Pemateri Dialog Persaudaraan Antar Remaja di Lantai II Balai Nazareth Atambua, Sabtu (23)

Setelah mendengarkan berbagai masukan dari tokoh-tokoh agama dan setelah melakukan dialog antaragama, remaja di Kabupaten Belu, Atambua, mendesak Forum Kerukunan Antar Umat Beragama (FKUB) di kabupaten itu untuk membentuk komunitas khusus kaum muda lintas agama, “agar kaum muda lintas agama pun dapat duduk bersama untuk menyelesaikan persoalan antarremaja.”

Permintaan itu pun ditanggapi dan di akhir dialog Dialog Persaudaraan Antar Remaja Lintas Agama yang berlangsung di Atambua, 20 Desember 2014, terbentuklah forum kaum muda lintas agama dengan nama Komunitas Pemuda Lintas Agama Rai Belu (KPLARB).

“KPLARB dibentuk tidak untuk menandingi FKUB, melainkan sebagai wadah bagi kaum muda lintas agama untuk duduk bersama atau berdiskusi mengenai fenomena-fenomena yang marak terjadi akhir-akhir ini di Indonesia umumnya dan khususnya di Belu tercinta ini,” kata Niluh Putu Ayu Jayapawitri, remaja putri dari Gereja Sidang Jemaat Allah Kristen Protestan.

Dialog Persaudaraan Antar Remaja Lintas Agama yang dipandu oleh Pastor Antonius Kapitan Pr itu menghadirkan empat pemateri yakni Ketua FKUB, Kelapa Paroki Katedral Santa Maria Immaculata Atambua Pastor Stefanus Boisala Pr, Wakil Ketua I FKUB, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Belu Haji Kaliman B Lamarobak, Wakil Ketua II FKUB, Pendeta Daniel TH Fina dari Gereja Sidang Jemaat Allah dan Gereja Syallom, dan Sekretaris FKUB Pastor Paulus Nahak I.

Saat itu para peserta dari Remaja Masjid Hidayatullah, Remaja Policarpus, Remaja Syallom dan Remaja GSJA, Remaja Hindu Dharma, Orang Muda Katolik (OMK) dan Tunggal Hati Seminari-Tunggal Hati Maria (THS-THM) belajar tentang persaudaraan sejati, termasuk dari pandangan Islam, dan mengenal bahwa persaudaraan yang rukun itu menjadi kerinduan bersama. Mereka juga dicerahkan tentang dialog persaudaraan antarremaja.

Pastor Stefanus Boisala Pr mengajak peserta untuk bersatu tanpa membedakan warna pakaian demi kemajuan kabupaten itu lewat dialog dan duduk bersama, dan Pendeta Daniel mengajak peserta belajar perbedaan dari sandal yang bentuknya sama tapi tidak serasi, yang waktu jalannya tidak sama tapi mempunyai tujuannya sama.

Sementara itu Haji Kaliman Lamarobak menjelaskan tentang kewajiban Islam untuk menghargai perbedaan dan keberagaman yang ada melalui sesama saudara yang bukan Islam. “Islam tidak mengajarkan kekerasan. Islam wajib mempercayai dan mengakui bahwa Nabi terbesar itu adalah Nabi Isa Almasih. Itu sudah dikatakan oleh Nabi Muhammad SAW,” katanya. (Felixianus Ali)

 

Tinggalkan Pesan