Pope Francis on Berlin Walls

Dalam sambutan Angelus, 9 November 2014, Paus Fransiskus mengenang 25 tahun runtuhnya Tembok Berlin, seraya berseru kepada dunia untuk menyebarkan “budaya perjumpaan.”

Bapa Suci memulai sambutannya dengan mengenang Pemberkatan Basilika Santo Yohanes Lateran, yang dirayakan Gereja Katolik hari itu, demikian Junno Arocho Esteves dari Zenit.org, Kota Vatikan. Basilika itu adalah Katedral Roma dan kursi atau tahta gerejawi uskupnya, yakni Paus. Basilika yang diberkati oleh Paus Silvester I di tahun 324 itu adalah gereja tertua di Barat.

Basilika itu dikenal sebagai “ibu dari semua Gereja.” Menyadari hal itu, Paus mengatakan bahwa istilah itu tidak hanya mengacu pada bangunan itu sendiri, tetapi “karya Roh Kudus yang dimanifestasikan” melalui pelayanan Uskup Roma, dalam kesatuan dengan Gereja di seluruh dunia.

“Kesatuan ini menggambarkan sifat universal keluarga. Karena ada ibu dalam keluarga, maka Katedral Lateran yang dihormati itu menjadi ‘ibu’ bagi gereja-gereja semua umat Katolik di dunia,” kata Paus. Maka, dengan pesta itu, tegas Paus, “dalam kesatuan iman kita mengakui ikatan persekutuan antara semua Gereja lokal, yang menyebar di seluruh bumi, dengan Gereja Roma dan dengan uskupnya, pengganti Petrus.”

Paus mencatat bahwa bangunan itu sendiri adalah tanda Gereja yang hidup di dunia, yang terdiri dari laki-laki dan perempuan, dan di situ Kristus benar-benar hidup. Tanda ini, lanjut Paus, memanggil semua orang Kristen untuk konsisten dalam kehidupan mereka “dengan karunia iman dan kesaksian Kristen.”

“Kita semua tahu, itu tidak mudah, konsistensi antara iman dan kesaksian,” kata Paus. “Tapi kita harus terus maju dan konsisten setiap hari dalam hidup kita. Inilah orang Kristen! Tidak banyak bicara, tapi berbuat, sesuai hidup yang dia jalani. Koherensi yang memberikan kehidupan kepada kita ini, adalah rahmat Roh Kudus yang harus kita minta.”

Sebelum berdoa Angelus dengan umat beriman, Paus mengingatkan umat beriman bahwa pesta hari ini adalah undangan untuk merefleksikan persekutuan Gereja di seluruh dunia. Persekutuan ini adalah motivasi bagi umat Kristen untuk mengatasi hambatan ketidakpedulian dan untuk “membangun jembatan pemahaman dan dialog.”

“Gereja sendiri,” jelas Paus, “adalah tanda dan antisipasi kemanusiaan baru ini, saat menghidupi dan menyebarkan Injil dengan kesaksiannya, pesan harapan dan rekonsiliasi bagi seluruh umat manusia.”

Mengenang 25 tahun runtuhnya Tembok Berlin, Paus Fransiskus mengatakan bahwa dinding mewakili perpecahan ideologis yang ada di Eropa dan dunia. Paus juga mencatat orang-orang yang meninggal, berjuang dan berdoa untuk kehancuran tembok itu, termasuk pendahulunya, Santo Yohanes Paulus II, yang katanya, “memiliki peran utama” dalam keruntuhannya.

Setelah terpilih sebagai paus, dukungan gerakan Solidaritas dari Paus Yohanes Paulus II di tanah kelahirannya, Polandia, ikut membuat jatuhnya Komunisme di sana. Dampaknya terasa di seluruh Eropa.

Paus Fransiskus berdoa agar tembok-tembok yang terus membagi dunia saat ini bisa terus runtuh dan agar “budaya perjumpaan bisa terus menyebar.”

Budaya ini, kata Paus mengakhiri sambutannya, “mampu merobohkan semua tembok yang masih membagi dunia, dan semoga orang yang tidak bersalah tidak pernah akan lagi dianiaya dan bahkan dibunuh karena kepercayaan dan agama mereka.”

“Di mana ada tembok di situ ada penutupan hati. Kita perlu jembatan, bukan tembok!” seru Paus. (pcp)

safe_image Facade_San_Giovanni_in_Laterano_2006-09-07

 

Keterangan foto:

(kanan) gambaran penghancuran Tembok Berlin

(kiri) Basilika Lateran

Tinggalkan Pesan