sr esto

Sepanjang tahun 2012 terjadi 216.156 kasus kekerasan terhadap perempuan, 65 persen di antaranya di ranah personal terhadap istri, sementara 34 persen di ranah komunitas. Data Komisi Nasional (Komnas) Perempuan berlaku juga di Nusa Tenggara Timur. Pos Kupang dan Flores Pos melaporkan bahwa banyak kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan juga terjadi di sana.

Kasus kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak memang semakin meningkat setiap tahun. Menurut data Divisi Perempuan Tim Relawan Untuk Kemanusiaan Flores (TRUK-F), sejak tahun 2000 hingga 2013 terdapat 1.920 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Dari jumlah itu kasus kekerasan seksual menempati posisi tertinggi.

Pendiri yang kini bertugas sebagai koordinator TRUK-F, Suster Eustochia Monika Nata SSpS,  adalah pejuang kemanusiaan, khususnya bagi kaum perempuan dan anak yang menjadi korban  kekerasan fisik, psikis dan seksual. Dia telah banyak menyelamatkan banyak perempuan dan membuat pelaku kejahatan mendapatkan hukuman yang setimpal. TRUK-F yang berpusat di Maumere didirikan oleh Suster Eustochia di tahun 1999. Kini lembaga itu menjalin kerja sama dengan Komnas Perempuan di Jakarta.

Beberapa waktu lalu, Yuven Fernandez dari PEN@ Katolik di Maumere menemui suster dari Tarekat Suster-Suster Abdi Roh Kudus atau Servarum Spiritus Sancti (SSpS) itu untuk wawancara.

PEN@ Katolik: Sejak kapan suster  mulai bergelut di  TRUK-F?

SUSTER EUSTOCHIA MONIKA NATA SSPS: Awal mula terbentuknya TRUK-F panjang sekali ceritanya. Tahun 1997 kami membentuk kelompok ibu-ibu di Paroki Boganatar, Keuskupan Maumere, untuk pelatihan keterampilan menjahit, memasak dan menyulam. Di kelompok ini kami sering berbagi pengalaman tentang kehidupan ibu dalam rumah tangga. Dari ibu-ibu inilah kami mendengar banyak kekerasan dalam rumah tangga yang mereka alami. Namun, karena menyangkut budaya patriarkat yang memperlakukan kaum laki-laki lebih istimewa daripada perempuan, mereka pun menerima saja kekerasan itu.

Hati saya pun tergerak untuk memberikan perhatian dan membela kaum perempuan yang tertindas. Namun, karena masih dalam tahap penjajakan atau mencari bentuk, maka lembaga ini baru resmi berdiri tahun 1999, ditandai dengan pembentukan semacam divisi yang menangani bidang perempuan, pendidikan, dan advokasi.

Waktu itu yang berperan aktif atau boleh disebut pendiri adalah saya sendiri bersama Pastor Ansel Dore Dae SVD, Pastor Philipus Tule SVD, dan Alex Longginus. TRUK-F adalah lembaga independen yang bergerak di bidang kemanusiaan, tidak di bawah otoritas lembaga keagamaan atau pemerintah.

Apa motivasi dasar suster sehingga getol membela kaum perempuan dan anak lewat TRUK-F?

Pengalaman paling menarik dan menjadi spirit saya untuk membela kaum perempuan dan anak, setelah membantu ibu-ibu di Paroki Boganatar, adalah permintaan Uskup Belo (Uskup Dili, Timor Timur waktu itu) untuk membantu ibu-ibu pengungsi Timor Timur yang diperlakukan secara tidak bermoral, dipaksa oleh suami mereka untuk menjual diri karena alasan ekonomi. Saat itu saya rasakan getaran hati nurani seorang ibu yang tidak berdaya di hadapan suaminya. Orang yang diharapkan sebagai pelindung dan pencari nafkah dalam keluarga menjadi begitu kejam, menjual isterinya sendiri. Selain itu, pengalaman mendampingi korban kekerasan seksual terhadap seorang anak berusia 4 tahun yang dilakukan bapak kandungnya sendiri. Dua pengalaman ini menggugah hati saya untuk berjuang terus menyuarakan kaum lemah yang tidak bersuara lewat wadah TRUK-F.

