Persaudaraan Sejati

Menyiapkan umat membangun dan mengembangkan persaudaraan sejati yang menembus sekat-sekat perbedaan agama dan kepercayaan, menjadi penggerak persaudaraan sejati di komunitasnya maupun lingkungannya baik paroki, masyarakat, kampus maupun kelompok kategorial lainnya, serta menjadi pelaku-pelaku dialog dan persaudaraan lintas iman menjadi tujuan Kongres Persaudaraan Sejati Lintas Iman se-Keuskupan Agung Semarang (KAS).

Kongres yang akan dilaksanakan di Kompleks Misi Muntilan, yang meliputi Pusat Pastoral Sanjaya Muntilan (PPSM), Museum Misi Muntilan (MMM), dan SMU van Lith Muntilan, tanggal 24-26 Oktober 2014 itu juga bertujuan untuk menanamkan kesadaran umat untuk menghormati perbedaan, serta menciptakan ruang dan kesempatan pembelajaran bersama.

Tujuan-tujuan yang dibingkai dalam satu tema “Merajut Persaudaraan Sejati Lintas Iman: Beriman Cerdas, Tangguh dan Misioner” diharapkan dicapai setelah peserta kongres terlibat dalam tiga matra dasar, yakni edukasi, animasi dan selebrasi.

Untuk edukasi, panitia siapkan 10 narasumber, Uskup Agung Semarang Mgr Johannes Pujasumarta,  Abdis Pertapaan Gedono, Martha E Driscoll OCSO, Guru Bangsa dan Tokoh Muhammadiyah Buya Ahmad Syafii Ma’arif, Guru Bangsa dan Tokoh Buddha Teravada Bante Sri Pannyavaro Mahatera, Ketua PWNU Jawa Tengah KH Abu Hafsin PhD, Guru Bangsa dan Mantan Ibu Negara RI Ibu Shinta Nuriyah Wahid, Tokoh Hindu I Wayan Sumerta, Perwakilan Konghucu Ibu Ling Ling, Tokoh Kristen Protestan dan Dian Interfidei Elga Sarapung, dan Sedulur Sikep Sukolela Mas Gunretno.

Siaran pers yang dikeluarkan 21 Oktober 2014 oleh Pastor Aloys Budi Purnomo Pr, Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan KAS dan Ketua Panitia, menulis bahwa keberagamaan merupakan realitas nyata dalam hidup bersama sebagai warga bangsa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dengan aneka ragam budaya, agama, iman dan keyakinan.

“Keberagamaan yang dalam konteks NKRI dibingkai dengan prinsip Bhinneka Tunggal Ika menjadi daya topang masa depan bangsa yang sejahtera dalam harmoni dan kerukunan. Persaudaraan Sejati Lintas Iman bukanlah sekadar impian melainkan kenyataan yang senantiasa kita hidupi bersama,” tegasnya.

Dalam realitas itu, lanjut siaran pers itu, “kita menyadari bahwa setiap orang diundang untuk mengembangkan sikap terbuka terhadap realitas keberagamaan yang ada di hadapan kita.”

Untuk animasi dan selebrasi, kongres diisi gelar budaya lintas iman yang menampilkan Sholawat Remaja Masjid Pule, Pemutaran Film Yustinus Kardinal Darmayuwo, Pagelaran Wayang Kulit oleh Ki Santo dan Ki Sadewo, Sholawat Pemuda Ngadipura, Tarian Sufi, Teater Jaran Iman oleh Seminari Tinggi Santo Paulus dari Kentungan, Wayang Potehi, Sendratari Persaudaraan dan Sejati Lintas Iman oleh 250 OMK, Topeng Ireng dari SMP Santa Maria Tumpang, dari “Mahesa Loreng” Paroki Ignatius Magelang, dan dari Dusun Kemiriombo Dukun, Jathilan dari Dusun Pepe Muntilan, Reog dari Dusun Ngargotontro Dukun, dan Kesenian Pencak Silat oleh Banser NU Muntilan-Magelang.

Dalam rangka HPS, 24 Oktober, di lapangan Pemda Muntilan diadakan upacara pembukaan oleh Bupati Magelang, dimeriahkan oleh Modern Dance TK PL Muntilan. Besoknya di tempat yang sama ditampilkan Gejok Lesung dan Angklung Jalanan untuk mengiringi Lomba Penyajian Makan Sehat oleh Ibu-Ibu Kevikepan Kedu dan Sarasehan Banyu Setrum bersama Pastor Vincentius Kirjito dan tim.

Menurut catatan panitia, kongres itu diikuti 687 peserta dari agama Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu dan Penghayat Kepercayaan dan Kebatinan (Agama-Agama Asli Pertiwi). Bersama panitia sebanyak 125 orang, total yang akan terlibat dalam hajatan itu sebanyak 812 orang.

Peserta dari Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan beberapa utusan dari Malang, Bandung, Bogor, Jakarta, dan Pangkalpinang terdiri dari kalangan kaum muda dan dewasa, awam dan rohaniwan, dan beberapa biarawan dan biarawati. (paul c pati)

Tinggalkan Pesan