikut Perayaan Ekaristi, supaya wajahnya berbinar-binar, karena dengan seluruh indra kita menerima rahmat Tuhan, dikuatkan dengan Ekaristi. Meski wajah nenek-nenek tapi semangat dan aura kita harus anak muda, dengan senyum di wajah, penuh harapan, tidak langsung knock-out setelah pensiun. Kalau setiap hari menghadiri Perayaan Ekaristi, pasti ada yang bisa dicerna menjadi kekuatan batin kita. Menghadiri Perayaan Ekaristi bisa menjadi kebiasaan. Sakramen yang bisa diterima berulang-ulang adalah Ekaristi dan Tobat. Keduanya menjadi persiapan untuk menjadi terberkati. Inilah saatnya menghitung-hitung rahmat Tuhan, bukan nanti saat sakit baru minta Ekaristi atau Pengurapan Orang Sakit. Mulailah hari ini memperbanyak Sakramen Ekaristi dan Pengakuan Dosa.

P. Lihatlah teman-teman di kiri dan kanan Anda. Kalau mereka belum tersenyum, ajaklah mereka tersenyum. Isilah batiniah dan rohaniah yang diberikan Allah. Kita punya panca indera. Gunakan itu untuk hal baik. Jangan cemberut, marah dan kesel. Kehidupan harus dimaknai. Kehidupan spiritual meneguhkan kehidupan jasmani. Kehidupan harus dimaknai, sehingga semakin tua semakin terberkati, dan bisa melihat kehidupan spiritual yang terus menguatkan kita menghadapi tantangan kehidupan. Banyak dan berbeda harapan setiap orang. Yang paling penting adalah sampai ke tempat tujuan, yakni surga. Jangan sampai nyasar. Surga ada di mana? Surga ada di bumi. Kalau bisa menggunakan pendengaran dan mata, lihatlah kehadiran Allah. Kerajaan surga seperti anak kecil yang dekat dengan Allah. Maka, kalau menjadi tua dan seperti anak kecil, janganlah takut dan marah, karena kerajaan surga sudah dekat dengan kita. Terima apa adanya. Dengan menggunakan indera, kita mendengar, berkata dan berdoa. Gunakan semua yang masih berfungsi. Umur tak jadi masalah. Rohani akan meneguhkan jasmani yang punya keterbatasan dan kelemahan. Kita punya mata dan terlinga pada tempat yang tepat. Tuhan sudah membuat semua lengkap. Itu adalah rahmat. Jasmani akan hancur, dikremasi dan dikubur, kembali menjadi tanah, tapi roh tetap terus, tak terbatas karena mau bersatu dengan Allah. Kalau tidak bersatu dengan Allah kita bingung mau ke mana. Maka, selain sehat jasmani, rohani juga harus sehat, semakin dewasa, semakin terberkati dan sehati dengan Allah. Untuk sehat dan sehati dengan Allah, indera harus dibuka agar roh menggerakkan kita. Jangan lupa gunakan indera yang Tuhan berikan. Mata untuk melihat, telinga untuk mendengar Sabda Tuhan, tangan untuk melaksanakan karya Allah, kaki untuk berjalan, dan mulut untuk mewartakan karya keselamatan. Kalau bisa menggunakan semua indera dengan bantuan Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus, maka malaikat perdamaian menjaga kita dan akhirnya berkat Rahmat Allah membawa kita ke hidup yang kekal di surga. Kalau mau ke surga harus sehat dan sehati dengan Allah.

S. Kalau punya ketajaman indera, gunakan mulut untuk mewartakan keselamatan dan sharing iman, bukan membicarakan atau memazmurkan kejelekan orang lain. Tutur kata itu tajam. Bapa saya, veteran yang sederhana, mengatakan kalau selalu pada jalur yang benar saya bisa keliling dunia, meski saya anak orang miskin. Ibu saya bilang saya jaya, makmur, sejahtera. Saya jawab Amin! Kalau semua yang baik diamini dengan seluruh indera, maka pasti terjadi. Saya sudah mengunjungi 26 negara.

