20141107_084240

Sebagai komunitas, sebagai organisasi yang memakai nama Katolik, mau tidak mau, semangat solidaritas harus berakar dari sosok Yesus Kristus. Pastor Aloys Budi Purnomo Pr mengatakan hal itu dalam Retret Nasional (Retnas) Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) di kawasan Kaliurang, Yogyakarta, 7 November 2014.

“Solidaritas itu bagian dari buah-buah saat kita tinggal di dalam Kristus, melalui sembah sujud kita, melalui kesatuan kita yang menjadi akar solidaritas,” kata imam itu kepada 74 peserta retnas yang berasal dari berbagai cabang PMKRI di Indonesia.

Yesus Kristus yang dikenal sebagai Sang Sabda, yang telah menjadi manusia dan tinggal di antara kita, lanjut imam itu,  hadir untuk menyatakan solidaritas itu. “Maka, kalau kita membangun solidaritas sebagai mahasiswa-mahasiswi yang bergerak secara sosial politik, organisasi kemasyarakatan, mau tidak mau akarnya adalah Dia,” ungkap Pastor Budi.

Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang itu menjelaskan bahwa solidaritas merupakan buah spiritualitas tinggal di dalam Kristus. “Dan inilah buah tinggal itu. Karena menempel pada Sang Pokok Anggur, buahnya tidak hanya satu, tapi ada sekian banyak kelompok yang menyatu dan persatuan tersebut menjadi berkat.”

Yesus sendiri, lanjut imam itu, mengambil pola hidup tinggal di dalam Allah Bapa. “Yesus selalu bersama dengan Bapa, siang, malam, pagi dan kemudian memanggil para murid-Nya untuk mengembangkan solidaritasnya dan kemudian menyalurkan kuasa penyembuhan yang memberdayakan.”

Imam yang piawai memainkan saksofon itu menambahkan, keterbukaan hati kepada Allah dipelihara dan dikembangkan oleh-Nya dengan menyediakan waktu dan tempat khusus untuk berdoa. “Yesus biasa pergi ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman ia berdoa kepada Allah (Luk 6:12-19). Dengan demikian Dia menangkap kebijaksanaan Allah yang diwahyukan dalam alam ciptaan. Keheningan doa membuat hati-Nya mudah tersentuh dan peka pada kebutuhan banyak orang, dan itulah solidaritas. Itulah bela rasa, itulah yang disebut compassion.”

Doa-doa Yesus, tegas imam itu, menjadi sumber inspirasi yang meneguhkan karya-Nya. “Dan karya-Nya menjadi ungkapan kesediaan-Nya melakukan kehendak Bapa-Nya dalam pengalaman akan Allah. Campur tangan Allah dalam kejadian sehari-sehari dapat dialami.”

Pastor Budi membuat para mahasiswa menyadari bahwa mengikuti Yesus berarti membuka diri dan mengalami kehadiran Allah baik dalam doa maupun peristiwa sehari-hari. Imam itu lalu mengajak para pengikut Kristus termasuk anggota-anggota PMKRI untuk memperdalam hidup keagamaan supaya sampai pada pengalaman iman sejati seperti yang dialami Kristus sendiri.

“Hidup rohani kita hendaknya utuh dan sekaligus meresapi segala tata kehidupan bermasyarakat dengan semangat dan nilai Injil. Tidak kita pisah-pisahkan hidup doa dan pekerjaan-pekerjaan kita dan begitu juga sebaliknya. Karya kita mengalir dari doa kita,” kata imam itu.

Retnas itu juga menghadirkan sembilan narasumber lain. Pastor Franz Magnis-Suseno SJ, salah satu di antaranya, mendorong anggota PMKRI untuk mempertanggungjawabkan kebebasan mereka sebagai manusia. “Semakin manusia bertanggung jawab, semakin dia menjadi biasa memilih yang baik, bernilai, penting maupun adil, dengan mengalahkan kemalasan, egoisme, atau pun kepicikannya,” kata imam itu.

Retnas itu, kata Ketua Pengurus Pusat PMKRI Lidya Natalia Sartono, dilaksanakan untuk menghadirkan semangat PMKRI yang lebih utuh, yakni semangat tiga benang merah, kristianitas, intelektualitas, dan fraternitas.

Karena aspek kristianitas perlu diperdalam, maka retnas itu mengambil tema “Duc in Altum,” kata Lidya seraya berharap agar setelah retnas itu para kader PMKRI “memiliki landasan iman yang cukup sebagai bekal dalam berjuang.”(Lukas Awi Tristanto)

PMKRI

1 komentar

  1. maaf slmnya saya mau nanya nih… klw mw bergabung dengan pmkri caranya bagaimana ya…saya ira mahasiswa katolik UNJ…mohon infony ya.trims.

Tinggalkan Pesan