Diwali

Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama menyalami semua umat Hindu yang memeriahkan Hari Raya Diwali atau Deepavali tanggal 23 Oktober 2014 dengan berharap agar “Cahaya Transenden menerangi hati, rumah dan komunitas kalian, dan agar semua perayaan kalian memperdalam rasa memiliki satu sama lain dalam keluarga dan lingkungan kalian, sehingga kerukunan dan kebahagiaan, kedamaian dan kemakmuran bertambah.

Diwali atau Deepavali adalah hari raya terbesar umat Hindu di India yang dirayakan pada bulan Aswayuja menurut kelender Caka Hindu atau sekitar bulan Oktober-November pada kalender Gregorian.  Perayaan itu digelar selama lima hari dengan menyalakan berbagai cahaya sehingga dikenal sebagai Pesta Cahaya. Diwali berasal dari bahasa sansekerta yang artinya “barisan cahaya.”

Ucapan selamat itu disampaikan dalam Pesan kepada Umat Hindu untuk Pesta Galungan 2014 dengan judul: “Umat Kristen dan Umat Hindu: Bersama meningkatkan budaya inklusi,” yang ditandatangani oleh ketua dan sekretaris Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama, Kardinal Jean-Louis Tauran dan Pastor Miguel Ángel Ayuso Guixot MCCJ.

Untuk tahun ini, dewan kepausan itu mengajak umat Hindu untuk bersama meningkatkan budaya inklusi. “Menghadapi meningkatnya diskriminasi, kekerasan dan eksklusi, ‘meningkatkan budaya inklusi’ bisa sungguh dilihat sebagai salah satu aspirasi paling murni.”

Dikatakan bahwa globalisasi telah membuka banyak batas baru dan memberikan kesempatan segar untuk membangun, antara lain, fasilitas pendidikan dan kesehatan yang lebih baik. Globalisasi telah membuat manusia lebih sadar akan demokrasi dan keadilan sosial di dunia, dan planet kita telah benar-benar menjadi ‘desa global.’

Namun bisa juga dikatakan bahwa globalisasi belum mencapai tujuan utamanya yakni mengintegrasikan masyarakat lokal ke dalam komunitas global. Sebaliknya, “globalisasi ikut membuat banyak orang kehilangan identitas sosial budaya, ekonomi dan politik mereka.”

Efek negatif dari globalisasi, tulis pesan itu, juga berdampak pada umat beragama di seluruh dunia karena mereka sangat erat terkait dengan budaya sekitarnya. “Kenyataannya, globalisasi ikut membuat fragmentasi masyarakat dan peningkatan relativisme dan sinkretisme di bidang keagamaan, serta menimbulkan privatisasi agama,” tulis pesan itu.

Fundamentalisme agama serta kekerasan etnis, suku dan sektarian di berbagai belahan dunia saat ini sebagian besar merupakan manifestasi ketidakpuasan, ketidakpastian dan ketidakamanan di kalangan masyarakat, khususnya orang miskin dan jauh dari manfaat globalisasi.

Selain itu, konsekuensi negatif dari globalisasi, seperti meluasnya materialisme dan konsumerisme, “membuat manusia lebih egois, haus kekuasaan dan acuh tak acuh terhadap hak, kebutuhan dan penderitaan orang lain.”

Dalam kata-kata Paus Fransiskus, dikatakan bahwa globalisasi menyebabkan “globalisasi ketidakpedulian.” Keadaan itu, lanjutnya, perlahan-lahan membuat kita terbiasa dengan penderitaan orang lain dan menutup diri.” Paus pernah mengatakan bahwa ketidakpedulian menimbulkan ‘budaya pengecualian,’ di mana hak orang miskin, terpinggirkan dan rentan ditolak. Eksploitasi anak-anak dan perempuan, pengabaian orang tua, orang sakit, orang berkemampuan berbeda, kaum migran dan pengungsi, serta penganiayaan kelompok minoritas adalah indikator yang pasti tentang budaya eksklusi.

Maka, menurut dewan kepausan itu, meningkatkan budaya inklusi menjadi panggilan dan tanggung jawab bersama, yang harus segera dilakukan. “Ini adalah proyek yang melibatkan orang-orang yang peduli pada kesehatan dan kelangsungan hidup keluarga manusia di sini di bumi,”

Dewan itu berharap agar umat Hindu dan Kristen bersama-sama pengikut agama-agama lain dan orang-orang yang berkemauan baik meningkatkan budaya inklusi demi masyarakat yang adil dan damai. (pcp)

ayuso1_270x250(1) Tauran

Kardinal Jean-Louis Tauran (kanan) dan Pastor Miguel Ángel Ayuso Guixot MCCJ (kiri)

Tinggalkan Pesan