Kalau biasa marah, lepaskan itu dengan Sakramen Tobat dan Ekaristi. Berefleksilah setiap malam. Yang baik disyukuri. Kalau bahagia dari pagi hingga malam, bersyukurlah. Tapi kalau hari itu kita diremehkan, dilecehkan, atau disakiti, mohonlah kekuatan Allah. Tapi jangan perlakukan Allah seperti tong sampah yang malu diletakkan di atas meja. Kalau butuh kita mohon sampai berlutut di gua dan gereja ini dan itu, tapi kalau lagi happy tidak ingat ke gereja. Allah disembunyikan dan hanya dipakai kalau butuh. Bahkan Allah diumpat-umpat, kalau doa tidak dikabulkan. Mari di usia senja ini jangan perlakukan Tuhan sebagai tong sampah.

Di saat-saat menggunakan ketajaman indra, sadarlah betul akan keesaan Allah. Olahlah yang diterima sampai saat ini agar menjadi milik yang suci, menjadi sarana untuk terbang ke surga. Jangan tunggu sampai sakit baru minta doa dari pastor atau suster. Olahlah diri sendiri sehingga dekat dengan Allah menjadi sehati dengan Allah. Mensharingkan pengalaman Allah membuat seseorang memiliki aura positif meski sudah sepuh dan tidak cantik atau cakep, memiliki inner beauty yaitu kekuatan iman. Dengan demikian, meski sudah out of date atau expired, tua dan tak menarik secara fisikal, keberadaan kita menimbulkan sesuatu yang bermakna bagi diri kita dan bagi orang lain.

Sharing pengalaman iman demi keselamatan jiwa itu penting. Kita harus hadir berbela rasa dan mendengarkan ungkapan sesama kita yang sakit, bukan memberi homili. Dengarkan yang dia rasakan dan hadirlah seperti Kristus yang berbela rasa. Kalau kita siapkan batin mulai sekarang untuk menjadi suci, pasrah, lepas, bebas kepada Tuhan, maka jaminannya adalah surga.

P. Kita punya keterbatasan atau kekurangan, entah selama hidup atau di akhir hidup kita. [Saat itu waktu menunjukkan pukul 12.00, dan imam itu mengajak semua berdoa Angelus]. Doa-doa devosi seperti Angelus juga mengingatkan kita untuk mendengar Sabda Tuhan. Kita harus berhenti sebentar dari kesibukan untuk mengingat Tuhan … dan kita akan dikuatkan setiap hari, diteguhkan kembali, dan hati kita pun suci, tidak ada dendam dan kesal. Kita pun bebas, kita sudah dimaafkan.***

IMG_6795 IMG_6741 IMG_6779

3 KOMENTAR

  1. Dear Romo / suster,
    Saya sangat butuh uang romo, untuk membayar utang-utang saya. Saat ini saya msh bekerja, suami saya punya usaha tetapi sedang koleps, gaji saya tidak mencukupi untuk pembayaran kewajiban setiap bulan. Saya butuh uang sekitar 50jt, saya mampu bayar 1,5 jt – 2 juta setiap bulan. Mohon bantu solusi romo. Terima kasih.

  2. Kenapa Tuhan biarkan saya alami ini smua? Kenapa Tuhan biarkan saya menderita seperti ini?
    Saya bru saja tertipu oleh toko elektronik di Batam dan saya mengirim uang sbsar 4,4 juta rupiah.
    Skarang sy bingung harus buat apa, berdoa dan berdoa berharap uang itu bisa kembali krna saya hanya mahiswa tak pnya penghasilan.
    Kenapa Tuhan membiarkan sy mengalami smua ini?
    Uang sy habis smuanya dan skarang hanya tersisa 10 ribu rupiah. Rasa2nya ingin mati. Mengapa smua ini harus terjadi pada sya? Apakah Tuhan tidak kasihan pada saya yang menderita ini?

Tinggalkan Pesan