Paus di Parlemen Uni Eropa Foto AP

Paus non-Eropa pertama dalam 1200 tahun lebih tiba di Perancis tanggal 25 November 2014 untuk menyampaikan pidato kepada Parlemen Eropa di Strasbourg, dan Dewan Eropa.

Pesawat Paus Fransiskus mendarat pukul 10.00 waktu setempat dan disambut beberapa pejabat terkemuka dan uskup. Meskipun kunjungan itu bukanlah perjalanan apostolik, ratusan umat beriman berkumpul seraya bernyanyi dan bersorak-sorak saat iring-iringan mobil yang ditumpangi Paus meninggalkan bandara.

Setibanya di Parlemen Eropa, Paus disambut oleh Presiden Parlemen Eropa Martin Schulz. Setelah menyalami beberapa perwakilan, Bapa Suci bertemu seseorang yang sangat istimewa di masa lalu, yakni seorang perempuan tua. Di rumah keluarga perempuan itu Paus tinggal saat belajar bahasa Jerman. Paus berseri-seri saat berbicara beberapa menit dengan perempuan yang kini berusia 90-an itu.

Paus mulai berpidato dengan mengatakan bahwa ia datang sebagai pastor “guna menyampaikan pesan harapan dan dorongan bagi semua warga Eropa.”

“Ini pesan harapan yang berdasarkan keyakinan bahwa masalah kita bisa menjadi kekuatan besar untuk bersatu mengatasi semua ketakutan yang Eropa – bersama-sama seluruh dunia – alami saat ini,” kata Paus. “Inilah pesan harapan di dalam Tuhan, yang merubah yang jahat menjadi yang baik dan kematian menjadi kehidupan.”

Seraya menekankan ikatan antara martabat dan transendensi, Paus mengatakan kepada para anggota Parlemen bahwa peningkatan hak asasi manusia adalah pusat misi Uni Eropa dalam meningkatkan martabat manusia. Namun, kata Paus, martabat terganggu kalau kebebasan mengungkapkan keyakinan agama seseorang tidak ditolerir, kalau tirani menang atas aturan hukum, kalau laki-laki dan perempuan rentan terhadap diskriminasi, dan kalau orang tidak punya makanan dan pekerjaan.

Paus melanjutkan pidato dengan mendesak Parlemen Eropa untuk mengembangkan budaya yang menghubungkan setiap pribadi dengan kebaikan bersama. Melakukan hal itu berarti menganggap manusia “bukan sebagai yang mutlak, melainkan sebagai makhluk yang berhubungan.”

Salah satu dari “penyakit-penyakit” yang ada di Eropa saat ini, kata Paus, adalah kesepian, terutama kesepian orang tua yang “ditinggalkan (menunggu) nasib mereka,” kaum muda yang tidak punya kesempatan untuk masa depan, orang miskin dan juga kaum imigran.

Paus berusia 77 tahun itu mengatakan bahwa krisis ekonomi saat ini membuat kesepian menjadi semakin akut, sehingga menjadi “konsekuensi tragis” bagi masyarakat, termasuk semakin besarnya ketidakpercayaan terhadap lembaga-lembaga yang “dianggap terasing.”

“Kita menemukan gaya-gaya hidup tertentu yang agak mementingkan diri sendiri, yang ditandai kemewahan dan sering acuh tak acuh terhadap dunia sekeliling kita, dan terutama terhadap yang termiskin dari yang miskin,” kata Paus.

“Lelaki dan perempuan bisa saja dikecilkan menjadi sekedar roda mesin yang memperlakukan mereka sebagai barang konsumsi untuk eksploitasi, dan hasilnya – sebagaimana begitu tragis terlihat –kehidupan manusia yang tidak lagi terbukti bermanfaat untuk mesin akan dibuang tanpa banyak keraguan, seperti dalam kasus sakit parah, orang tua yang ditinggalkan dan tak terawat, dan anak-anak yang tewas dalam rahim,” lanjut Paus. Delegasi Uni Eropa menanggapi pernyataan  itu dengan tepuk tangan.

