20141203_191528

Santo Fransiskus Xaverius sangat mencintai Ekaristi. Sebelum masuk ke daerah-daerah misi, orang kudus itu beradorasi Ekaristi di hadapan Sakramen Mahakudus bukan hanya berjam-jam tetapi berhari-hari, siang dan malam. Salah satu ciri hidup santo itu terdengar saat homili perayaan Ekaristi Pesta Nama Pelindung Paroki Fransiskus Xaverius Kebon Dalem yang terletak di kawasan Pecinan Kota Semarang, 3 Desember 2014.

Di depan sekitar 700 umat yang menghadiri perayaan itu, Kepala Paroki Kebon Dalem Pastor Aloys Budi Purnomo Pr, yang biasa disapa Pastor Budi, mengatakan bahwa baik dalam gambar atau patung terlihat orang kudus itu selalu memegang salib. “Salib menjadi tanda penyerahan Kristus kepada dunia,” kata imam itu seraya menambahkan bahwa Santo Fransiskus Xaverius memahami Yesus yang tersalib selalu hadir, dikenang saat Ekaristi, dan disembah saat adorasi.

Dalam kotbah itu Pastor Budi mengajak umat untuk untuk bersyukur karena Gereja itu berlindung pada Santo Fransiskus Xaverius, dan dalam dua tahun terakhir boleh menerima semangatnya melalui Adorasi Ekaristi Abadi. “Yang luar biasa adalah paroki ini dianugerahi relikui Santo Fransiskus Xaverius,” kata kepala dari paroki yang mempunyai kapel Adorasi Ekaristi Abadi itu.

Relikui, jelas imam itu, adalah bagian dari tubuh atau benda-benda yang terkait paut dengan orang kudus. “Gereja Katolik mengajarkan agar benda-benda suci, entah tubuh maupun benda-benda yang terkait dengan orang suci, dihormati oleh umat beriman. Dari padanya banyak manfaat dianugerahkan oleh Tuhan kepada kita umat beriman,” kata imam itu.

Maka, setelah homili, umat dipersilakan mencium relikui yang merupakan potongan kecil dari salib yang pernah dibawa orang kudus itu dalam mewartakan Kristus. “Bukan untuk menyembah berhala tetapi dengan dasar Kitab Suci, dengan dasar ajaran Gereja, kita belajar meneladan semangat Santo Fransiskus Xaverius. Bahkan dengan penuh iman, dengan mencium benda-benda suci itu, Anda yang sakit akan disembuhkan, Anda yang lemah akan dikuatkan, dan iman Anda akan terus diteguhkan dan semakin berkobar di dalam cinta  akan Tuhan,” kata Pastor Budi.

Pesta Santo Pelindung itu dilengkapi pesta umat yang juga dihadiri pemerintah Kota Semarang yang dipimpin Walikota Semarang Hendrar Prihadi. Dia berterima kasih atas keterlibatan umat Katolik dalam membangun Kota Semarang. “Saya ucapkan terima kasih. Banyak hal bisa dilakukan bersama dalam membangun Semarang. Situasi kondusif adalah wujud peranserta Bapak-Ibu sekalian. Tidak gampang membuat wilayah ini kondusif, perlu dukungan semuanya,” katanya.

Mas Hendi, demikian dia biasa disapa, meminta umat Katolik supaya mendoakan agar warga Kota Semarang “memiliki kekompakan, kemurahan rejeki, hidup bersama, dan saling membantu.” Dia juga mengajak semua komunitas dan semua agama untuk bersama-sama membangun Kota Semarang. “Tidak ada lagi istilah minoritas, tidak ada lagi istilah mayoritas. Yang ada adalah kita semua sama-sama warga, sedulur Kota Semarang,” kata walikota yang bertukar cindera mata dengan Pastor Budi kemudian berbaur bersama umat dalam pesta umat.(Lukas Awi Tristanto)

1 komentar

Tinggalkan Pesan