Sudah berapa kasus yang ditangani Divisi Perempuan TRUK-F?

Sampai saat ini yang ditangani TRUK-F ada 1920 kasus. Kasus yang paling menonjol adalah kasus kekerasan dalam rumah tangga dan urutan kedua adalah kasus pemerkosaan anak di bawah umur. Usia korban kekerasan seksual mulai 4 tahun sampai 70 tahun. Para pelaku umumnya adalah orang-orang dekat, seperti bapak kandung, om, saudara, dan tetangga.

Faktor-faktor apa saja yang mendorong terjadinya kasus itu?

Alasannya sangat bervariasi, seperti tidak mendapatkan kepuasan dari pasangan, mabuk minuman keras, relasi kuasa, pandangan bahwa perempuan adalah kelas dua atau lemah, nonton film porno, dan juga ekonomi lemah, khususnya kasus incest, rumah dan kehidupan sangat  sederhana, tidak ada pembatasan jelas antara kamar keluarga, kamar anak wanita, dan kamar anak laki-laki, sehingga semua tidur hanya dalam satu kamar.

Apa tantangan dalam melaksanakan tugas kemanusiaan ini?

Kami sering mendapat ancaman dan teror dari pihak keamanan dan keluarga korban, karena kami dianggap membuka aib mereka, mengusik masalah privasi keluarga mereka. Apalagi kalau pelakunya termasuk orang yang memiliki kedudukan atau jabatan. Bahkan ada persoalan yang dipersulit bahkan dihilangkan kalau sudah masuk ranah hukum. Ada juga korban yang diintimidasi sehingga tidak mau membuka mulut. Ini sulit mendapat data tentang kekerasan. Kami juga mengalami kesulitan dalam hal personil TRUK-F dan alat transportasi. Banyak kasus tidak dilaporkan karena medan sulit dijangkau, khususnya di daerah pedesaan. Semua kegiatan yang dijalankan TRUK-F sebagian besar karena tugas kemanusiaan tanpa ada upah.

Bagaimana perasaan suster ketika mendapat ancaman dari keluarga pelaku?

Saya memiliki kepercayaan bahwa Tuhan akan selalu menyertai kami, bahwa segala sesuatu yang memiliki maksud dan tujuan buruk pasti tidak berhasil, dan bahwa yang memiliki tujuan baik selalu menjadi pemenang. Ini sesuai moto hidup saya “Tiap orang entah kaya atau miskin, hitam atau putih, sebenarnya dalam diri mereka terpancar wajah Allah.”  Maka, setiap masalah kekerasan yang dialami  perempuan dan anak selalu kami terima. Kalau ada laporan dari korban, langsung tim meluncur ke lokasi kejadian, tanpa mempertimbangkan suku, usia, agama, ras dan jenis kelamin korban itu.

Bagaimana perhatian pemerintah daerah terhadap perjuangan TRUK-F?

Jujur saja, pemerintahan yang telah lewat kurang memberikan apresiasi terhadap perjuangan kami. Kami tidak mendapatkan suntikan dana untuk melancarkan kegiatan sosialisasi tentang kekerasan terhadap anak dan perempuan. Selama ini, kami membina kerja sama dengan tim Karitas Jerman yang juga bergerak di bidang kemanusiaan. Namun, pemerintah daerah sekarang sungguh memberikan angin segar, karena selalu mengikuti dan membantu menangani persoalan kekerasan terhadap anak dan perempuan. Selain itu, kami mengharapkan kerjasama pihak pendidik, khususnya guru agama dan guru BP untuk membantu memantau dan mendampingi anak-anak sekolah yang rentan akan kekerasan seksual.

Sekarang suster sudah berusia 72. Tanggal 8 Juli 2014 suster merayakan pesta emas hidup membiara. Siapa yang akan melanjutkan karya suster ini?

Saya yakin dan percaya, karena tugas ini sangat mulia, maka Tuhan tidak akan menutup mata. Pasti  selalu ada orang yang menggantikan saya, entah seorang awam atau suster. Bagi kami, kegiatan kemanusiaan yang selama ini dijalani adalah juga merupakan tugas panggilan, dan ini sudah  mendapat restu dari Kapitel SSpS Provinsi dan Kapitel Jenderal SSpS Pusat di Roma.***

 

 

Tinggalkan Pesan