sr lucia

Opsi memihak dan membela mereka yang harkat dan martabatnya dilecehkan, yang cacat mental dan fisik, yang bisu dan tuli, yang berkeliaran di jalanan kota dan kampung akibat depresi, stres, kekerasan, pelecehan, penistaan, penipuan, ketidaksetiaan, dan menampung, merawat dan merehabilitasi kondisi fisik dan mental mereka adalah wujud konkret iman.

Namun, pribadi dengan kebutuhan dan kemampuan khusus itu sering kurang bahkan tidak mendapat perhatian masyarakat, pemerintah maupun keluarga dan orangtua. Mereka ibarat “sampah” yang harus dibuang dari tengah masyarakat.

Kesadaran itu mendorong Suster Lucia CIJ, Ketua Yayasan Bina Daya (Yasbida) Santo Vincentius Cabang Sikka, Flores, NTT, untuk mendirikan Panti Rehabilitasi Penyandang Cacat Santa Dymphna Wairklau Maumere Kabupaten Sikka sepuluh tahun lalu. Panti, yang masih membutukan bantuan dana itu, kini menampung 90 penyandang disabilitas mental dan 12 orang cacat fisik. Inilah satu-satunya panti rehabilitasi di NTT yang menampung orang gila.

Suster Lucia yang lahir di Mataloko, Bajawa, 19 September 1966, menerima mereka sebagai pilihan Allah. “Kaum pinggiran yang dianggap ‘sampah’ oleh masyarakat, tapi di mata Allah merupakan ‘mutiara’ pilihan keberpihakan-Nya dalam dan melalui Putra-Nya Yesus Kristus.”

Suster yakin bahwa bukan orang sehat yang membutuhkan tabib tetapi orang sakit. “Opsi Allah dalam diri Putra-Nya adalah berpihak kepada yang sakit. Mereka adalah mutiara. Untuk mereka Allah datang. Mereka adalah mutiara, justru untuk mereka Allah rela menjelma jadi manusia, yang lahir di kandang hina, menderita dan wafat di kayu salib hina, agar manusia terentas dari lumpur kedurjanaan sampah kecacatan dan dosanya.”

Mengenang awal pendirian panti itu, Suster Lucia CIJ bercerita kepada PEN@ Katolik tentang suatu peristiwa pelatihan menjahit yang difasilitasinya dengan dana dari Dinas Sosial Sikka, November 2003. Saat itu 10 gadis cacat berkata kepadanya, “Mama suster, bagaimana kalau kami ditampung, untuk terus belajar menjahit?” Namun, suster itu menjawab, “Saya tidak punya uang untuk membangun rumah panti bagi kamu.”

The voices of the voiceless” itu, kenang suster, menggema terus dalam hatinya sehingga dia terdorong mencari jalan keluar. Beberapa hari kemudian, 10 gadis cacat itu datang lagi ke kantor Yasbida, dan sekali lagi permintaan yang sama disampaikan bahkan ditambahkan “…kalau perlu ketrampilan lain seperti menyulam, merenda dan memasak.”

Suster pun terus memikirkan cara merespons permintaan mereka. Hati kecilnya melihatnya sebagai rahmat untuk merelisasikan visi dan misi kongregasi. Keberpihakan kepada yang kecil (option for the poor) yang merupakan panggilan Gereja universal dan misi Kongregasi Pengikut Yesus (CIJ, Congregatio Imitationis Jesu) harus diwujudkan. “Ini peluang, rahmat yang harus ditanggapi dalam aksi nyata. Allahlah yang menghendaki semuanya lewat anak-anak ini,” kata suster. Maka, lanjutnya, bila Allah yang menghendaki dan menyelenggarakan semuanya, pasti Dia selalu memberi jalan.

Bersama 10 gadis itu, suster melakukan aksi penggalian dana, meminta bantuan dana di beberapa toko dan instansi pemerintah, karena mereka percaya “Carilah maka kamu akan mendapat, ketuklah maka pintu akan dibukakan bagimu.” Dan, kurang lebih tiga hari, mereka mampu membukakan hati mereka yang mempunyai kepedulian terhadap nasib kaum kecil. Mereka memperoleh dana sebesar Rp. 462.500.

“Inilah dana awal yang merupakan sejarah dan buah perjuangan, dan panti itu kini menjadi besar, bisa menampung ratusan penyandang disabilitas serta bisa melakukan banyak aktivitas pemberdayaan dan penyembuhan terhadap kaum cacat.”

Suster lalu menampung 10 gadis cacat itu di rumah sederhana milik yayasan, dan hidup apa adanya bersama mereka. Dari jumlah uang yang ada, suster tambahkan uangnya sendiri sebesar dua juta rupiah, kumpulan honor-honornya sebagai instruktur keterampilan bagi anak cacat yang disponsori dinsos. Uang mereka membesar menjadi Rp. 2.462.500.

Namun jumlah itu tidak cukup untuk memulai membangun panti. Meski demikian, berkat sumbangan moril dan material dari beberapa orang, batu pertama pembagunan panti dilaksanakan tanggal 26 Januari 2004 dipimpin Pastor Beslon Pandiangan OCarm. Dan berjalanlah pembangunan itu meski tertatih-tatih, termasuk dengan sumbangan dana pembangunan 8 juta rupiah dari dinsos, hingga rampung di bulan Juni 2004.

Panti Rehabilitasi Santa Dymphna sudah berkiprah 10 tahun, namun uluran tangannya masih terbuka bagi para donatur. Suster Lucia pun masih membuka warung di Pasar Alok. Pekerjanya adalah mereka yang sudah sembuh dari panti. Mereka digaji seadanya. Selain itu, penyandang cacat dari panti masih menjual kue. “Kue … kue!”(Yuven Fernandez)

Tinggalkan Pesan