IMG_5146

Oleh Paul C Pati

Seseorang yang mempunyai devosi khusus pada Mgr Johannes Aerts MSC, Vikaris Apostolik Belanda New Guinea pertama, yang mati ditembak oleh tentara Jepang tanggal 30 Juli 1942 adalah Pastor Gerardus Esserey MSC, imam dari Kampung Karlomin (Kaswui), di Kabupaten Maluku Tengah, yang kini berusia 72 tahun.

Sebagai puncak penghargaan dan doanya bagi Mgr Aerts dan kawan-kawannya, imam yang tinggal di Biara MSC Langgur itu mengatakan, “Saya selalu menyebut nama Mgr Aerts dan para martir Langgur lainnya dalam setiap merayakan Misa.”

Tanggal 3-6 Oktober 2014, beberapa imam diosesan yang sedang mengikuti Munas XI Unio Indonesia di Ambon mengikuti live-in di Langgur dan mengunjungi serta merayakan Misa di Taman Ziarah Mgr Aerts MSC serta mengunjungi Biara MSC Langgur.

Dalam pembicaraan dengan PEN@ Katolik, imam itu mengungkapkan tiga buah benda yang disebutnya “rahasia” dan tidak dia gembor-gemborkan. Yang pertama, dia mengeluarkan dari sakunya sebuah batu berwarna hitam. “Saya buka rahasia. Saya tidak tahu ini wajah Tuhan Yesus atau wajah Mgr Aerts. Saya dapat ini ketika Misa Pagi di PBHK. Waktu pulang saat hujan saya melihat ada apa di jalan, dan ini saya ambil. Sampai di kamar saya melihat, ini wajah manusia.” Imam itu lupa tanggal tepat dia menemukan batu itu. “Tahunnya sekitar 15-20 tahun lalu. Saya tak ingat tanggal berapa,” katanya.

Kemudian Pastor Esserey masuk ke kamarnya dan kembali membawa sebuah salib yang “sudah tujuh tahun berlumuran darah.” Imam itu menceritakan bahwa salib itu dibelinya tanggal 26 Maret 2007, pada Pesta Kabar Sukacita, saat merayakan Misa di Tempat Ziarah di Stasi Ngilngof, Kei Kecil. “Salib ini saya bawa ke sini, dan besok paginya saya melihat darah itu. Salib itu mulai berdarah. Warna aslinya yang putih semua berubah seperti ini,” jelas imam itu.

Pastor Esserey merasakan salib itu “sebagai pemberian Yesus, yang saya tidak tahu maksudnya, mungkin Dia minta saya untuk ikut menderita.” Imam itu mengaku selalu mencium salib itu saat dia terbangun di malam hari. Pernah patung itu terjatuh dan patah saat tertidur, maka dia harus menyambung lagi bagian yang patah.

Kemudian Pastor Esserey mengeluarkan sebuah kotak plastik berisi segumpal darah yang dibungkus kapas, serta sebuah kertas dengan coretan-coretan darah. Imam itu bercerita bahwa pada tanggal 29 Mei 2010 ketika berada di Taman Ziarah Mgr Aerts MSC, dia melihat semacam darah turun dari salib besar yang dibangun di taman itu untuk menandai tempat Mgr Aerts terbunuh.

“Lalu saya naik ke kaki salib dan di bagian kaki saya ambil darah ini. Menurut saya ini darah. Saya mau kasih ini kepada Vatikan. Ini bisa diperiksa. Saya mau serahkan kepada orang yang mau bawa langsung kepada Duta Vatikan,” kata imam kepada PEN@ Katolik.

Semua yang diperoleh imam itu semakin menegaskan bahwa Mgr Aerts adalah orang kudus. “Untuk saya, dia sudah menjadi orang kudus. Diakui oleh Vatikan atau tidak, dia orang kudus, dia sudah orang kudus. Kalau kita baca riwayat hidupnya, dia memang orang kudus. Melihat mukanya saja di foto-foto, saya melihat cahaya mendalam keluar.”

Kalau Mgr Aerts mau lari dan putuskan ke Australia, dia tidak ditembak, dia akan tetap hidup, tapi sejarah akan menjadi lain kalau gembala meninggalkan domba-dombanya. “Padahal, kalau mau keluar bisa karena mereka punya kapal motor untuk ke Australia. Tapi kalau lari, dia akan dibebani dengan keadilan suara hati,” kata Pastor Esserey yang bangga karena suara tembakan terdengar setelah semua martir itu mau mati untuk Kristus dengan seruan Pastor Gerardus Berns MSC: “Untuk Kristus Raja Kita, Jadilah” dan ditanggapi martir lainnya: “Jadilah!”***

IMG_5141 IMG_5150

1 komentar

  1. Kalau seandainya Mgr Aerts seorabNG iTALIA atau Spanyol ia sudah dikanonisir 50 tahun lalu dgn temam-
    temanya martir.Saya sangka sebab bahwa mereka tidak dikanosir adalah dua;A DAN B
    A Ketegangan antara umat katolik pulau Kei dan pihak-non-katolik di sekitar Langgur yang melapotkan PALSU mereka sebagai musuh NEGARA Jepng akan Hidup kembali
    Rehabilitasi nama mereka sebagaii orang yg membawa damai dan bukan perang tidak begitu penting bagi mereka itu karena tidak mengubahkan status mereka sendiri di akhirat Dan tidak mengubahkan uang pensiunan janda atau anak mereka entah pahlawan atau penkhianat negara.Juga MSC TAK AKAN MERnerima uang ganti rugi dari pemerintsAHjEPANG ATAU GUBERNUR ambon..
    B Keuntungan bagi umat aktuil Amboina utk menambah semangat umat katolik lebih baik dinilai oleh pemimpin Gereja di Amboina sendiri daripada oleh jvp dari kursi beroda di Lotta.
    Jadi entah A LEBIH BESAR daripada darpada B atau sebaliaknya, jvp tidak bisa menilai.

Tinggalkan Pesan