Suasana-pembukaan-sidangrs-702x336

Para uskup dari seluruh 37 keuskupan di Indonesia sedang menghadiri sidang tahunan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) di Jakarta, namun setelah melewati tiga hari pertama sebagai hari studi, mereka sudah sepakat bagaimana bentuk Gereja yang ideal di masa kini.

Setelah mendengar berbagai masukan dan setelah berdiskusi tentang wajah Gereja Indonesia yang ideal di masa kini, para uskup akhirnya menemukan jalan baru bagi perjalanan Gereja Indonesia, tulis laporan yang dikirimkan kepada PEN@ Katolik oleh Sekretaris Eksekutif Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) KWI, Pastor Kamilus Pantus Pr.

“Setelah mengikuti proses studi selama tiga hari, mereka menemukan jalan baru bagi perjalanan Gereja Indonesia, yakni membaharui dan menguatkan kembali kesegaran asali injil, menumbuhkan jalan baru, kreativitas terbuka, dengan bentuk pengungkapan yang berbeda dan dengan tanda dan kata yang semakin meyakinkan bagi manusia dewasa ini,” kara Pastor Kamilus.

Semua itu hendak mereka lakukan demi mencapai Gereja ideal di masa kini yakni, “Gereja yang hidup dalam persekutuan dengan Allah Tritunggal. Persekutuan itu menjadi sumber kegembiraan dan suka cita sejati yang mendorong Gereja mewartakan khabar sukacita kepada segala bangsa; Gereja yang keluar dari dirinya sendiri, menjumpai orang-orang, menghadirkan cintakasih dan kegembiraan, perdamaian dan keadilan, persatuan dan persaudaraan sejati; dan Gereja yang peka terhadap bisikan Roh Kudus, daya kekuatan yang memantapkan iman, meneguhkan iman akan masa depan yang lebih baik, mempererat persaudaraan dan Allah menjadi segalanya bagi semua.”

Sidang Tahunan 2014 Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dibuka secara resmi oleh Ketua Presidium KWI Mgr Ignatius Suharyo di Gedung KWI, Jalan Cut Mutiah, Jakarta, 3 November 2014. Acara pembukaan yang juga disertai Ibadat Sabda itu dihadiri semua 36 uskup dari seluruh Indonesia, juga Yulius Kardinal Darmaatmadja SJ, tiga uskup emeritus dan administrator apostolik Keuskupan Agung Samarinda, serta Dubes Vatikan untuk Indonesia Mgr Antonio Guido Filipazzi. Dirjen Bimas Katolik Kementerian Agama Agustinus Tungga Gempa dan Sekretaris Umum PGI Pendeta Gomar Gultom ikut hadir.

Dalam sambutannya, Duta Vatikan menekankan perubahan pimpinan di beberapa keuskupan seperti di Bogor, Bandung, dan Pontianak, serta perlunya kerja sama dan pertukaran informasi untuk menetapkan tiga uskup baru di tiga keuskupan lainnya yang uskupnya sudah mencapai usia 75 tahun, serta rencana pendirian sebuah keuskupan baru di Sumatera.

“Anda semua tahu, cara Bapa Suci menunjuk uskup-uskup baru di berbagai keuskupan Indonesia  sungguh merupakan upaya cukup pelik. Dalam tugas ini, sangatlah penting kerjasama di antara para uskup sendiri, karena pendapat mereka memiliki bobot tinggi bagi Tahta Suci,” kata Duta Vatikan.

Mgr Suharyo yang baru pulang dari Vatikan untuk menghadiri Sinode Luar Biasa tentang Keluarga mengajak semua uskup peserta sidang untuk berkaca pada semangat pembaharuan yang sedang hangat-hangatnya dihidupi oleh Paus Fransiskus, yakni “sosok Gereja yang keluar dari lingkungan zona aman sendiri dan pergi serta datang menjumpai masyarakat manusia dalam situasi hidupnya yang riil.”

Menurut catatan Pastor Kamilus, kegiatan hari studi para uskup dikemas secara dinamis, sehingga para uskup tidak hanya menjadi pendengar yang pasif tetapi juga aktif bertanya dan terlibat dalam tanya jawab, diskusi kelompok dan presentasi hasil diskusi. Hari studi berlangsung dari tanggal 3 hingga 5 November 2014. Selanjutnya hingga tanggal 13 November para uskup membahas beberapa hal, khususnya karya pastoral uskup, dan mendengarkan laporan dari komisi-komisi di KWI.

Narasumber hari studi adalah Achmad Fedyani Saifudin, Pastor Eddy Kristiyanto OFM, Suster Sesilia Widiastari CB, Suster Tasiana Eny R RGS, dan Pastor Telesporus Krispurwana Cahyadi SJ. Prof Saifudin, seorang Muslim, mempresentasikan materi berjudul “Membangun kerukunan umat beragama pada masyarakat plural dari perspektif sosial budaya” yang melukiskan pluralisme budaya sebagai salah satu ciri masyarakat bangsa Indonesia. Pastor Kristiyanto membahas harapan Konsili Vatikan II dan para Bapa Suci mengenai misi Gereja, sedangkan para suster Carolus Boromeus mensharingkan pengalaman pastoral mereka bersama para pengidap virus HIV/ AIDS, dan para suster Gembala Baik memberikan harapan positif di tengah aib dan stigma buruk bagi penderita HIV/AIDS dan korban penyalahgunaan narkoba. Komunitas Sant’Egidio yang berpusat di Roma membagikan pengalaman mereka dalam mendampingi anak-anak jalanan.

Pastor Krispurwana mengajak para uskup untuk mendalami apa yang menjadi harapan Bapa Suci “Spiritualitas perjumpaan sejati, Gereja yang gemar dalam pelayanan, Gereja yang membuka diri, pemimpin Gereja yang keluar dari zona nyaman adalah kata kunci yang menjadi harapan dan teladan baik yang dihidupi Paus Fransiskus sekaligus menjadi cita-cita yang ingin dihidupi para pemimpin Gereja Indonesia,” tulis laporan Pastor Kamilus. (paul c pati)

Discussion-among-bishops-1-ok-e1415190671880 diskusi ttng karya pastoral

3 KOMENTAR

  1. Saya dukung sidang KWI dalam doa2 saya. Harapan saya: bapak2 Uskup juga memberi perhatian akan siatuasi reel…’praktek aborsi yg semakin banyak’, UU ttg ‘Aborsi’ di Indonesi
    a dan harapan saya bapak-bapak Uskup tidak melupakan pesan Humanae Vitae (1968) 46 tahun lalu. Berilah perhatian dan dukungan kepada perjuangan kami (PUSIMOB NASIONAL-WOOMB INDO- NESIA) yakni: mengumatkan KBA-MOB. Semoga…

  2. Walaupun sdh telat, namun saat ini sdh boleh action, kasihan banyak yg pindah kekandang tetangga,
    Buatlah perubahan, jangan monoton, iklan, promosi, service terhadap umat harus ditingkatkan.
    Pastor n uskup harus dekat dgn umatnya, contoh tuh Jokowi

Tinggalkan Pesan