20141026_102234

Seorang pemudi tampil dalam sendratari kebangsaan dan ke-Bhineka-Tunggal-Ika-an yang dinarasikan oleh Chatarina Windar Herlita Swari dalam perayaan penutupan Kongres Persaudaraan Sejati Lintas Iman Keuskupan Agung Semarang di Muntilan, 24-26 Oktober 2014, lalu membacakan “Deklarasi Muntilan” yang merupakan buah-buah kongres itu.

“Kami peserta Kongres Persaudaraan Sejati Lintas Iman di Muntilan sungguh bersyukur karena kami boleh mengalami perjumpaan yang indah, pembelajaran lintas iman, sharing lintas iman dalam persaudaraan yang penuh semangat berbagi kebahagiaan dan damai,” Aloysia Nindya Paramita membaca butir pertama deklarasi itu.

10 narasumber dari enam agama yakni Islam, Hindu, Buddha, Konghucu, Protestan dan Katolik (Mgr Johannes Pujasumarta), serta dari penghayat agama asli Bumi Pertiwi Sedulur Sikep yang mengklaim  agamanya sebagai “Agama Adam” yang berbasis pelestarian keutuhan alam ciptaan, lanjut Aloysia, “meneguhkan kami  bahwa persaudaraan sejati adalah mimpi dan cita-cita yang menjadi kerinduan hidup setiap orang beriman.”

Karena itu, lanjutnya, mereka sadar bahwa beragama dan menganut kepercayaan saja belum cukup. “Kami harus menjadi semakin beriman yang melampaui perbedaan dan bersatu dalam semangat kebangsaan, membangun Indonesia yang ber-Bhinneka Tunggal Ika.”

Untuk membulatkan semangat kebangsaan, tulis deklarasi itu, mereka akan terus belajar memahami dan mengamalkan ajaran agama dan kepercayaan mereka masing-masing, serta hidup baik secara pribadi, dalam keluarga, dalam komunitas agama dan kepercayaan masing-masing.

“Kami juga akan melengkapi diri dengan menggiatkan dialog, baik dialog karya, dialog ajaran, maupun dialog iman dengan saudara-saudari lintas iman agar kehidupan ini menjadi semakin genap dan lengkap,” janji mereka seperti tertulis dalam deklarasi kongres yang melibatkan 812 peserta dan panitia.

Selanjutnya, Aloysia membaca “Kami akan meneruskan kabar baik ini di keluarga, lingkungan, tempat asal, tempat karya, komunitas agama dan kepercayaan kami masing-masing dan akan terus melanjutkan jejaring relasi lintas iman yang telah terbentuk dalam Kongres Persaudaraan Sejati Lintas Iman ini.”

Menurut Pastor Aloys Budi Purnomo Pr, Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang yang juga ketua panitia kongres itu, selain peserta, ada 250 anak, remaja dan orang muda ikut dalam selebrasi budaya pada sesi penutupan. “Belum termasuk ratusan lainnya yang terlibat dalam pentas seni budaya lintas iman pada malam pertama dan kedua kongres yang dipusatkan di Kompleks SMA PL van Lith dan Lapangan Pemda Muntilan itu.”

Kongres Persaudaraan Sejati Lintas Iman itu, jelas imam itu, adalah kongres pertama dalam sejarah Keuskupan Agung Semarang khususnya, bahkan dalam konteks nasional, regional maupun global. “Belum pernah terjadi suatu kongres persaudaraan sejati lintas iman yang melibatkan bukan hanya pemeluk agama-agama, tetapi juga penganut aliran kepercayaan dan penghayat kebatinan.”

Juga disampaikan, kongres itu bersifat kerakyatan, bukan proyek untuk menghabiskan anggaran. “Itulah sebabnya, kongres ini tidak dilaksanakan di hotel berbintang, melainkan di kompleks pawiyatan, dengan segala kesederhanaan dan keterbatasan namun tetap dalam suasana persahabatan dan persaudaraan.”

Selain deklarasi, kongres dalam suasana animatif dengan selebrasi artistik kultural dengan lantunan tembang-tembang macapat dan tarian Sufi itu mengeluarkan penegasan bersama dan rekomendasi.

“Pertama, peserta merasa  bersyukur, bahagia, dan damai atas kongres ini dan boleh ikut serta aktif di dalamnya. Kedua, sebagian peserta ingin dan rindu kongres seperti ini bisa dilaksanakan setiap tahun, syukur bila bisa secara nasional. Ketiga, mereka pun ingin terus mengembangkan diri dalam proses dialog dan mewartakannya sebagai bagian dari iman,” demikian Pastor Budi Aloys.(paul c pati)

kongres-persaudaraan-sejati-lintas-iman-1-1024x576

Tinggalkan Pesan