Pohon Natal Lapangan St Petrus

Sejak malam hari tanggal 19 Desember 2014, para peziarah di Lapangan Santo Petrus Vatikan bisa menyaksikan Pohon Natal dengan lampu-lampunya yang menyalah dan Kandang Natal bagaikan sebuah opera di bawah pohon itu.

Paus Fransiskus mengatakan kepada delegasi dari Italia, yang memberikan Kandang Natal dan Pohon Natal yang kini menghiasi lapangan itu bahwa “nilai-nilai Kristen telah memperkaya budaya, sastra, musik dan seni  negeri kalian, dan hari ini nilai-nilai itu terus menjadi warisan berharga untuk dilestarikan dan diwariskan kepada generasi masa depan.”

Kandang Natal dan Pohon Natal, jelas Paus, adalah simbol pesta yang sangat disenangi oleh keluarga Kristen. Simbol-simbol itu mengingatkan misteri Inkarnasi, Putra Tunggal Allah menjadi manusia untuk menyelamatkan kita, dan cahaya yang Yesus bawa ke dunia melalui kelahiran-Nya.

Namun palungan dan pohon itu menyentuh hati semua orang, karena keduanya berbicara tentang persaudaraan, keakraban dan persahabatan, seraya berseru kepada orang-orang saat ini untuk menemukan kembali keindahan dari kesederhanaan, berbagi dan solidaritas.

Palungan dan pohon itu, lanjut Paus, mengajak kita untuk bersatu, rukun dan damai, memberi tempat bagi Allah dalam dalam kehidupan pribadi dan sosial kita. Allah tidak datang dengan kesombongan seraya memaksakan kuasa-Nya, melainkan memberikan cinta mahakuasa-Nya melalui sosok rapuh seorang anak. “Maka, palungan dan pohon membawa pesan cahaya, harapan, dan cinta.”

Selama bertahun-tahun, tradisi memasang pohon Natal hampir tidak diikuti di Italia, namun pada tahun 1982, Paus Yohanes Paulus II membawa tradisi Polandia ke Vatikan dengan menempatkan sebuah pohon di Lapangan Santo Petrus. Sejak itu, banyak negara dan wilayah Eropa bergantian menyumbangkan pohon untuk Paus.

Pohon tahun ini, yang sudah berusia 70 tahun, disumbangkan oleh wilayah Italia bagian selatan, Calabria, yang dikunjungi Paus Fransiskus bulan Juni tahun ini.

Dalam ensiklik “Lumen Fidei” Paus Fransiskus menggunakan gambar cabang-cabang pohon untuk menggambarkan penyebaran iman dari Allah ke dunia.

Pohon itu berdiri setinggi 25,5 meter, berat 8 ton dan memiliki apa yang dikenal sebagai batang kembar, dua batang terpisah menyatu membentuk batang pohon tunggal. Fitur ini juga digunakan secara simbolis, untuk menunjukkan bahwa manusia tidak pernah sendirian dalam perjalanan  kehidupan ini, tetapi selalu diikuti oleh Tuhan. (pcp dari beberapa sumber)

 

Tinggalkan Pesan