IMG_4115

 

Mengawali kunjungannya ke Ambon untuk membuka Musyawarah Nasional (Munas) XI Unio Indonesia, Duta Vatikan untuk Indonesia Uskup Agung Antonio Guido Filipazzi memberkati Patung Fransiskus Xaverius yang berdiri menghadap darat sambil mengangkat salib dengan tangan kanannya di sebuah pantai di Hative Besar, Ambon.

Patung setinggi enam meter di atas fondasi berbentuk batu setinggi dua meter itu dibangun sejak awal September untuk memperingati kedatangan orang kudus itu di Ambon, 468 tahun lalu, tepatnya 14 Februari 1546.

Pemberkatan monumen itu “hari ini dan di sini adalah sangat signifikan,” karena 1 Oktober adalah Hari Kesaktian Pancasila dengan lima nilai luhurnya, dan Hative Besar adalah sebuah negeri yang semua penduduknya beragama Protestan.

Pancasila, kata Mgr Filipazzi, adalah rujukan untuk semua warga negara Indonesia yang berbeda-beda agamanya. “Karena Pancasila, umat Islam dan Protestan serta anggota dari agama-agama lain bisa menyambut baik perayaan ini,” kata Duta Vatikan.

Maka, Uskup Agung Filipazzi berharap agar Pancasila semakin diamalkan, karena tak cukup hanya berbicara tentang Pancasila dan mewartakan nilai-nilai luhur Pancasila. “Perlu menjalani kelima sila itu dalam kehidupan sehari-hari.”

Juga signifikan, lanjut Duta Vatikan, bahwa monumen itu dibangun di wilayah Protestan. “Mungkin di saat Santo Fransiskus Xaverius, hubungan umat Protestan dengan Katolik tidak begitu damai. Tapi sekarang, sangat penting bahwa umat Katolik dan Protestan bekerja sama demi misi Yesus, karena tanpa persatuan murid-murid Yesus, kesaksian kita sangat lemah. Umat Katolik dan Protestan harus bekerja sama juga demi kebaikan masyarakat, mereka adalah anggota-anggota masyarakat ini.

Nuncio juga berharap kalau nanti umat Katolik datang lagi ke tempat itu dan melihat monumen, yang terletak di pinggir jalan raya antara Bandara Pattimura dan Kota Ambon, “ingatlah akan misionaris besar Gereja untuk Asia itu,” kalau umat Katolik dan umat Protestan melihatnya, “kenangkan bahwa kalian harus memberikan kesaksian tentang Yesus,” dan kalau umat Katolik, Protestan dan Muslim melihatnya, “ingatlah bahwa kalian harus hidup dan berkarya bersama di bawah nilai-nilai Pancasila.”

Raja Negeri Hative Besar Yohanes Helaha beserta jajaran pemangku adat itu menyambut Duta Vatikan dengan tata cara budaya, dan tarian perang dari kerajaan itu mengantar Duta Vatikan ke lokasi monumen. Raja itu berharap agar pemberkatan dan peresmian patung itu akan mendorong umat Katolik dan Protestan di negeri itu, di Kota Ambon, dan di Provinsi Maluku untuk meneladani orang kudus dari Spanyol itu.

Prasasti peresmian monumen, yang dibuka dengan penguntingan pita oleh Ibu Gubernur Maluku dan Ibu Walikota Ambon itu, ditandatangani bersama oleh Gubernur Maluku Said Assagaf, Wali Kota Ambon Richard Louhenapessy, Duta Vatikan Uskup Agung Filipazzi, dan Uskup Amboina Mgr Petrus Canisius Mandagi MSC.

Sesuai harapan Duta Vatikan agar dengan patung itu masyarakat di Maluku bisa hidup lebih baik lagi, Mgr Mandagi meminta “jangan Katolik dan Protestan bakalai-bakalai (berkelahi), juga dengan yang lain-lain, juga. Juga dengan adanya patung ini, persaudaraan umat Muslim, Katolik, Protestan dan semua agama lain terjadi dengan bagus di sini, supaya jangan lagi torang bakalai di masa yang akan datang. Nanti kalau bakai di masa yang akan datang, Fransiskus akan marah kepada kita semua.”(paul c pati)***

Tinggalkan Pesan