Majenang (14)

Oleh Suster Charlie OP

Delapan bulan lalu, saya mendapat tugas baru di Paroki Santa Theresia, Majenang, yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat, dengan bahasa campuran Sunda dan Jawa Ngapak, tapi masuk wilayah Keuskupan Purwokerto. Saya tinggal di rumah susteran di tengah warga Muslim, di mana saya merasakan keramahan warga yang memang tidak asing dengan para suster dan imam.

Saat kunjungan, saya merasakan betapa besar kesan mereka tentang para imam yang pernah bekerja di paroki itu. Kehadiran sekolah TK, SMP, SMK, SMA Katolik milik Kongregasi Oblat Maria Imakulata (OMI) di paroki ini juga menjadi alasan mereka kenal baik dengan kami.

Umat paroki mini ini berjumlah 871 jiwa. Uskup Purwokerto Mgr Julianus Sunarka SJ meresmikan gereja ini sebagai paroki tanggal 1 Oktober 2010. Saya senang mengetahui bahwa paroki ini sungguh menjalankan moto, “Cor Unum, Anima Una” (Satu Hati, Satu Jiwa) dan visi “Dengan sehati sejiwa membangun Gereja sebagai persekutuan paguyuban yang hidup, dewasa, dan berdaya pikat untuk menegakkan Kerajaan Allah di tengah masyarakat.”

Buktinya, meskipun minoritas, kehadiran Paroki Santo Theresia mendapatkan tempat di hati warga sekitar dan masyarakat pada umumnya. Masyarakat masih sangat terkesan dengan para perintis paroki itu, antara lain Pastor PJC Netto MSC dan para imam Kongregasi OMI. “Saya mengenal baik Romo Pet Anali OMI, Romo Yohanes OMI, dan Romo Ngarlan Pr. Kalau Lebaran, mereka datang ke rumah,” kenang Satiman. Banyak warga mengenang keramahan para imam yang mau menyapa warga.

Uskup Purwokerto sangat memperhatikan perkembangan Paroki Majenang. Uskup lalu mengirim Pastor Sulpicius Parjono Pr dan Pastor Giovanni Kurnianto Pr, dua imam muda yang kreatif dan inovatif, yang selalu mencari terobosan dalam mengembangkan Gereja, baik segi kualitas maupun kuantitas.

Selain dua Misa di hari Minggu, setiap pagi Misa harian dirayakan pukul 05.30, meskipun yang hadir kurang dari sepuluh orang. Homili para imam, yang selalu mengupas Kitab Suci secara tuntas, tajam, dan terpercaya, sangat menyentuh hati umat, sehingga jumlah umat yang hadir dalam Misa harian bertambah karena semakin besar kerinduan mereka  akan Allah.

Ulang Tahun Paroki Santa Theresia berlangsung sangat meriah tetapi tetap anggun dan sakral. Dalam rangka ulang tahun keempat itu diadakan lomba-lomba Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN). Beberapa rangkaian kegiatan yang dilaksanakan pada hari-hari menjelang ulang tahun, antara lain, Misa Pemberkatan Salib Keluarga, Misa Novena Santa Theresia, Tata Laksana Ekaristi Kudus di paroki dan stasi disertai lomba koor, dekor, lektor, dan misdinar di lingkungan dan stasi, serta Jalan sehat.

Bertepatan dengan BKSN, juga diadakan Seminar Bibliodrama atau Dramatisasi Kitab Suci dengan narasumber Pastor Teguh Budiarto Pr, Lomba Mazze dan Teka-Teki Silang Kitab Suci untuk anak-anak PAUD dan SD, Lomba Lektor dan Lomba Dramatisasi Kitab Suci.

Tujuan perlombaan bukan semata-mata untuk mencari hadiah, tetapi lebih untuk menumbuhkan nilai keutamaan, antara lain kebersamaan, kerjasama, keterlibatan, dan kekompakan, sehingga Gereja menjadi hidup dan berdaya pikat di tengah masyarakat yang mayoritas berpenduduk Muslim. Semua itu demi membangun paguyuban atau gotong royong yang sudah mulai luntur di sana.

Jalan sehat yang diadakan setiap tahun digagas untuk membangun persaudaraan dengan warga atau masyarakat. Maka peserta jalan sehat melibatkan warga non-Katolik di sekitar paroki, para imam, para suster, dan seluruh umat paroki. Jalan sehat dimulai dari depan pastoran dengan jarak yang tidak jauh agar dapat diikuti oleh anak-anak hingga orang tua.

Saat pembagian door prize yang dipandu oleh ketua Kabid Persekutuan dari Dewan Pastoral Paroki (DPP), Nico Wahyu Widyatmoko, muncul di tengah umat Bupati H Tatto Suwarto Pamuji dan Camat Satmoko Danardono serta beberapa anggota DPRD. Tepuk tangan meriah menyambut mereka. Bupati dan camat langsung naik panggung dan didaulat membagikan door prize. Di luar dugaan, bupati menyumbangkan sejumlah uang sebagai door prize. Bupati lalu mengundang semua anggota DPRD untuk ikut naik ke panggung dan langsung ditodong menyumbang uang untuk door prize. “Bagi anggota dewan yang tidak menyumbang, jangan dipilih lagi,” bupati berkelakar. Namun, anggota dewan benar mengeluarkan uang dan kembali tepuk tangan gegap gempita terdengar. Panitia juga membagikan hadiah utama berupa dua sepeda lipat.

Misa Syukur HUT Paroki dilaksanakan tanggal 1 Oktober 2014 dipimpin oleh Kepala Paroki Pastor Sulpicius Parjono Pr didampingi Pastor Giovanni Kurnianto Pr dan Frater Theodorus. Dalam homilinya Pastor Parjono menjelaskan tentang Gereja yang hidup, dewasa, dan berdaya pikat.

“Gereja yang hidup berarti seluruh umat terlibat aktif dalam segala gerak paroki dengan cinta kasih yang tulus dan ikhlas tanpa pamrih; yang dewasa berarti memiliki sikap mandiri dan bertanggungjawab sebagai umat beriman; berdaya pikat berarti selalu menimba kekuatan dari Allah sebagai murid Kristus yang militan dan mau berbagi kasih kepada semua orang,” jelas imam itu.***

Majenang (12) Majenang (4)

Dua foto ini menunjukkan Suster Charlie OP bersama umat Paroki Majenang, sedangkan foto di atas menunjukkan Bupati Cilacap (mengangkat tangan) dan Pastor Sulpicius Parjono Pr (kedua dari kiri)

Tinggalkan Pesan