profughi_Yagoua

BANGUIM, Kamerun (Agenzia Fides) – “Di utara Kamerun masih berlangsung perang diam yang diketahui oleh sedikit orang tetapi memiliki konsekuensi kemanusiaan yang serius,” kata Saudara (Friar) Fabio Mussi dari Institut Kepausan untuk Misi Asing (PIME, Pontifical Institute for Foreign Missions) kepada Fides Agency.

Misionaris itu bekerja di ujung utara Kamerun, di perbatasan dengan Nigeria dan Chad, tempat terjadinya serangan kelompok Nigeria, Boko Haram. “Di ujung utara Kamerun, di Provinsi Logone-Charie, saja terdapat 40.000 pengungsi baik dari Kamerun juga dari Nigeria. Jumlah ini dua kali lipat lebih besar di bagian yang lebih selatan,” kata misionaris itu.

“Tentara Kamerun telah dikerahkan di sepanjang perbatasan untuk mencoba mencegah serangan-serangan di wilayah Kamerun yang dilakukan oleh anggota Boko Haram untuk mencari makanan. Hal ini karena tentara Nigeria telah menguasai daerah-daerah yang dikendalikan oleh Boko Haram di Nigeria utara seraya menghalangi suplai makanan. Setelah menjarah sebisa mungkin di daerah-daerah Nigeria, Boko Haram mulai menyerang pasar-pasar Kamerun.”

“Komunitas PIME telah memutuskan untuk tetap berada dalam situasi kritis ini dengan segala konsekuensi,” kata Saudara Mussi.

“Gerejalah satu-satunya institusi yang tertinggal untuk memberikan bantuan kemanusiaan bagi pengungsi dan orang-orang yang terlantar. Organisasi-organisasi internasional telah ditarik dengan alasan keamanan. Kita, sebagai Gereja di Kamerun, mengirimkan makanan dan bersiap-siap menggali sumur di daerah-daerah yang diputuskan pihak berwenang untuk membangun kamp-kamp penampungan pengungsi,” kata misionaris itu.

Saudara Mussi menegaskan bahwa “penduduk merasa kuatir karena situasi itu baru bagi mereka. Sampai dua tahun lalu, Kamerun dianggap sebagai pulau kebahagiaan dalam wilayah yang tidak stabil. Sekarang ada ketidakpercayaan di kalangan non-Muslim terhadap kaum Muslim. Ini tidak adil. Boko Haram tidak mewakili semua Islam,” kata misionaris itu.

“Namun benar, pribadi-pribadi berbeda dari dunia Islam mendukung Boko Haram. Organisasi seperti ini perlu mendapatkan dana yang melampaui apa yang mereka bisa peroleh dengan penculikan dan serangan. Untuk membeli senjata-senjata yang lebih canggih, dibutuhkan uang dalam jumlah besar,” kata misionaris itu.

“Di sisi lain, kami memiliki beberapa teman Muslim yang membantu dan mendukung kami. 60% dari 7.000 siswa di sekolah-sekolah kami adalah umat Muslim. Orang tua mereka mengirim mereka kepada kami dan mengatakan bahwa mereka tidak ingin menyerah pada tekanan Boko Haram, yang namanya berarti ‘pendidikan Barat adalah haram.” (LM) (Agenzia Fides 13/10/2014)

Mussi

Foto ini adalah Saudara (Friar) Fabio Mussi dari Institut Kepausan untuk Misi Asing (PIME) dan foto di atas adalah para korban Boko Haram

 

Tinggalkan Pesan