Kebingungan antara tujuan dan sarana, lanjut Paus, muncul karena dibiarkan diambil alih oleh teknologi, membuka jalan untuk “budaya membuang yang tak berguna” dan “konsumerisme yang tak terkendali.”

Paus Fransiskus mengakhiri pidato dengan meminta lembaga-lembaga Uni Eropa untuk mengingat akar agama mereka. Kata-kata Paus kembali disambut tepuk tangan ketika mengatakan bahwa “lupa akan Allah, dan kurang memuliakan Dia, […] menyebabkan kekerasan.”

Paus juga mengecam ketidakadilan dan penganiayaan umat Kristen dan kaum minoritas agama di seluruh dunia. “Umat-umat dan pribadi-pribadi saat ini rentan mengalami aksi kekerasan yang kejam, diusir dari rumah dan tanah kelahirannya, dijual sebagai budak, dibunuh, dipenggal kepalanya, disalib atau dibakar hidup-hidup,” dan begitu banyak orang hanya diam melihatnya.

Bapa Suci juga mendesak pentingnya persatuan, yang katanya tidak identik dengan keseragaman politik, ekonomi dan budaya. Menempatkan pribadi dan kreativitas umat manusia di garis depan, kata Paus, menegaskan sentralitas pribadi manusia.

“Bukan lagi rahasia bahwa konsepsi persatuan yang nampak sebagai keseragaman menyerang vitalitas sistem demokrasi, seraya melemahnya interaksi yang kaya, berbuah dan konstruktif dari organisasi-organ dan partai-partai politik,” kata Paus.

“Kekuatan sebenarnya dari demokrasi kita – yang dipahami sebagai ungkapan kehendak politik masyarakat – tidak seharusnya ambruk karena tekanan kepentingan multinasional yang tidak universal, yang melemahkan dan mengubah mereka menjadi sistem kekuatan ekonomi yang seragam demi melayani kekaisaran yang tidak kelihatan.”

Untuk menjamin sentralitas ini, Paus Fransiskus menyoroti pentingnya tiga bidang khusus, yang pertama adalah keluarga sebagai “sel dasar dan elemen paling berharga dari setiap masyarakat.” Kedua adalah pekerjaan. Paus mengatakan, sudah saatnya “meningkatkan kebijakan-kebijakan yang menciptakan lapangan kerja, tetapi di atas semua itu adalah kebutuhan untuk mengembalikan martabat buruh dengan memastikan kondisi kerja yang layak.”

Hal penting lain yang ditekankan Paus adalah persoalan imigrasi. Para anggota Parlemen Uni Eropa sekali lagi bertepuk tangan saat Bapa Suci berseru, “Kita tidak bisa membiarkan Laut Mediterania menjadi pekuburan luas!” Hal lain yang ditekankan adalah perlunya mengadopsi kebijakan yang membantu negara-negara asal, di mana konflik sering menyebabkan orang bermigrasi. “Kita perlu mengambil tindakan terhadap penyebab-penyebab, bukan hanya dampaknya,” kata Paus.

Menutup pidato, Paus Fransiskus mendesak anggota-anggota Parlemen Eropa untuk bekerja sama membangun Eropa yang berpusat seputar pribadi manusia bukan seputar ekonomi.

“Waktunya telah tiba bagi kita untuk meninggalkan pemikiran  tentang Eropa yang ketakutan dan egois, guna menghidupkan kembali dan mendorong sebuah Eropa kepemimpinan, gudang ilmu, seni, musik, nilai-nilai kemanusiaan dan dan juga iman,” kata Paus.

Setelah menyampaikan pidato delegasi Uni Eropa memberikan sambutan tepuk tangan sambil berdiri untuk Bapa Suci selama satu menit setengah. Paus Fransiskus kemudian pergi ke Dewan Eropa.(terjemahan pcp berdasarkan laporan Junno Arocho Esteves dari Zenit.org)

Paus dengan Martin Schulz Foto dari BBC

 

Paus disambut oleh Presiden Parlemen Eropa Martin Schulz. Kedua foto dalam tulisan ini adalah foto dari AP.

Tinggalkan Pesan